December 18, 2015

Stroberi Rasa Perjuangan: Coba-Coba Bercocok Tanam Stroberi


Kecil, dan merah, dan lezat. Yup, benar sekali. That’s my lovely strawberry! Atau bahsa kerennya Fragaria daltoniana. Siapa bilang si merah imut itu nggak bisa hidup di kota macam Bengkulu?
Ternyata stroberiku udah berbuah ‘lagi’ aja dong, hehee..(petik-petik buah). Lagi? Iya, soalnya ini udah kali ke lima tanaman kesayangan ini menghasilkan buah. Mau? Hayuuk, mampir. Nanti aku bagi-bagi..
Buahnya nggak banyak sih, tapi udah cukup buat memuaskan selera bulananku. Karena buah merah ini termasuk favorite aku sejak kecil. *Eh, itu favorite selain alpukat deh kayaknya. Dulu aku bilangnya buah tahunan, karena semacam stroberi ini nggak dijual di pasar-pasar sini. Biasanya aku beli kalo liburan ato lebaran ke rumah nenek di Surulangun. Jadi bus yang kita naikin itu rutenya melewati Curup, nah waktu bus berhenti di terminal Curup, disana banyak pedagang yang nawarin macam-macam makanan ke penumpang, termasuklah stroberi.
Wah, kok bisa kepikiran buat bertanam stroberi sih? Awal pertengahan tahun 2014 lalu, ibuku tiba-tiba kepikiran buat menanam stroberi ini di halaman rumah. Kita sempat bingung juga gimana cara dapat bibitnya. Apa iya harus minta dikirim dari Curup? Kita sempat nanya ke toko bunga  di dekat rumah, eh si empunya toko malah menawarkan bibit  buah anggur.
Beruntung--Setelah mencari ke mana-mana dan nggak ketemu, setelah satu bulan memendam keinginan bercocok tanam stroberi--akhirnya kita menemukan seorang penjual bibir stroberi di pasar Panorama. Harganya Rp. 10.000 per satu polybag anakan stroberi yang masih sangat kecil.
Kita beli satu polybag doang, karena baru coba-coba. Ditaruhlah polibek itu di belakang rumah oleh Ibuku, di balik tumpukan papan yang sama sekali nggak terpapar sinar matahari. Maklum, pikiran awam dulu, dikira stroberi nggak boleh kena sinar matahari. 
Tapi nggak sampe satu minggu, stroberinya udah mati aja. Awalnya diinjak-injak ayam tetangga, tapi itu cuma ngebuat daunnya patah sih. Yang benar stroberinya mati karena kekurangan cahaya matahari, lama-lama daunnya jadi cokelat semua, dan akhirnya mati.
Kita belom nyerah nih, berhubung orang yang jual bibitnya belom pindah, kita beli lagi dong. Dengan harga yang masih sama.
Kedua kalinya, polybag-nya masih di taruh di belakang rumah. Tapi yang ini udah nggak di balik papan lagi, tapi di dekat tanaman-tanaman mawar. Nah, tempatnya sangat terpapar sinar matahari.

Oke, seminggu.. dua minggu.. Masih hidup ternyata, tapi kok jumlah daun atau diameter bongkotnya pun nggak nambah-nambah ya? *lupakan dulu, syukur aja stroberinya masih hidup. Aku kira kita udah berhasil, tapi ternyata bencana datang saat memasuki minggu ke tiga. Karena sibuk sama tugas sekolah, aku jadi lupa sama yang di belakang. Jadilah tanamanku ini kekeringan, hingga pada akhirnya pun mati.
Oke, kita belom nyerah juga. Untuk kali ke tiga kita datang lagi ke penjualnya. Eh, dianya udah hapal sama wajah kita. Langsung aja dia sodorin bibitnya. Kali dia seneng yah kita ke sana mulu. Hahaa..
Aku pikir tempat yang langsung terpapar sinar masih belum jadi tempat yang strategis buat naruh polybagnya, soalnya stroberi yang kemaren aja udah dua minggu nggak ada perubahan apapun.
Jadilah buat yang ke tiga ini kita memilih tempat yang... mungkin cocok lah sama karakter tanaman ini. Dimana? Di balik sumur, hiaaakk!!! Iya, tempat yang dingin dan cuma terpapar sinar  matahari di waktu sore aja. Kalo siang, panasnya sekadar pantulan.




Saatnya menunggu hasil. Satu minggu, dua minggu, sebulan. Daaaaaan...... Akhirnya berhasil. Ternyata di balik sumur adalah tempat yang strategis untuk stroberi.
Tanamannya jadi subur banget malah. Padahal baru satu bulan, udah ada sulur yang keluar. Asli, awalnya aku kira itu bakal buah, eh ternyata malah anakan baru.
Jadi, sulur  itu semacam tunas baru yang muncul dari batang stroberi, dan di ujungnya nanti bakal muncul bongkol dengan serabut akar-akar kecil. Itulah yang di sebut anakan stroberi, atau dikenal sebagai bibit baru stroberi. Terkadang, dalam satu sulur bisa menghasilkan lebih dari satu anakan baru loh. Bisa dua atau bahkan tiga sekaligus.


Karenanya hanya dalam waktu dua bulan, aku udah punya delapan polybag stroberi. Dimana dalam satu polibek itu ada yang berisi sampe tiga anakan baru, hehee. Dalam waktu singkat, halaman kecil di belakang rumahku berubah jadi kebun stroberi.


Ternyata sodara-sodara, ada tips-tipsnya biar stroberi itu tumbuh subur di halaman rumah.
Yang pertama, mintalah restu dari sang penjual bibit. Eh, seriusan loh. Waktu kita datang ke penjualnya untuk yang ke tiga kalinya, si Bapak penjual bilang ‘semoga yang ini bisa tumbuh subur’ dan ternyata memang bener. Percaya? Entahlah.. yang jelas nggak ada salahnya di coba, kan. Karena ketika melakukan sesuatu dengan restu, kemungkinan berhasilnya lebih besar.
Lalu, taruhlah tanaman itu di tempat yang tidak terpapar sinar matahari secara langsung. Seperti aku yang meletakkannya di balik sumur. Sebenarnya ini semacam proses adaptasi dengan lingkungan, karena beberapa bulan kemudian aku sempat memindahkan polybag stroberi ke tempat sebelumnya itu, dan ternyata masih tetap subur, kok. Dan keuntungan lainnya menaruh di balik sumur, saat kita lupa menyiram beberapa hari, stroberinya nggak bakal mati, paling-paling cuma layu doang.
Dan yang terpenting, siramlah paling enggak satu kali dalam sehari. Sebenarnya sama aja sih dengan tanaman lainnya, kalo nggak disiram nanti bakalan kekeringan, kalo terlalu banyak disiram juga bakal busuk tanamannya. Intinya, sepintar-pintarnya kita yang ngatur, dan tergantung cuaca juga.
Yang nggak kalah pentingnya, berilah pupuk agar cepat berbuah. Menanam stroberi dan nggak berbuah kan sama aja bohong.
Dan sebenarnya, ini yang jadi masalahku. Awalnya aku cobain dengan pupuk ekstrak ampas jamu yang dibeli di toko pupuk. Entah apa merknya, aku udah lupa. Tapi bukannya berbuah, malah stroberiku numbuhin banyak banget sulur baru. Bahkan dalam satu hari ada puluhan anakan baru yang tumbuh. Awalnya oke aja karena kita punya banyak stock polybag kosong. Tapi lama-lama kan nyebelin juga. Yakali halamanku penuh sama anakan stroberi yang nggak berbuah-buah.
Omong-omong soal sulur, sedikit tips kalo stroberi udah numbuhin sulur, sebaiknya cepat-cepat di potong dan dipindahin ke polibek lain. Saoalnya kalo dibiarin lama-lama, Induk stroberi bakalan kerdil, karena makanan disalurkan ke anakan stroberi.
Jadilah selama beberapa bulan, halamanku penuh sama anakan stroberi. Itu aja udah banyak banget yang aku buang. 
Minggu berikutnya, aku dan ibu kembali menemui sang penjual bibit untuk menanyakan perihal pupuk.
"Pake air tape aja, buk" Kira-kira begitu saran dari sang penjual.
Pulang ke rumah, ide air tape tersebut pun segera dilaksanakan. Ternyata saran penjual itu cukup berhasil juga. Meskipun sulurnya nggak berhenti keluar, tapi ada salah satu yang akhirnya menjadi bunga.
Heheee, namanya sih berhasil, bukan cukup berhasil :p
Oke, bunga pertama.

Setelah sempat searchingan soal stroberi ini, katanya bunga pertama itu sebaiknya dibuang dulu. Berhubung aku udah ngebayangin rasa buah pertama, *kan sayang udah jamuran nungguin bunga ini muncul, terus dibuang. Jadilah aku abaikan saja tips yang itu.
Kelopak bunga satu-persatu gugur hingga yang tersisa bagian tengahnya doang. Itulah yang jadi semakin besar tiap hari dan jadi buah stroberi.
Saat stoberi ini berbunga, sebaiknya berikan perhatian khusus. Salah-salah kalo kekurangan air, buuahnya bakalan kerdil dan jadi kecil banget.
Inilah jadinya saat udah masak,


Kalo udah merah begitu, saatnya dipanen.

Bicara soal rasa, rasanya asam-asam manis dan segaaaar. Buah stroberiku kini, ukurannya juga nggak terlalu besar seperti stroberi pada umumnya. But its okey, kan tetap saja namanya 'buah stroberi'. Saat buah pertamanya mateng, aku yang seneng banget dong. Akhirnya bisa ngerasain buah perjuangan, huhuu!

Dan sekarang, dalam satu batang stroberiku udah bisa menghasilkan tiga buah sekaligus. Muehehee..
Ada yang mau nyoba? Jangan khawatir gagal. Percaya deh, buah pertama bakal berkesan banget kalo menanamnya penuh perjuangan. Hiaaa... selamat mencoba, jangan lupa sama tips-tips diatas yaak.

Oke, berhubung artikel udah selesai. Mari sikat stroberinya!!!
Katanya mau bagi-bagi? Iya sih, tapi pincess lapar, gimana dong :p

December 08, 2015

Good Bye 2015

 MotoGP musim 2015 telah berakhir pada 8 November yang lalu, dan test awal untuk musim 2016 juga udah berjalan beberapa hari kemudian. Sekarang saatnya para pebalap menikmati liburan akhir tahun termasuk juga pebalap team Repsol Honda satu ini, Dani Pedrosa. Di blognya, Dani menjawab beberapa pertanyaan pilihan dari fans sebagai ucapan ‘sampai jumpa di musim depan’ sekaligus terima kasih atas dukungan mereka. Tulisan tersebut merupakan yang terakhir untuk tahun ini dan Dani baru akan menulis kembali saat Musim 2016 dimulai Maret mendatang. Apa saja yang ditanyakan para fans kepada penyandang nomor 26 itu? Pertanyaannya cukup unik. Mulai dari warna favoritnya, Sirkuit kesukaan, sampai perkiraan dirinya di tahun 2016 mendatang.“My Favorite colour is blue” tulis Dani. Dani memang menjadi penyuka warna biru sejak dia masih kecil, doi pernah ditanya dengan pertanyaan sama saat masih berstatus pebalap 125cc, dan jawabannya tetap saja dia suka warna biru. Lalu pertanyaan berikutnya adalah tentang kebiasaannya sebelum memulai balapan. Jawaban Dani cukup sederhana, berusaha untuk fokus dan tetap berada si sekitar teamnya adalah pilihannya untuk bisa memompa semangat saat race. Bagaimana dengan sirkuit Favorite? Dani menjawab salah satu favoritenya adalah Motegi, Japan. Dan tentu saja yang paling tidak disukainya adalah sirkuit Losail, Qatar. Bicara soal Losail, Dani memang belum pernah meraih hasil yang sangat bagus di sirkuit Qatar ini selama berkarir di dunia MotoGP sejak 2006 lalu.Jawaban yang diberikan Little Samurai ini selalu saja menarik, apalagi saat ditanya apa yang suka dia lakukan saat musim dingin disamping bekerja? Jawabannya tidak jauh-jauh dari dunia olahraga, namun bukannya balap motor atau semacamnya, Dani lebih suka untuk berselancar saat musim dingin. Disamping itu Dani juga menyebut suka untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya dan belajar tentang hal-hal yang membuatnya tertarik.Saat ditanya bagaimana firasatnya mengenai tahun 2016 nanti yang diawali dengan angka 2 dan diakhiri dengan angka 6 (nomor yang digunakannya), pertanyaan yang tentu saja menjurus ke  artian ‘apakah dia akan menjadi juara dunia di tahun depan?’. Dani menjawab dia akan selalu berusaha mewujudkan harapan itu. Sebagai tambahan, Dani menulis dia akan segera terbang ke Jepang untuk mengahdiri event Honda dan menutup musim di sana. Namun pastinya, di samping itu, Dani akan menikmati waktu berlibur juga. Wah, selamat bersenang-senang Bang!

Alvaro: Tentang Jatuh dan Cinta



Aku ingin menceritakan padamu tentang Alvaro; teman satu sekolahku, cinta monyetku. Eh, aku bukannya jatuh cinta sama monyet, tapi sama Alvaro. 

Bukankah selalu aneh jika bicara soal cinta? Sebab hingga kini, cinta masih tidak kenal memilih, tidak pernah menunggu kapan hadirnya, dan akan selalu begitu.

Aku takut untuk jatuh cinta dengan cara sederhana, karena konon katanya aku akan patah hati dengan suatu hal sederhana pula. Aku sepaham dengan prinsip bahwa jatuh cinta tidak butuh alasan; Cinta tanpa karena.

Kisah singkat ini bermula pada bulan Mei. Siang ini cerah. Di antara keramaian yang berbaur, tangan-tangan saling memukul benda sebentuk bulan purnama berwarna biru tua dipadu kuning, benda itu silih berganti bergerak bolak-balik melewati pembatas, kadang-kadang melambung tinggi, lalu didekati, dipukul lagi, dan berakhir menghantam tanah. 

Semerbak bau keringat menyesaki hidung persis saat aku melewati lapangan voli. Anehnya banyak sekali yang bergabung dalam kotak segi empat tersebut, melebihi jumlah pemain sepak bola. Atau sebenarnya tidak aneh, karena ini adalah liga antar vampire-vampire ganas dalam rangka memperebutkan darah suci sang beruang madu. Tapi di antara bau asam campur-campur parfum kodok kadalwarsa tersebut, aku mencium bau bangkai nyamuk yang luar biasa nggak ada busuknya sama sekali. Oke becanda. Mari serius. Aku ulang ya. Di antara bau asam keringat campur wangi ketiak tersebut, hidungku menyesap aroma fresh yang begitu kental. Sontak hidungku meraba-raba asal bau tersebut. Rupanya berasal dari gerombolan pejuang harga diri di lapangan voli itu. 

Aku pun beranjak menuju bangku jauh di pinggir lapangan. Bangku paling ujung telah dihuni teman-teman gilaku yang lagi mengobrol pasal kucing imut milik tetangganya Marc Marquez.

"Udahan dari perpustakaannya?" Temanku menyadari kehadiran makhluk gaib macam aku yang selalu sukses bikin mereka merinding.

Senyuman lebar dan anggukan menjawab pertanyaan tersebut. Aku ikut duduk sambil memamerkan sebuah novel yang berhasil kupinjam untuk tugas Bahasa.

"Buku apa? Coba kulihat." Nia mengambil alih sebuah buku bersampul hitam lusuh dari dekapanku. Menimang-nimang sebentar sambil dibolak-balik. "Aih, ini novel tahun berapa? Kunonya udah melebihin dinosaurus."

Aku memonyongkan bibir, "Habis cuma nemu novel itu."

"Liat gaya bahasanya, deh." Nia menunjukkan tulisan di salah satu lembar novel. "Gila, berat parah."

"Iya, seberat se-ton gajah yang nimpuk hatimu" Ledekku. 

Tawa kami pecah membahana berbarengan dengan teriakan heboh di lapangan. Rupanya salah satu vamvire di sana sukses menjadi penyelamat klan-nya dengan mencetak skor kemenangan.

Seorang berdiri sambil ikut berjoget ria merayakan kemenangan, berputar-putar dan mengadukan pinggang dengan temannya. Senyumnya mengambang lebar, membiarkan gigi-gigi putih rapat di antara bibir kecoklatannya menebar pesona. Garis matanya menyipit karena tersenyum terlalu lebar, otot rahang tirusnya sedikit tertarik ke belakang, membuat kesan manis melekat pada wajahnya. Kemudian dia melompat-lompat seperti yang biasa dilakukan bocah-bocah saat mendapat permen.

Saat itu tiba-tiba aku menyadari sesuatu berdentum tidak beraturan dalam dadaku. Saat dia membuka suara, aku menyimpulkan bahwa suaranya tidak berat, justru mengarah ke kanak-kanakan, namun tidak cempreng dan dibuat-buat.

Tubuhnya cukup tinggi dan tidak terlalu kurus, warna kulitnya mengarah ke cokelat tanah. Rambut hitam agak ikal yang sudah melewati tengkuk melambai-lambai pelan tertiup angin siang. Jari-jarinya yang panjang ditopang oleh lengan kekar, dilambai-lambaikannya saat dia masih melompat-lompat senang.

Seperti itulah, cinta datang dengan sendirinya. Tanpa alasan. Cinta yang datang tanpa alasan sehingga membuat semua yang ada padanya menjadi bermakna, hingga dari caranya saat melompat, sangat eksotis. Aku menyukai semua dari dirinya, bahkan namanya. Alvaro.

Keesokannya..

Katanya saat kita punya keinginan kuat untuk menggapai sesuatu, semesta akan ikut andil dalam mewujudkannya. Karena semesta ada di bawah kuasa Tuhan.

Angin pantai kembali menyerbu membawa pasukan tak terlihat. Butir-butir pasir menjadi senjata andalannya, ditembakkan ke sepasang bola kaca yang menyipit. Tembakan itu tepat sasaran! Aku mengucek-ngucek mata beberapa kali untuk menghilangkan perihnya, kadang aku merasa malu jika memikirkan air mataku yang keluar hanya karena sebutir pasir menyelinap masuk. Tapi aku nggak bisa membantah karena itu adalah gerakan refleks yang bahkan aku sendiri tidak punya kendali atasnya. Sama halnya seperti cinta.

Hari ini Aku dan dua sepupuku memutuskan untuk menghabiskan sore di hari minggu yang cerah ini dengan sepiring sate ceker sambil menonton aksi kejar-kejaran ombak di Pantai Panjang. Nama pantai ini yang menurutku sangat unik. Bukankah setiap pantai memang panjang? tanpa diberi embel-embel 'panjang' pun semua tahu bahwa pantai memang panjang. Kalau pendek itu mungkin air di bak mandi hahaha (maksa ketawa). Tapi mungkin ukuran pantai yang tengah kupijak pasirnya ini memang punya panjang lebih dibanding pantai-pantai lainnya, begitu pikiran logisku berkata.

Baru sebentar saja pikiran logis tadi memenuhi otak. Hipotesis itu terpaksa runtuh saat kami akhirnya menjatuhkan pilihan pada warung sate yang paling jauh dari keramaian. Di antara banyak meja yang diisi beberapa orang saja, kami memilih meja tak jauh dari penjual, ada tiga kursi di meja persegi tersebut. Aku duduk persis menghadap lautan.

Sembari menghirup udara pantai, retinaku tiba-tiba terbelalak mendapati lelaki pemilik nama yang sukses membuat aku jatuh hati kemarin siang tengah memamerkan senyum sumringah dari kursi persis di hadapanku, empat meter jauhnya. Senyumnya sama persis seperti kemarin, tidak ada yang berubah. Giginya terlihat hingga ke ujung, berbaris rapi dan terkatup rapat di antara bibir tipis kecoklatannya. Aroma lemon kembali memyesakkan udara yang masuk ke hidung, akhirnya aku tahu dari mana wangi fresh itu berasal. 

Untuk kali ini, aku merasa bahwa pantai Panjang tidak benar-benar 'panjang' sampai bisa mempertemukan aku dan dia di titik yang sama.


October 14, 2015

Jelajah Kepahiyang: Jalan-Jalan Singkat Menjelang Ujian Nasional


 Sebenarnya ini merupakan perjalanan study tour dua tahun lalu, berhubung akunya belum nemu ide menarik buat ngeblog, akhirnya ini juga yang kupilih walaupun ingatanku udah samar-samar. Beruntung kamera temenku yang dipake buat foto ada tanggal dan waktunya, jadi bisa membantu lah sedikit banyak. Itupun sebagian banyak fotonya udah kehapus sama aku terutama bagian foto-foto kami waktu di PLTA Musi.

Where we’ll go? That’s right. Sebelum ujian nasional tahun depan, SMPku ngadain kegiatan semacam study tour ‘spesial’ buat anak-anak kelas sembilan, meskipun nggak melipir jauh dari Kota Bengkulu (karena cuma ke Kepahiyang kok) seenggaknya itu tempat yang sama sekali belum pernah kudatangin. Tempat yang beruntung bisa kami jelajah adalah PLTA Musi, kebun teh Kabawetan, Danau Mas, dan terakhir adalah BMKG Kepahiyang.

November 14th, 2013

Sehabis sholat subuh, aku udah sibuk memilah barang-barang yang bakal dibawa, biarpun cuma satu hari eh, nggak nyampe juga sih, paling cuma sekitaran jam 9 pagi sampe maghrib udah pulang lagi. Tapi tetap barang bawaan menjadi penting banget biar nggak ada perasaan was-was lagi pas udah di jalan. Malamnya aku emang nggak sempat menyiapkan apapun meski udah diingatin Ibu berulang kali. Barang yang pertama masuk adalah.... Mukenah, yang ini nggak boleh ditinggal dong, lalu sweter buat jaga-jaga kalo udara mendadak dingin, kemudian cemilan-cemilan, dan terakhir adalah minyak angin (takut muntah kan? padahal aku nggak pernah gitu loh, cuma buat jaga-jaga) dan yang nggak kalah penting adalah handphone beserta headsetnya. Hehe..

Pukul 07.30 WIB aku baru sampe ke depan gang SMP ku, yups tempat kami nungguin bus. Disini udah ada beberapa bus terparkir sebelum aku sampe. Karena peserta tour ini cuma siswa kelas sembilan, jadi SMPku cukup menyiapkan sekitar 15 bus yang bakal dipake buat pergi pulang nantinya. Itu udah termasuk bus besar, kecil, yang berAC dan nggak berAC.

But unluckily, kelasku malah dibagi ke dalam dua bus. Tapi aku dan temen-temen harus bersyukur juga karena dapat bus yang nyaman, yay! Meskipun aku yang duduk sama temanku Putra agak keganggu sama AC otomatis bus yang cuma bisa diputar arah aja, nggak bisa dimatiin loh. Kami berdua yang duduk di kursi paling belakang jadi sasaran empuk hawa dinginnya. Untunglah aku nggak lupa sama sweater merah putihku ini, haha...

Pukul 11.30 bus akhirnya sampe Kepahiang, berarti butuh sekitar dua jam lebih dari Bengkulu karena bus berangkat sekitaran jam 9. Di sana, rombongan bus dibagi jadi dua ada yang ke Kabawetan dan sebagian lagi menuju PLTA Musi, termasuk rombongan bus kami.

Aku nggak terlalu ingat sama rute jalannya. Kerjaanku di bus paling cuma dengerin musik ato gangguin teman sebelah. Sekitar setengah jam kemudian akhirnya bus sampai ke pos penjagaan PLTA. Eits.. tenang! Ini bukan tujuan kami jauh-jauh datang ke sini kok karena planningnya kami bakal masuk terowongan PLTA. Sambil nunggu pak guru ngurus izin disini kami istirahat sebentar, sempat dikasih beberapa panduan juga dari petugasnya.

Ngenesnya, hampir setengah dari rombongan kami nggak diizinkan ikut masuk ke terowongan karena mabuk jalan. Eh, tapi beberapa teman cewekku juga nggak boleh ikut karena.. “siklus bulanan” aneh sih? Tapi serem juga karena katanya kalo cewek lagi kedatangan siklus bulanan akan ngeliat hal yang aneh-aneh di dalam terowongan. Berpegang pada prinsip ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’ akhirnya mereka yang sedang kedatangan siklus bulanan memilih untuk tinggal di pos.

Kami yang tersisa langsung to the point menuju terowongan yang dimaksud. Hehe,, bagian paling menyenangkan ada disini.

Letaknya nggak terlalu jauh dari pos yang disinggahi tadi. Kira-kira sekitar 15 menit gerbang terowongan udah tampak. Gerbang dibuka... mataku sama sekali nggak bisa lihat apapun saking gelapnya. Penerangnya cuma neon di dinding yang nyala barengan bus kita lewat, mungkin jumlahnya sampe ratusan.

Bus berhenti di jalur simpang tiga terowongan. Kami keluar bus dan diintruksikan buat ngambil jalur kiri. Disini petugas pemandu menjelaskan sejarah PLTA yang katanya udah dibangun sejak zaman Belanda, waktu itu masih dipake buat penjara dan benteng pertahanan.

Di sini lah proses mengubah air menjadi listrik terjadi. Terowongan ini luas bangeeeet dan bertingkat juga. Tapi kami cuma dibolehin untuk turun satu lantai karena butuh alat bantu napas untuk turun ke lantai selanjutnya. Katanya, yang tersedia tidak cukup untuk jumlah kami yang ratusan ini. 

Kami juga sempat masuk langsung ke ruang tempat generatornya bekerja. Kebayang lah berisiknya suara mesin generator yang putarannya kencang banget. Sayang yaa stok foto buat dokumentasinya udah kehapus, padahal udah bela-belain maksa foto di depan generatornya.

Waktu di terowongan nggak lama-lama. Meskipun aku merasa serem sama suasananya tapi sejujurnya aku takjub sekali dengan bangunan ini. Another time kalo ada waktu dan kesempatan lagi, aku mau nyoba sekali lagi.

Sebenarnya kami termasuk rombongan yang beruntung karena rute bus kami ke sini lebih dulu baru ke Kabawetan. Kenapa? soalnya rombongan kedua yang datang ke sini udah nggak dibolehin masuk terowongan karena mereka sampenya sekitaran jam 2. Katanya jam segitu adalah jam-jam seremnya terowongan dan petugas menutup jam kunjungan pas banget jam 2. Hehe,, nyesek kan...

Tujuan selanjutnya adalah kebun teh kabawetan. Bagian yang paling ditunggu-tunggu, apalagi buat anak-anak yang hobi brswafoto ria macam kami ini.

Pas sampe disana, aku sempat nolongin temanku yang mabuk. Untunglah minyak kayu putih selalu kubawa. 

Hasil jepretan pertama..


Disini kerjaan kami nggak jauh-jauh dari yang namanya take a lot of picture. Mulai di tengah kebun, di atas batu, di semak-semak juga hayuuk..

Kabawetan memang jadi salah satu icon wisata top di Kepahiyang. Pemandangannya cantik, kebunnya juga terawat, apalagi kalo datang pas bukan musim liburan, jadi nggak terlalu rame.
  
Abis foto sebentar, aku malah sibuk nyari teman-teman sekelasku buat foto bareng, dan nggak ketemu. Akhirnya  yang kejepret cuma pic nggak jelas gini.. 

a moment with my friend

Waktu Dzuhur sebenarnya usdah masuk ketika kami sedang berada di Kabawetan, tapi kami memilih untuk sholat sewaktu sampai di danau Mas. 

Usai Sholat, kami berkumpul untuk makan siang. Makannya pake nasi bungkus, dan Alhamdulillah akhirnya tenaga terkumpul kembali. Setelah makan, hal selanjutnya yang kami lakukan tentu saja menjelajahi area sekitar danau. Apalagi di sini ada jembatan kayu, jembatan setengah lingkarannya, sama ada rakitnya juga. Tapi kami nggak dibolehin buat naik rakit, takut tenggelam katanya.

Ketemu sama anak IX B aku dan Juise nimbrung foto, hehe



Selanjutnya ngalay bareng kelasku Aksel D yang ketemu di pinggir danau. 

Part kesukaanku di jembatannya (bareng Juise sama Ayu)


Udahan foto-foto, kami beresin barang buat ganti bus. Karena kami kebagian bus yang kecil, jadi cuma muat untuk satu kelas. Jadilah kami sekelas ada di bus yang sama. Cuma kami, nggak dicampur kayak tadi :D kali ini aku udah nggak duduk sama Putra lagi, diganti sama Ayu.

Nggak lama-lama di jalan kami akhirnya sampe ke BMKG. Bentuknya nggak jauh beda sama yang ada di Bengkulu kok. Di sini akunya malah mentok ke toilet, hehe sebenarnya sehabis makan siang tadi aku udah nahan pipis banget tapi  keburu nggak berani lagi ke toilet. Jadi ya aku tahan-tahan aja dan apesnya pas bus udah mau jalan perutku malah jadi mules..

Pas aku keluar toilet yang lainnya udah masuk dalam ruangan kerja di BMKG. Sialnya aku sama sekali nggak tau apa-apa. Saking lamanya di toilet  aku jadi nggak dapat banyak informasi. Jangankan itu, satupun foto juga nggak ada yang kejepret sama aku. Tapi, yang terpentingperutku udah nggak mules lagi.

Oke, jadi momen BMKG terlewatkan! Sehabis itu, planning kami adalah kembali ke tempat asal. Ini bagian yang nggak ditunggu sih karena itu artinya perjalanan kami bakal selesai. Tapi ya mau gimana? Ato mau ditinggalin di sana aja Nis? Nggaaakkkk... Aak, padahal akunya masih belum puas buat main-main di Kabawetan (waktu itu kayaknya kami nggak sampe setengah jam deh di sana).

Isi bus kami jadi yang full banget, malahan ada temenku sampe duduk lesehan karena nggak kebagian tempat duduk. Pulangnya kami satu bus sama ibu Erla dan pak Inskandar  yang ngasih izin ke kami yang mewek-mewek minta mampir ke warung bakso.

Meskipun hujan, akhirnya kami melipir dulu ke warung  bakso di pinggir jalan. Di warung, ada yang mesan bakso dan sebagian lagi bakso pangsit. Tapi ada yang unik di sini, karena harga bakso tok yang kami beli itu 12.000 sementara bakso pangsitnya Cuma 10.000. nah? Tau gitu aku belinya bakso pangsit aja kan.. hehe, pak Is yang pertama ngeliat daftar menu makanannya di depan dan dia ketawa-ketawa aja tapi nggak ngasih tau ke kami.. maklum lah, pas kami masuk warungnya udah mati lampu aja. Untungya nggak lama-lama, kalo nggak berarti kami makan gelap-gelapan dong. Abis makan, lagi-lagi perutku mendadak rewel, akhirnya aku dan beberapa temenku minta izin ke toilet dulu. Di sana pun kami harus antri dan hampir ditinggal bus loh karena kelamaan.

Nggak cuma itu, di jalan kami juga mampir ke warung oleh-oleh. Tapi aku cuma beli cemilan Bayam Goreng bungkus besar buat orang rumah. Soalnya kalo pisang pasti nggak dimakan, keripik manis apalagi. Kakakku juga nggak nitip macam-macam.

Karena banyak mampirnya, bus kami jadi yang paling belakang dari rombongan bus lain, udah bener-bener ditinggal banget. Ketika keluar Kepahiyang, diluar udah gelap dan hujan yang tadinya cuma rintik-rintik jadi tambah deras. Serasa serem sendiri karena takut dibegal apalagi di jalan-jalan yang sepi. Tapi untungnya teman-teman kelasku masih semangat aja membuat suasana jadi seru. Kerjaan kami muterin lagu kencang-kencang, teriak nyanyi-nyanyi, dan main sambung kata gitu. Jadi nggak ada yang molor lagi pas di bus. Sampe-sampe hawa dingin hujan aja nggak dihiraukan lagi. Hari itu adalah hari yang dipenuhi tawa.

Nggak terasa kami udah sampe lagi di tempat awal di mana keberangkatan kami bermula. Dan aku malah baru sadar kalo hujan makin deras mengguyur di Bengkulu. Di sana masih banyak temen-temen yang nunggu jemputan termasuk aku. Aku kira tinggal kami-kami yang sampe paling terakhir ini. Nggak nunggu lama-lama, motor kakakku akhirnya muncul juga, rumahku emang nggak jauh dari gang SMPku kok. Karena kakakku nggak bawa mantel ato jas hujan akhirnya kami terobos aja hujannya sampe kerumah. Ini menjadi bagian dari tripku yang sangat menyenangkan. Apalagi dengan ending hujannya. Haha.. good night.