December 18, 2015

Stroberi Rasa Perjuangan: Coba-Coba Bercocok Tanam Stroberi


Kecil, dan merah, dan lezat. Yup, benar sekali. That’s my lovely strawberry! Atau bahsa kerennya Fragaria daltoniana. Siapa bilang si merah imut itu nggak bisa hidup di kota macam Bengkulu?
Ternyata stroberiku udah berbuah ‘lagi’ aja dong, hehee..(petik-petik buah). Lagi? Iya, soalnya ini udah kali ke lima tanaman kesayangan ini menghasilkan buah. Mau? Hayuuk, mampir. Nanti aku bagi-bagi..
Buahnya nggak banyak sih, tapi udah cukup buat memuaskan selera bulananku. Karena buah merah ini termasuk favorite aku sejak kecil. *Eh, itu favorite selain alpukat deh kayaknya. Dulu aku bilangnya buah tahunan, karena semacam stroberi ini nggak dijual di pasar-pasar sini. Biasanya aku beli kalo liburan ato lebaran ke rumah nenek di Surulangun. Jadi bus yang kita naikin itu rutenya melewati Curup, nah waktu bus berhenti di terminal Curup, disana banyak pedagang yang nawarin macam-macam makanan ke penumpang, termasuklah stroberi.
Wah, kok bisa kepikiran buat bertanam stroberi sih? Awal pertengahan tahun 2014 lalu, ibuku tiba-tiba kepikiran buat menanam stroberi ini di halaman rumah. Kita sempat bingung juga gimana cara dapat bibitnya. Apa iya harus minta dikirim dari Curup? Kita sempat nanya ke toko bunga  di dekat rumah, eh si empunya toko malah menawarkan bibit  buah anggur.
Beruntung--Setelah mencari ke mana-mana dan nggak ketemu, setelah satu bulan memendam keinginan bercocok tanam stroberi--akhirnya kita menemukan seorang penjual bibir stroberi di pasar Panorama. Harganya Rp. 10.000 per satu polybag anakan stroberi yang masih sangat kecil.
Kita beli satu polybag doang, karena baru coba-coba. Ditaruhlah polibek itu di belakang rumah oleh Ibuku, di balik tumpukan papan yang sama sekali nggak terpapar sinar matahari. Maklum, pikiran awam dulu, dikira stroberi nggak boleh kena sinar matahari. 
Tapi nggak sampe satu minggu, stroberinya udah mati aja. Awalnya diinjak-injak ayam tetangga, tapi itu cuma ngebuat daunnya patah sih. Yang benar stroberinya mati karena kekurangan cahaya matahari, lama-lama daunnya jadi cokelat semua, dan akhirnya mati.
Kita belom nyerah nih, berhubung orang yang jual bibitnya belom pindah, kita beli lagi dong. Dengan harga yang masih sama.
Kedua kalinya, polybag-nya masih di taruh di belakang rumah. Tapi yang ini udah nggak di balik papan lagi, tapi di dekat tanaman-tanaman mawar. Nah, tempatnya sangat terpapar sinar matahari.

Oke, seminggu.. dua minggu.. Masih hidup ternyata, tapi kok jumlah daun atau diameter bongkotnya pun nggak nambah-nambah ya? *lupakan dulu, syukur aja stroberinya masih hidup. Aku kira kita udah berhasil, tapi ternyata bencana datang saat memasuki minggu ke tiga. Karena sibuk sama tugas sekolah, aku jadi lupa sama yang di belakang. Jadilah tanamanku ini kekeringan, hingga pada akhirnya pun mati.
Oke, kita belom nyerah juga. Untuk kali ke tiga kita datang lagi ke penjualnya. Eh, dianya udah hapal sama wajah kita. Langsung aja dia sodorin bibitnya. Kali dia seneng yah kita ke sana mulu. Hahaa..
Aku pikir tempat yang langsung terpapar sinar masih belum jadi tempat yang strategis buat naruh polybagnya, soalnya stroberi yang kemaren aja udah dua minggu nggak ada perubahan apapun.
Jadilah buat yang ke tiga ini kita memilih tempat yang... mungkin cocok lah sama karakter tanaman ini. Dimana? Di balik sumur, hiaaakk!!! Iya, tempat yang dingin dan cuma terpapar sinar  matahari di waktu sore aja. Kalo siang, panasnya sekadar pantulan.




Saatnya menunggu hasil. Satu minggu, dua minggu, sebulan. Daaaaaan...... Akhirnya berhasil. Ternyata di balik sumur adalah tempat yang strategis untuk stroberi.
Tanamannya jadi subur banget malah. Padahal baru satu bulan, udah ada sulur yang keluar. Asli, awalnya aku kira itu bakal buah, eh ternyata malah anakan baru.
Jadi, sulur  itu semacam tunas baru yang muncul dari batang stroberi, dan di ujungnya nanti bakal muncul bongkol dengan serabut akar-akar kecil. Itulah yang di sebut anakan stroberi, atau dikenal sebagai bibit baru stroberi. Terkadang, dalam satu sulur bisa menghasilkan lebih dari satu anakan baru loh. Bisa dua atau bahkan tiga sekaligus.


Karenanya hanya dalam waktu dua bulan, aku udah punya delapan polybag stroberi. Dimana dalam satu polibek itu ada yang berisi sampe tiga anakan baru, hehee. Dalam waktu singkat, halaman kecil di belakang rumahku berubah jadi kebun stroberi.


Ternyata sodara-sodara, ada tips-tipsnya biar stroberi itu tumbuh subur di halaman rumah.
Yang pertama, mintalah restu dari sang penjual bibit. Eh, seriusan loh. Waktu kita datang ke penjualnya untuk yang ke tiga kalinya, si Bapak penjual bilang ‘semoga yang ini bisa tumbuh subur’ dan ternyata memang bener. Percaya? Entahlah.. yang jelas nggak ada salahnya di coba, kan. Karena ketika melakukan sesuatu dengan restu, kemungkinan berhasilnya lebih besar.
Lalu, taruhlah tanaman itu di tempat yang tidak terpapar sinar matahari secara langsung. Seperti aku yang meletakkannya di balik sumur. Sebenarnya ini semacam proses adaptasi dengan lingkungan, karena beberapa bulan kemudian aku sempat memindahkan polybag stroberi ke tempat sebelumnya itu, dan ternyata masih tetap subur, kok. Dan keuntungan lainnya menaruh di balik sumur, saat kita lupa menyiram beberapa hari, stroberinya nggak bakal mati, paling-paling cuma layu doang.
Dan yang terpenting, siramlah paling enggak satu kali dalam sehari. Sebenarnya sama aja sih dengan tanaman lainnya, kalo nggak disiram nanti bakalan kekeringan, kalo terlalu banyak disiram juga bakal busuk tanamannya. Intinya, sepintar-pintarnya kita yang ngatur, dan tergantung cuaca juga.
Yang nggak kalah pentingnya, berilah pupuk agar cepat berbuah. Menanam stroberi dan nggak berbuah kan sama aja bohong.
Dan sebenarnya, ini yang jadi masalahku. Awalnya aku cobain dengan pupuk ekstrak ampas jamu yang dibeli di toko pupuk. Entah apa merknya, aku udah lupa. Tapi bukannya berbuah, malah stroberiku numbuhin banyak banget sulur baru. Bahkan dalam satu hari ada puluhan anakan baru yang tumbuh. Awalnya oke aja karena kita punya banyak stock polybag kosong. Tapi lama-lama kan nyebelin juga. Yakali halamanku penuh sama anakan stroberi yang nggak berbuah-buah.
Omong-omong soal sulur, sedikit tips kalo stroberi udah numbuhin sulur, sebaiknya cepat-cepat di potong dan dipindahin ke polibek lain. Saoalnya kalo dibiarin lama-lama, Induk stroberi bakalan kerdil, karena makanan disalurkan ke anakan stroberi.
Jadilah selama beberapa bulan, halamanku penuh sama anakan stroberi. Itu aja udah banyak banget yang aku buang. 
Minggu berikutnya, aku dan ibu kembali menemui sang penjual bibit untuk menanyakan perihal pupuk.
"Pake air tape aja, buk" Kira-kira begitu saran dari sang penjual.
Pulang ke rumah, ide air tape tersebut pun segera dilaksanakan. Ternyata saran penjual itu cukup berhasil juga. Meskipun sulurnya nggak berhenti keluar, tapi ada salah satu yang akhirnya menjadi bunga.
Heheee, namanya sih berhasil, bukan cukup berhasil :p
Oke, bunga pertama.

Setelah sempat searchingan soal stroberi ini, katanya bunga pertama itu sebaiknya dibuang dulu. Berhubung aku udah ngebayangin rasa buah pertama, *kan sayang udah jamuran nungguin bunga ini muncul, terus dibuang. Jadilah aku abaikan saja tips yang itu.
Kelopak bunga satu-persatu gugur hingga yang tersisa bagian tengahnya doang. Itulah yang jadi semakin besar tiap hari dan jadi buah stroberi.
Saat stoberi ini berbunga, sebaiknya berikan perhatian khusus. Salah-salah kalo kekurangan air, buuahnya bakalan kerdil dan jadi kecil banget.
Inilah jadinya saat udah masak,


Kalo udah merah begitu, saatnya dipanen.

Bicara soal rasa, rasanya asam-asam manis dan segaaaar. Buah stroberiku kini, ukurannya juga nggak terlalu besar seperti stroberi pada umumnya. But its okey, kan tetap saja namanya 'buah stroberi'. Saat buah pertamanya mateng, aku yang seneng banget dong. Akhirnya bisa ngerasain buah perjuangan, huhuu!

Dan sekarang, dalam satu batang stroberiku udah bisa menghasilkan tiga buah sekaligus. Muehehee..
Ada yang mau nyoba? Jangan khawatir gagal. Percaya deh, buah pertama bakal berkesan banget kalo menanamnya penuh perjuangan. Hiaaa... selamat mencoba, jangan lupa sama tips-tips diatas yaak.

Oke, berhubung artikel udah selesai. Mari sikat stroberinya!!!
Katanya mau bagi-bagi? Iya sih, tapi pincess lapar, gimana dong :p

December 08, 2015

Good Bye 2015

 MotoGP musim 2015 telah berakhir pada 8 November yang lalu, dan test awal untuk musim 2016 juga udah berjalan beberapa hari kemudian. Sekarang saatnya para pebalap menikmati liburan akhir tahun termasuk juga pebalap team Repsol Honda satu ini, Dani Pedrosa. Di blognya, Dani menjawab beberapa pertanyaan pilihan dari fans sebagai ucapan ‘sampai jumpa di musim depan’ sekaligus terima kasih atas dukungan mereka. Tulisan tersebut merupakan yang terakhir untuk tahun ini dan Dani baru akan menulis kembali saat Musim 2016 dimulai Maret mendatang. Apa saja yang ditanyakan para fans kepada penyandang nomor 26 itu? Pertanyaannya cukup unik. Mulai dari warna favoritnya, Sirkuit kesukaan, sampai perkiraan dirinya di tahun 2016 mendatang.“My Favorite colour is blue” tulis Dani. Dani memang menjadi penyuka warna biru sejak dia masih kecil, doi pernah ditanya dengan pertanyaan sama saat masih berstatus pebalap 125cc, dan jawabannya tetap saja dia suka warna biru. Lalu pertanyaan berikutnya adalah tentang kebiasaannya sebelum memulai balapan. Jawaban Dani cukup sederhana, berusaha untuk fokus dan tetap berada si sekitar teamnya adalah pilihannya untuk bisa memompa semangat saat race. Bagaimana dengan sirkuit Favorite? Dani menjawab salah satu favoritenya adalah Motegi, Japan. Dan tentu saja yang paling tidak disukainya adalah sirkuit Losail, Qatar. Bicara soal Losail, Dani memang belum pernah meraih hasil yang sangat bagus di sirkuit Qatar ini selama berkarir di dunia MotoGP sejak 2006 lalu.Jawaban yang diberikan Little Samurai ini selalu saja menarik, apalagi saat ditanya apa yang suka dia lakukan saat musim dingin disamping bekerja? Jawabannya tidak jauh-jauh dari dunia olahraga, namun bukannya balap motor atau semacamnya, Dani lebih suka untuk berselancar saat musim dingin. Disamping itu Dani juga menyebut suka untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya dan belajar tentang hal-hal yang membuatnya tertarik.Saat ditanya bagaimana firasatnya mengenai tahun 2016 nanti yang diawali dengan angka 2 dan diakhiri dengan angka 6 (nomor yang digunakannya), pertanyaan yang tentu saja menjurus ke  artian ‘apakah dia akan menjadi juara dunia di tahun depan?’. Dani menjawab dia akan selalu berusaha mewujudkan harapan itu. Sebagai tambahan, Dani menulis dia akan segera terbang ke Jepang untuk mengahdiri event Honda dan menutup musim di sana. Namun pastinya, di samping itu, Dani akan menikmati waktu berlibur juga. Wah, selamat bersenang-senang Bang!

Alvaro: Tentang Jatuh dan Cinta



Aku ingin menceritakan padamu tentang Alvaro; teman satu sekolahku, cinta monyetku. Eh, aku bukannya jatuh cinta sama monyet, tapi sama Alvaro. 

Bukankah selalu aneh jika bicara soal cinta? Sebab hingga kini, cinta masih tidak kenal memilih, tidak pernah menunggu kapan hadirnya, dan akan selalu begitu.

Aku takut untuk jatuh cinta dengan cara sederhana, karena konon katanya aku akan patah hati dengan suatu hal sederhana pula. Aku sepaham dengan prinsip bahwa jatuh cinta tidak butuh alasan; Cinta tanpa karena.

Kisah singkat ini bermula pada bulan Mei. Siang ini cerah. Di antara keramaian yang berbaur, tangan-tangan saling memukul benda sebentuk bulan purnama berwarna biru tua dipadu kuning, benda itu silih berganti bergerak bolak-balik melewati pembatas, kadang-kadang melambung tinggi, lalu didekati, dipukul lagi, dan berakhir menghantam tanah. 

Semerbak bau keringat menyesaki hidung persis saat aku melewati lapangan voli. Anehnya banyak sekali yang bergabung dalam kotak segi empat tersebut, melebihi jumlah pemain sepak bola. Atau sebenarnya tidak aneh, karena ini adalah liga antar vampire-vampire ganas dalam rangka memperebutkan darah suci sang beruang madu. Tapi di antara bau asam campur-campur parfum kodok kadalwarsa tersebut, aku mencium bau bangkai nyamuk yang luar biasa nggak ada busuknya sama sekali. Oke becanda. Mari serius. Aku ulang ya. Di antara bau asam keringat campur wangi ketiak tersebut, hidungku menyesap aroma fresh yang begitu kental. Sontak hidungku meraba-raba asal bau tersebut. Rupanya berasal dari gerombolan pejuang harga diri di lapangan voli itu. 

Aku pun beranjak menuju bangku jauh di pinggir lapangan. Bangku paling ujung telah dihuni teman-teman gilaku yang lagi mengobrol pasal kucing imut milik tetangganya Marc Marquez.

"Udahan dari perpustakaannya?" Temanku menyadari kehadiran makhluk gaib macam aku yang selalu sukses bikin mereka merinding.

Senyuman lebar dan anggukan menjawab pertanyaan tersebut. Aku ikut duduk sambil memamerkan sebuah novel yang berhasil kupinjam untuk tugas Bahasa.

"Buku apa? Coba kulihat." Nia mengambil alih sebuah buku bersampul hitam lusuh dari dekapanku. Menimang-nimang sebentar sambil dibolak-balik. "Aih, ini novel tahun berapa? Kunonya udah melebihin dinosaurus."

Aku memonyongkan bibir, "Habis cuma nemu novel itu."

"Liat gaya bahasanya, deh." Nia menunjukkan tulisan di salah satu lembar novel. "Gila, berat parah."

"Iya, seberat se-ton gajah yang nimpuk hatimu" Ledekku. 

Tawa kami pecah membahana berbarengan dengan teriakan heboh di lapangan. Rupanya salah satu vamvire di sana sukses menjadi penyelamat klan-nya dengan mencetak skor kemenangan.

Seorang berdiri sambil ikut berjoget ria merayakan kemenangan, berputar-putar dan mengadukan pinggang dengan temannya. Senyumnya mengambang lebar, membiarkan gigi-gigi putih rapat di antara bibir kecoklatannya menebar pesona. Garis matanya menyipit karena tersenyum terlalu lebar, otot rahang tirusnya sedikit tertarik ke belakang, membuat kesan manis melekat pada wajahnya. Kemudian dia melompat-lompat seperti yang biasa dilakukan bocah-bocah saat mendapat permen.

Saat itu tiba-tiba aku menyadari sesuatu berdentum tidak beraturan dalam dadaku. Saat dia membuka suara, aku menyimpulkan bahwa suaranya tidak berat, justru mengarah ke kanak-kanakan, namun tidak cempreng dan dibuat-buat.

Tubuhnya cukup tinggi dan tidak terlalu kurus, warna kulitnya mengarah ke cokelat tanah. Rambut hitam agak ikal yang sudah melewati tengkuk melambai-lambai pelan tertiup angin siang. Jari-jarinya yang panjang ditopang oleh lengan kekar, dilambai-lambaikannya saat dia masih melompat-lompat senang.

Seperti itulah, cinta datang dengan sendirinya. Tanpa alasan. Cinta yang datang tanpa alasan sehingga membuat semua yang ada padanya menjadi bermakna, hingga dari caranya saat melompat, sangat eksotis. Aku menyukai semua dari dirinya, bahkan namanya. Alvaro.

Keesokannya..

Katanya saat kita punya keinginan kuat untuk menggapai sesuatu, semesta akan ikut andil dalam mewujudkannya. Karena semesta ada di bawah kuasa Tuhan.

Angin pantai kembali menyerbu membawa pasukan tak terlihat. Butir-butir pasir menjadi senjata andalannya, ditembakkan ke sepasang bola kaca yang menyipit. Tembakan itu tepat sasaran! Aku mengucek-ngucek mata beberapa kali untuk menghilangkan perihnya, kadang aku merasa malu jika memikirkan air mataku yang keluar hanya karena sebutir pasir menyelinap masuk. Tapi aku nggak bisa membantah karena itu adalah gerakan refleks yang bahkan aku sendiri tidak punya kendali atasnya. Sama halnya seperti cinta.

Hari ini Aku dan dua sepupuku memutuskan untuk menghabiskan sore di hari minggu yang cerah ini dengan sepiring sate ceker sambil menonton aksi kejar-kejaran ombak di Pantai Panjang. Nama pantai ini yang menurutku sangat unik. Bukankah setiap pantai memang panjang? tanpa diberi embel-embel 'panjang' pun semua tahu bahwa pantai memang panjang. Kalau pendek itu mungkin air di bak mandi hahaha (maksa ketawa). Tapi mungkin ukuran pantai yang tengah kupijak pasirnya ini memang punya panjang lebih dibanding pantai-pantai lainnya, begitu pikiran logisku berkata.

Baru sebentar saja pikiran logis tadi memenuhi otak. Hipotesis itu terpaksa runtuh saat kami akhirnya menjatuhkan pilihan pada warung sate yang paling jauh dari keramaian. Di antara banyak meja yang diisi beberapa orang saja, kami memilih meja tak jauh dari penjual, ada tiga kursi di meja persegi tersebut. Aku duduk persis menghadap lautan.

Sembari menghirup udara pantai, retinaku tiba-tiba terbelalak mendapati lelaki pemilik nama yang sukses membuat aku jatuh hati kemarin siang tengah memamerkan senyum sumringah dari kursi persis di hadapanku, empat meter jauhnya. Senyumnya sama persis seperti kemarin, tidak ada yang berubah. Giginya terlihat hingga ke ujung, berbaris rapi dan terkatup rapat di antara bibir tipis kecoklatannya. Aroma lemon kembali memyesakkan udara yang masuk ke hidung, akhirnya aku tahu dari mana wangi fresh itu berasal. 

Untuk kali ini, aku merasa bahwa pantai Panjang tidak benar-benar 'panjang' sampai bisa mempertemukan aku dan dia di titik yang sama.