February 02, 2019

FICTION | Malam untuk Mengakhiri



Aku menghentikan langkah sejenak, menarik napas dalam-dalam saat mendapati tubuh jangkung Luis di kursi teras kafe, persis di sebelah kanan pintu masuk. Dia duduk menghadap tempat parkir, dan langsung melambaikan tangan saat mata kami bersirobok.

Seperti dugaanku, dia memilih meja yang biasa kami pesan untuk makan malam di kafe ini. Apapun usahanya, tak akan pernah menarikku kembali. Aku tak akan terpengaruh oleh masa lalu, aku telah membakar seluruh cintaku terhadapnya; benar-benar tak bersisa.

Keputusanku untuk memutuskan hubungan kami sudah bulat. Malam ini, aku bakal mengakhiri semuanya. Aku meneguhkan niat, lalu tanpa ragu melangkah ke hadapannya.

“Mau pesan apa?” Tanyanya berbasa-basi.

“Saya mau langsung pulang saja setelah ini. Ehm, begini.” Aku meletakkan tas ke atas meja, lalu berdehem sebentar, sebelum melanjutkan kalimatku. “Saya mengajakmu bertemu untuk mengatakan bahwa secara resmi, hubungan kita berakhir.”

Alis Luis terangkat, menciptakan beberapa kerutan horizontal di dahinya. Aku tahu dia tak terkejut karena ucapanku barusan, melainkan karena nada tegas di dalam kalimatku. Aku menangkap raut resah pada wajahnya.

“Ra, jangan memutuskan secara tergesa-gesa, saya yakin kita masih saling mencintai.” Katanya, seraya mencoba menangkap sorot mataku.

Aku meringis. Masih saling cinta, katanya? Akhirnya aku balas menatap mata lelaki itu. Sejujurnya, bola kaca hitam bening dengan sorot tajam itulah yang membuatku luluh di pertemuan pertama kami, tatapannya seolah menerobos sampai ke hatiku, dan tatapan itu masih kukagumi hingga saat ini.

“Maaf?! Saya sudah tidak memiliki rasa apapun kepadamu.” Ucapan itu keluar dengan entengnya dari bibirku—mengisyaratkan bahwa keputusanku sudah tepat.

“Saya minta maaf untuk semua kesalahan saya. Maukah kamu memulainya lagi dari awal? Seperti saat Puspa belum hadir dalam hubungan ini.”

“Sayangnya dia telah hadir, dan waktu tidak bisa diputar ulang seenteng ucapanmu.”

“Naura,” Luis menarik jemariku, kurasakan ia menggenggamnya erat seolah ingin meremukkan jari-jariku. “Saya masih mencintaimu, Saya tak ingin melepasmu begitu saja.” Katanya lembut.

Aku sedikit melunak mendengarnya. “Luis, cinta tak bisa dipaksakan. Saya sudah tidak mencintaimu sejak tahu kamu berhubungan dengan Puspa.” Kataku, sambil melepaskan diri dari genggaman tangannya.

“Tapi..”

“Saya hanya ingin hubungan ini berakhir dengan damai,” Aku bergegas memotong kalimatnya. “Bagaimanapun, kita pernah menjalin hubungan dalam waktu yang tak bisa dibilang singkat. Bagaimanapun, kamu pernah menjadi orang yang saya cintai.” 

Aku bangkit, menyambar tas di atas meja. Lalu bergegas pergi. Belum beberapa langkah, kudengar Luis berucap.

“Terimakasih untuk semuanya,” Katanya, yang membuatku refleks berbalik untuk menatapnya. 

“Terimakasih pernah mencintai saya, dan terimakasih pernah mencoba mengerti keadaan saya.”

Aku mendekat, kupeluk lelaki itu untuk terakhir kalinya. Hangatnya tak berubah. Kusesap aroma lemon dari kemeja yang dikenakannya.

“Luis, kita tiba di titik persimpangan,” Kataku, melepas pelukan. “Kita mungkin berpisah, tapi mari sama-sama berjuang untuk menjadi manusia yang lebih baik, memantaskan diri untuk pasangan kita di masa depan. Saya yakin akan ada wanita baik yang akan kamu temui jika terus berjalan, dan dia pasti lebih baik daripada saya.” Kataku.

Luis tersenyum sinis. “Jika ternyata kita berjodoh, bagaimana?”

“Kemanapun kita melangkah, jika memang berjodoh, pasti akan bertemu kembali di akhir perjalanan ini. Dan.” Aku berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “saya akan merasa beruntung jika ternyata kita betulan berjodoh.”


2 comments: