June 30, 2017

Last Day #NulisRandom2017



30 Juni 2017.
Ternyata kita sudah di penghujung kegiatan Nulis Random 2017. Saya tidak tahu harus senang atau bahkan sedih?!
Senang karena di hari ke 30 ini artinya saya telah menyelesaikan misi untuk konsisten menulis setiap hari. Sedih juga karena kegiatan yang bermanfaat ini akhirnya akan berakhir. Lantas apakah setelah ini saya, kalian, kita akan terus menulis? Bukan,Masalahnya apakah selepas berakhirnya kegiatan nulis random tahun ini kita masih terus konsisten menulis setiap hari? Saya harap ya!!
Saya ingat betul, sebuah kiriman dibagikan ke beranda facebook saya akhir Mei lalu. Saya yang tertarik sejurus mengklik kiriman tersebut. Sebuah tulisan dari kak Brilliant Yotenega di grup Nulisbuku Community. Beliau mengajak setiap yang melihat kiriman tersebut untuk mengikuti kegiatan nulis randomnya. Kegiatan macam apa? Pikir saya kemudian. Saya membaca dengan seksama. Beliau mengajak setiap orang untuk membiasakan diri menulis, menulis apa saja, bisa berupa cerpen fiksi, cerita perjalanan dan pengalaman, mendeskripsikan gambar, memberi kritikan, atau sekedar coret-coretan kegalauan yang dialami setiap hari. Temanya bebas, apa saja. Menulisnya pun bebas, boleh dimana saja, di beranda facebook, di blog, atau di Instagram juga tidak masalah. Yang penting adalah konsisten setiap hari. Kegiatan diadakan di bulan Juni, dari tanggal satu hingga berakhirnya Juni.
Saya menanggapinya sebagai sebuah tantangan. Saya memang gemar menulis, namun hanya menulis jika saya tengah kosong dan saat mood saya tengah meledak-ledak. Bermodalkan sebuah blog gado-gado yang saya bangun tiga tahun silam dan hanya berisi belasan artikel random, saya dengan semangat menyatakan perang pada nulis random.
Saya tidak bisa mengekpresikan semangat api yang membakar jiwa saya, seolah diwarisi oleh kak Naruto dari desa Konoha Gakure-nya. Saya sudah berandai-andai tulisan apa saja yang akan saya bahas, tema apa yang akan saya usung. Sebenarnya saya hanya mengikuti kegiatan yang sederhana, tidak ada hukuman untuk yang gagal, tidak ada hadiah untuk yang manang. Namun, saya hanya memikirkan untuk menyelesaikan misi saya, menulis dengan konsisten setiap hari. Peduli apa dengan semua itu? Saya hanya bersenang-senang dengan menulis. Motivasi menulis pun tidak bosan-bosannya saya tanamkan dalam batin saya, saya akan malu pada diri sendiri jikalau saya gagal.
Oke! Tiga puluh hari bukan waktu yang lama! Perang tulisan dimulai!!
Saya bahkan sampai menyetel alarm pukul enam pagi untuk mengingatkan agar saya menulis. Itu berhasil. Saya mencoba menulis yang terbaik setiap hari, memilih-milih tema dengan seksama. Saya menulis review tentang film kesukaan saya, menulis review lagu kesukaan saya, mencoba membuat artikel dengan baik dan benar, terkadang juga memberikan tips-tips yang saya tulis sendiri. Awalnya benar-benar terasa enteng. Ah, saya yakin bisa menyelesaikankan tiga puluh hari ini dengan mudah. Bahkan saking semangatnya, saya sudah memikirkan ancang-ancang untuk tulisan saya besok hari dan lusa.
“Saya mau menulis Review film ini deh besok” ucap saya suatu ketika usai menonton salah satu film terbarunya Jackie Chan.
“Apa salahnya kalo saya menulis tentang tips ini. Yang penting bermanfaat. Lusa temanya ini aja deh!”
Bak laron-laron yang menyerbu lampu, ide-ide datang dan berputar-putar di kepala saya. Tentu saya tidak bisa menulis semuanya dalam satu waktu. Saya mulai mengumpulkan apa yang terlintas di kepala saya, menulisnya langsung di laptop, kadang di kertas dan tak ketinggalan draft hape saya mulai penuh dengang potongan-potongan tulisan.
Saya mulai merasakan jiwa menulis saya. Lambat laun saya mulai menikmati tarian jemari saya di atas papan keyboard. Saya mulai menikmatinya seperti melahap nasi beserata lauk-pauk kesukaan saya. Teman saya pernah bilang, menulis itu panggilan alam, kamu tidak bisa memaksakan diri untuk selalu menulis. Kalau begitu, saya ingin menyatu dengan alam agar bisa kapan saja memanggil mood untuk menulis.
Hari-hari awal berjalan dengan lancar. Tidak terasa hari kesepuluh sudah saya lewati. Wah, sisa dua puluh hari lagi. Sepertinya waktu tidak berjalan cepat seperti bayangan saya, waktu berjalan normal. Godaan-godaan terus menghampiri saya, berusaha menghentikan langkah saya yang sudah seperempat jalan itu. Rasanya musim laron sudah berakhir, kini lampu yang menyala itu tidak lagi diputari oleh segerombolan ide-ide yang berterbangan. Singkatnya, saya mulai kehabisan ide. Seperti saya katakan, saya sudah seperempat jalan. Tapi seperempat belum sampai setengah tentu saja. Saya masih lebih dekat dengan garis start. Tidak mengapa jika saya berhenti sekarang.
Aaah!! Apa yang saya pikirkan? Bukankah saya harus menyelesaikan misi? Pikir saya. Ibaratnya lomba lari, saya sudah melewati garis start lalu berlari seperempat putaram, alangkah malunya jika saya berbalik kembali dan menyatakan menyerah? Beruntung, semangat api dari kak Naruto rupanya masih menyisakan bara yang bisa terus saya tiup agar api saya tidak mati merkipun saya kehabisan kayu bakar. Bermodalkan semangat dan ide-ide yang tersimpan di draft hape, saya meneruskan perjuangan menulis. Saya menulis apapun yang ingin saya tulis.
Bukan hanya saya yang berjuang disini, bukan? Dalam waktu senggang saya juga membaca tulisan-tulisan teman-teman seperjuangan di kolom komentar kiriman kak Brilliant Yotenega untuk menambah semangat dan mencari referensi dalam menulis.
Hari ke dua puluh sudah terlewati! Ah, saya sudah lewat setengah putaran. Saya sudah tidak melihat garis start lagi. Sisa sepuluh hari yang harus saya habiskan untuk memenangi perang. Ayoo, semangaaat!!!
Tik tok tik tok!
Hari ke dua puluh satu. Sepertinya waktu berjalan sedikit lambat. Semakin saya mendekati garis finish, godaan yang saya terima semakin besar saja. Dari pagi hingga sore hari saya disibukkan dengan urusan perkuliahan saya yang belum selesai. Harus daftar ulang lah, mengurus berkas lah, mendaftar PKK lah, ya begitulah keseharian saya saat mendekati garis finish. Sampai-samapi laptop kesayangan tergeletak begitu saja. Ditambah lagi semangat api saya sepertinya sudah benar-benar padam. Hanya tersisa abu saja. Saya tidak punya kayu bakar lagi. Saya pikir sudah cukup sampai disini saja, sepertinya saya tidak akan berhasil. Entah mengapa saya begitu malas kembali menulis.
Tapi heeey!!! Saya menjadi gelisah juga jika belum menulis pada hari itu. Sepertinya saya sudah mendapati menulis sebagai suatu kesukaan saya, suatu kewajiban yang membuat jiwa saya resah tatkala tidak mengeluarkan unek-unek saya dalam bentuk tulisan. Yaa, belum lagi mencapai garis finish, saya sudah merasakan hasilnya. Ini yang saya mau, menyatu dengan alam jika memang menulis adalah panggilan alam.
Disela-sela waktu, saya masih memperhatikan tulisan teman-teman yang lain. Ada yang menulis cerita jenaka sehingga saya tertawa terbahak-bahak, ada juga tulisan penuh makna milik Ayu Emiliandini, ada juga Dear Facebook yang ditulis konsisten dari awal hingga akhir oleh Selvia Lusman, ada juga member yang begitu semangat selalu memberi like dan mengingatkan yang lain agar tidak lupa menyetor tulisan, Fika Gobel kalau tidak salah namanya. Semua masih berjuang dengan cara yang berbeda, dengan semangat yang tidak pernah putus. Kak Brilliant Yotenega juga selalu memberikan motivasi setiap memulai hari. Betapa malunya saya jika mengakhiri kisah seru ini hanya sebatas setengah perjalanan. Ya, saya harus lanjut hingga ke garis finish.
Saya selalu menyempatkan diri untuk menulis baik disela-sela menunggu waktu berbuka puasa, sehabis pulang tarawih dan saat menunggu adzan subuh usai makan sahur. Saya masih menulis, meskipun saya kedapatan hampir terlambat saat memposting di blog saya dan membagikannya di kolom komentar nulis random. Manulis apa saja, saya meulis keresahan saya. Saya masih menulis dan selalu menulis hingga terbentuknya tulisan ini dan Insyaallah sampai kapanpun.
Dan tulisan ini melengkapi satu bulan saya yang berjuang bersama nulis random untuk menjadi konsisten menulis. Tulisan ini mengantarkan saya pada kemenangan dalam perang besar ini. Tentu saja bersama teman-teman yang lainnya. Tapi tulisan ini bukan akhir dari perjuangan, saya masih akan terus hadir dengan tulisan-tulisan saya meskipun bukan untuk di setor di blog. Karena menulis akhirnya menjadi bagian dari diri saya.
Melalui sebulan bersama nulis random tidak hanya menjadikan saya konsisten menulis. Ada lebih banyak hal yang saya dapatkan. Saya mencoba melatih skill  menulis saya yang masih berantakan, juga mengorek ide-ide baru malalui tulisan teman-teman yang laiinnya.

Kesimpulannya, saya senang menulis, semua senang menulis. Tinggal bagaimana caranya agar menjadi konsisten dalam mengekspresikan tulisan kita, seperti sebuah kebutuhan. Memang godaan akan terus datang, godaan itu datangnya dari diri sendiri. Yaap!!! Seperti yang Harris J sampaikan pada singlenya yang berjudul Save Me From Myself, bahwa musuh terbesar kita dalah diri sendiri. Rasa malas. Jika kita bisa melawannya, maka kita bisa memenangkan pertarungan.

June 28, 2017

Untuk Sahabatku: Move On dan Cinta




Untuk sahabat baikku,
Aku ingat harus menjawab pertanyaan yang kau utarakan tempo hari di taman kota.
Saat itu kau menangis terisak-isak, matamu sampai lebam karena terus menerus kau paksa bekerja mengalirkan buah kesedihan. Kulihat kau tidak berdaya kala itu.
Aku ingat kau memelukku. Aku membalasnya sambil menepuk-nepuk pundakmu, sesekali kubelai kepala yang berbalut jilbab merah marun itu. Tiada kata yang kau ucapkan dalam waktu yang lama hari itu. Sampai matahari bertahta di ujung barat, sinar jingganya menyadarkan kita dari lamunan. Kupikir pertemuan itu akan benar-benar berakhir tanpa kata hingga kau bangkit dan tersenyum padaku,

“Apakah move on itu ada?” Tanyamu.

Kemudian kau berjalan pergi.
Sebaris  kalimat yang keluar dari bibirmu membuatku lega. Aku tahu kau tengah berjuang melawan perasaanmu. Teruslah begitu, ya!
Hari itu aku ingin mencoba menjawabnya. Lagi-lagi masalah hati dan cinta yaa..

Apakah move on itu ada?
Aku tidak tahu. Aku harap itu tidak ada.

Sahabatku,
Ada teori cinta yang pernah aku baca, aku sering kali menulisnya,
Ketika kau dilahirkan, kau hadir dengan sebongkah hati.

Apa kau tahu? hatimu itu punya banyak sekali ruang, kau bisa masukkan siapa saja yang kau sayang dalam setiap ruangnya. Lalu kau bisa menguncinya. Dan suatu waktu pun kau bisa menelantarkannya, membuangnya dari ruang itu jika kau dapati kau beralih membencinya. Tapi ada satu ruangan terlarang di sana, ruangan yang selalu terbuka, kau tak punya kendali atasnya. Tepatnya ruangan tak berpintu sehingga siapapun bisa masuk dan keluar.

Ketika kau jatuh cinta itu artinya kau membiarkan dia menerobos ruangan itu. Saat itu terjadi, Hati-hati! dia bisa mengobrak-abrik isi hatimu, membuat perasaanmu tak menentu, menghiasi hatimu dengan seribu mawar merah sehingga kau jadi berbunga-bunga dibuatnya, namun bisa juga dia hancurkan hatimu.
Tidak mudah menuntunnya keluar dari sana. Meskipun berhasil kau campakkan dia keluar, bukankah jejaknya masih tertinggal?

Sahabatku,
Masalahnya bukan pada itu, percayalah kau tidak membutuhkan yang namanya move on. Rasa ingin melupakan itu hanya muncul karena kau merasa lelah mencintai, muak dengan takdir yang tak kunjung mempersatukan.

Sahabatku,
Jika ingin kecewa, silahkan saja.
Kalau merasa tidak bisa membendung air matamu lagi, menangislah.
Hati ini rumit, sahabatku.
Kau hanya merasa lelah, beristirahatlah sejenak di bawah pohon nan rindang itu, nikmatilah angin sepoi-sepoi, rasakan matahari menyengat kulitmu. 

Sahabatku,
Tempat yang sama hanya menghasilkan ingatan pada kenangan yang sama. Kenangan pahit untukmu. Carilah tempat lain untuk bersinggah, tidak masalah jika kau masih mencintainya, cintai juga yang lain. Biarkan yang lain memasuki labirin hatimu untuk menghapus jejak yang tertinggal.

Sahabatku,
Kau tidak perlu memaksakan hatimu untuk melupakannya.
Selama kau punya hati, pasti selalu ada rasa sakit.
Aku pernah membaca sebuah quotes dari seorang penulis kisah cinta termahsyur, begini tulisnya;

"If you love and get hurt, love more.
If you love more and get hurt more, love even more.
 If you love even more and get hurt even more, love some more.
Until it hurts no more! "- William Shakespeare

Entah mengapa motivasi tersebut sangat cocok untukmu.

June 25, 2017

Juni dan Do'a




Serumit apapun masalahnya,
Ingatlah Tuhan.
Tuhan tidak menelantarkanmu,
tidak pernah mengabaikanmu,
tidak mengalihkan pandangan-Nya darimu.
Kenapa Tuhan harus perduli dengan keinginanmu sementara Dia tahu kebutuhanmu?
Tuhan,
Biarkan aku tetap bernaung dibawah kuasa-Mu.
Apapun yang terjadi, kemanapun aku melangkah.
Terus dekap aku dalam buai kasih-Mu.
Karena tanpa-Mu, aku bahkan lebih hina dari sebutir debu.

June 24, 2017

Untukmu, Pangeran



Untukmu, Pangeran
Ditulis dengan cinta, tapi tak perlu kau baca dengan hati



Kudengar katak-katak bernyanyian riang.
Kudengar gemeresik dedaunan dihantam angin.
Pun kudengar suara bebek-bebek yang kehujanan.
Kudengar banyak hal, tapi sepasang retinaku menangkap sosokmu di ujung jalan kecil itu. Kau tertawa lepas dan aku memperhatikan.

Malam yang sendu kala itu, aku ingin kembali menulis untukmu. Surat cinta lagi. Ya, masih tertuju padamu. Apa kabar, Pangeran? Masih terbangunkah dirimu? Boleh kan jika mengenang sedikit cerita kita? Tak mengapa, tutup saja matamu jika tak ingin peduli. Himpitkan kedua telingamu di antara kasur dan bantal empukmu. Lamunkan pekerjaanmu yang bertumpuk itu agar tak kau dapatkan wajahku mengganggu mimpimu.

Untukmu, Pangeran.
Aku tak pernah punya alasan lebih mengapa selalu menggores cerita kita pada selembar kertas. Baiklah! Kurasa lebih pantas disebut ceritaku. Aku selalu ingat kali pertama kita bertemu di suatu malam. Bukan purnama yang mempertemukan kita, hanya semburan ombak ganas yang membawamu ke hadapanku. Mentari tak memperlihatkanmu, melainkan gemuruh ricuh dari kumpulan petir. Hujan saat itu mengisi halaman pertama dalam lembaran baru, aku dan kau.

Untukmu, Pangeran.
Mungkin untuk waktu yang lama, aku terjebak dalam rasa, terbuai oleh ilusi. Satu-satunya yang dapat aku lakukan adalah menghayalkanmu. Mengharap pada apa yang sulit terjadi. Menunggu apa yang tidak sekalipun pernah menghampiriku. Mendamba apa yang jelas-jelas bukan milikku. Harus aku katakan bahwa aku tak pernah mengerti dirimu. Tapi parahnya, aku lebih tidak mengerti diriku. Misalnya, saat acap kali pertanyaan ini meletup dalam kepalaku, mengapa aku jatuh cinta padamu?

Untukmu, Pangeran dengan senyum menawan.
Mencintaimu adalah anugerah, menunggumu adalah perjuangan, menulis tentangmu bukan sekedar mengusir jenuh, inilah caraku mengungkap rasa yang terus mendesak hati serta menuang kata demi kata yang tak sanggup kuucapkan. Beginilah catatan keresahanku. Isinya sekedar kejujuran dari dalam hati kecil, rasa yang terus aku kirim tapi tak pernah sampai pada dirimu. Ya, Pangeran.

Untukmu, Pangeran
Aku tidak bisa bertahan dari pesonamu. Aku tulis sekali lagi, aku jatuh cinta padamu. Terdengar sedehana. Tapi kau tahu? Rasanya menusuk hatiku. Entah kapan cinta itu dengan lancang mendobrak pintu, tanpa permisi menerobos masuk lalu mengobrak-abrik hatiku, menempeli setiap sisi dinding merah kehitam-hitamannya dengan gambar wajahmu,  memenuhi setiap sudut dengan pigura dirimu yang tengah berpose gagah. Lucu ya...

Kapan kau akan membalas surat ini? Menulislah sekali untukku. Tidak perlu membuat janji, berbagi cerita saja sudah cukup. Boleh aku tanya sesuatu, sebenarnya ke mana kau bawa hatiku? Berlayar ke samudera tak berujung kah? Ah, sial! Aku terjebak rupanya. 

Tapi, Pangeran. Aku tidak egois, kok. Aku tidak sedang mendesakmu untuk membalas rasa ini. Coba baca kata-kata sok puitis ini; Saat kulihat mereka mendapati yang lebih dekat dan aku mendapati kamu makin jauh. Jalan ini terasa hambar. Tapi kuyakin Tuhan punya cara dalam menabur rasa dan warna. Siapa yang tahu, kehambaran ini kelak berubah menjadi lolipop aneka rasa, menyenangkan untuk dinikmati. Ilusi ruang hitam ini kelak dihiasi pelangi dan warna senja. Tangan Tuhan tak pernah salah mendekap, begitupun takdir. Mungkin kini saatnya aku percayakan alur cerita kita pada takdir. Saat nanti dipertemukan, aku pasti berjuang lagi. Anggaplah kamu sebagai hadiah terbaik dari kesabaran.

 Untukmu, Pangeran.
Sudahlah, jangan merasa canggung begitu saat membacanya. Kau tahu aku selalu mencintaimu meskipun tak pernah aku dapati rasamu untukku. Tidak mengapa. Bukankan cinta masih tetap buta? Cinta tidak kenal memilih, tidak bisa menunggu kapan hadirnya. Cinta akan tetap buta, kau tahu itu.

Untukmu, Pangeran.
Ditulis dengan sepenuh cinta, tapi tidak perlu kau baca dengan sepenuh hati. 

June 23, 2017

Masih Takut Menghadapi SNMPTN? Yuk Baca Tips-Tipsnya

‘Kak, gimana biar bisa lolos SNMPTN?’
‘Kak, emang bener kalo SNMPTN harus milih universitas daerah sendiri?’
‘Kak, saya mau milih jurusan A di universitas B, tapi takut gagal’
‘Kak, kalau saya ambil jurusan anu kira kira dengan nilai segini bisa lolos nggak?’
Sering kali pertanyaan seperti itu kerap saya terima dari adek-adek seperjuangan. Nah, hari ini karena sedang kosong saya kepikiran untuk berbagi sedikit tips buat semuanya. Berhubung saya baru saja melewati fase-fase ini, jadi nggak ada salahnya saya berbagi sedikit informasi buat adek-adek sekalian.
Banyak sekali siswa-siswi yang beruntung untuk mengikuti jalur seleksi nasional tanpa tes yang kita kenal sebagai SNMPTN. Tapi di antara banyak sekali itu kebanyakan masih bingung untuk menghadapinya. Mengapa? Yang kita tahu nih, yang pintar-pintar sekali belum tentu lolos, yang nilai raportnya stabil terus belum tentu lolos, yang nilainya biasa-biasa aja bisa lolos. Yup, benar! SNMPTN memang penuh misteri. Salah-salah strategi, bisa-bisa kalian melewati kesempatan emas ini dengan penyesalan. Nah, Jika kalian masih takut menghadapi SNMPTN, yuk baca tips-tipsnya.
Oke, kita mulai dari yang pertama,
Pilihlah Universitas, Fakultas dan Prodi yang sesuai dengan nilai raportmu.
‘Dengan nilai segini, aku bisa masuk ke mana?’
Pikirkan dengan seksama adik-adikku, kalau perlu kalian bisa konsultasi dengan guru BK di sekolah, konsultasi di sini dimaksudkan agar kalian bisa lebih paham tentang dunia yang akan kalian masuki nantinya. Kalian boleh meminta saran dari guru tentang kecocokan nilai kalian dengan prodi pilihan, jangan ragu.  Tapi harus diingat juga, pilihlah prodi yang sesuai dengan minat kalian, jangan hanya memikirkan yang penting lolos saja karena ini berhubungan dengan masa depan kalian.
Pertama, pikirkanlah prodi apa yang kalian mau? Pikirkan juga alasannya mateng-mateng kenapa kalian tertarik ke sana. Kalau benar-benar sudah sreeek, pikirkan juga ke universitas mana kalian mau masuk? Apakah di universitas A atau universitas B. Pikirkan alasannya, mintalah persetujuan orang tua dahulu.
Kadang-kadang muncul lagi pertanyaan ‘Harus memprioritaskan universitas di daerah sendiri ya?’
Kalo menurutku pribadi sih enggak juga, kok. Kalau kalian benar-benar mau keluar daerah silahkan saja, asal nilai kalian sesuai kriteria universitas tujuan, pasti keterima. Tapi saran sih, kalau prodi yang kalian pilih itu ada di universitas di daerah kalian dan akreditasinya juga udah bagus, apa salahnya memprioritaskan universitas di daerah kita?
Pertanyaan sejenis lainnya ‘Katanya nggak boleh menduakan universitas di daerah asal ya?’
Maksudnya disini menaruh universitas di daerah asal pada pilihan kedua saat mendaftar SNMPTN. Jujur saya nggak tau pasti, memang banyak peserta SNMPTN yang menduakan universitas daerah asal berakhir dengan kegagalan, tapi toh banyak juga yang memprioritaskan universitas daerah asal juga nggak lolos. Jadi ini masih tetap menjadi misteri hingga sekarang.
Lihat peluang pada prodi yang dipilih
Yuup, lihat peluang pada prodi yang dipilih. Lihatnya dimana? Cari saja di google bertebaran, kok. Kalian harus tahu seberapa banyak peminat pada prodi pilihan kalian pada tahun-tahun silam dan berapa orang yang diterima. Kalian bisa mencari di google dengan kata kunci kira-kira seperti ini ‘Jumlah peminat prodi A universitas B pada tahun C’
Perhatikan urutan Prodi pilihan ya
Apa maksudnya perhatikan urutan prodi pilihan?
Nah, yang ini nggak kalah penting karena berdasarkan survei, banyak juga yang melakukan kesalahan pada poin ini dan akhirnya gagal lolos SNMPTN.
Begini, urutkan program studi sesuai passing grade (PG), misal prodi A PGnya lebih besar ketimbang PG prodi B, kalian harus tempatkan prodi A pada pilihan pertama dan prodi B pada pilihan kedua, jangan terbalik yaa.
Kesalahan lainnya yang sering ditemui yaitu pada jurusan prodi itu sendiri. Misalnya kalian anak IPA, kemudian kalian mau ambil prodi hukum (IPS) *misalnya, tapi kalian tempatkan prodi hukum itu di pilihan kedua, sementara di pilihan pertama kalian ambil prodi IPA, nah kalau kalian gagal di prodi pertama, kemungkinan besar kalian gagal juga di pilihan kedua. Kenapa? Bayangin dong, udah melenceng dari jalur dan kalian menduakan pula. Gimana nggak sakit tuh? *elaah Bukannya anak IPA nggak boleh ambil jurusan IPS, banyak kok anak IPA keterima di akuntansi atau manajemen melalui SNMPTN, hanya urutan pemilihan harus kalian perhatikan. Kalau memang pengen ambil jurusan IPS tapi kalian berasal dari IPA, saranku sebaiknya prodi IPS itu ditaruh di pilihan pertama, jangan kedua.

Lengkapilah daftar prestasi
Usut punya usut, ternyata ini penting gaaees, jadi jangan remehkan kolom daftar prestasi kalian yaa. Sebagian besar dari kita mungkin menganggap ini tidak terlalu berpengaruh, apalagi untuk mencantumkan daftar prestasi saat mengisi data SNMPTN lumayan ribet. Tapi fakta di lapangan berkata lain, daftar prestasi benar-benar mempengaruhi kelulusan kalian. Cantumkanlah walaupun hanya satu.

Jangan Lupa Berdoa
Kalau semua sudah dilakukan. Tentu saja kalian harus tetap berdoa, semoga nasib baik berpihak pada kalian para pejuang SNMPTN.
Kalaupun kalian gagal, ya nggak apa-apalah namanya juga persaingan. Ingat! Gagal di SNMPTN bukan akhir dari perjuangan kalian, masih ada SBMPTN kok, masih ada tes kedinasan juga. Masih banyak jalan buat kalian adik-adikku :*
Anyway, saya sendiri termasuk pejuang SBMPTN. Hal-hal di atas hanya sekadar tips-tips saja, barangkali mash terdapat kesalahan pada hal yang saya tulus, boleh dikoreksi di kolom komentar yaa. Selamat berjuang di arena SNMPTN wahai adik adikku  :)

June 15, 2017

Deretan Lagu Pengantar Tidur (Versi Saya)



Biasanya sebelum tidur suka ngapain? Kalau saya sendiri paling enak dengerin lagu sebelum tidur. Meskipun mendengarkan lagu sambil tidur tidak dianjurkan, tapi saya punya cara dengan set timer 15 menit supaya lagu mengantarkan saya ke dunia mimpi dan setelah saya tertidur, lagu pun mati dengan sendirinya. Pasti banyak nih yang sama seperti saya, suka mendengarkan lagu-lagu sebelum tidur. Apalagi kamu yang tengah galau itu, iya kamu :D
Kadang kala kita kesulitan untuk tidur meskipun mata sudah mengantuk berat, mendengar lagu akan menjadi pilihan yang bagus saat kita insomnia. Ada yang bilang semua lagu akan nikmat jika didengar disaat yang tepat. Memang benar, tidak semua lagu enak didengar saat akan tidur. Enaknya yang slow-slow gitu ya, kalau kamu putar lagu Rock, bisa-bisa jantung bakal copot mendadak.
Nah, apa saja sih lagu-lagu yang enak didengarkan saat akan tidur itu? Oke, saya akan bahas satu-persatu tapi ini versi saya ya, beda telinga beda pendengaran :D
Cekidot!
1.      Miley Cirus - We wont Stop
Dimulai dengan lagunya Miley Cyrus berjudul We Wont Stop. Sebenarnya lagu ini nadanya tidak terlalu lembut  untuk menjadi pengantar tidur. Tapi suara Miley itu yang menurut saya lembut dan halus sekali waktu nada-nadanya masuk ke telinga. Saya selalu mengantuk kalau dengar lagu ini meskipun sebenarnya liriknya menceritakan party yang tidak ingin diakhiri. Biarkan judulnya We Won’t Stop, tapi saya akan rehat sebentar setelah mendengar lagu ini.

2.      Letto – Truth, Cry and Lie
Truth Cry and Lie yang merupakan salah satu lagu dalam album Letto dengan judul sama. Lagu ini selalu hadir dalam list lagu saya baik saat akan tidur maupun saat ingin mendengarkan lagu.
Saya suka sekali sama lagu ini, liriknya begitu bermakna, nadanya juga lembut untuk didengarkan sambil memejamkan mata, musik yang mengiringi juga tidak keras sehingga akan nyaman untuk membuat kita tertidur. Ketika mendengar lagu ini, sering kali tanpa sadar kita akan terbuai sambil mengikuti liriknya hingga tertidur pulas.

3.      Westlife ft. Diana Ross – When You Tell Me that You Love Me
Ada yang sudah mendengar lagu ini atau bahkan suka mendengarkannya? Lagu yang penuh emosi ini dinyanyikan oleh Diana Ross dan Westlife ini bukan hanya enak dinyanyikan bersama pasangan. Buat kamu yang statusnya jones a.k.a tidak punya pacar, lagu ini juga cocok kok kamu dengarkan, saat akan tidur.
Pertama kali saya mendengar lagu ini di acara pernikahan saudara jauh saya, sepasang kekasih yang mungkin sahabat mempelai naik ke atas panggung dan menyanyikan lagu ini dengan penuh penghayatan. Awalnya agak kurang ngerti sama lirik yang dinyanyikan, tapi nada-nada yang terlantun dan emosi yang disampaikan membuat saya spontan jatuh hati sama lagu ini.


4.      Beethoven - Für Elise
Musik klasik juga bisa menjadi pilihan untuk didengarkan sebelum tidur. Nah, saya merekomendasikan alunan piano yang dimainkan oleh komposer terkenal, Ludwig van Beethoven.
Nadanya sangat nyaman didengarkan, mengalir halus, membawa ketenangan, dan mengalun dengan lembut, begitulah perasaan saya saat mendengarkan musik klasik ini. Tidak percaya? Coba saja dengarkan.

5.      Ed Sheeran – Fotograph
Sebenarnya saya tidak punya cukup alasan mengapa lagu ini saya ikutkan dalam daftar lagu pengantar tidur. Saya suka suara Ed Sheeran, kebetulan lagu ini nadanya memang cocok sekali menjadi pengantar tidur. Suaranya lembut dan entah mengapa selalu membuat saya terlelap. Sama seperti saat saya mendengarkan lagu One Direction yang berjudul Little Things.


7.   Christian Bautista – The Way You Look at Me
Terakhir, lagunya Christian Bautista berjudul The Way You Look at Me. Serius, alunan suara piano yang mengiringi lagu ini sangat enak didengar. Ditambah lagi suara merdu dari sang penyanyi. Lagu ini sudah melengkapi list lagu saya yang akan diputar sebelum tidur.

Demikian saja daftar lagu yang saya berikan, kalau ada yang ingin menambahkan, silahkan di kolom komentar : )