June 24, 2017

Untukmu, Pangeran



Untukmu, Pangeran
Ditulis dengan cinta, tapi tak perlu kau baca dengan hati



Kudengar katak-katak bernyanyian riang.
Kudengar gemeresik dedaunan dihantam angin.
Pun kudengar suara bebek-bebek yang kehujanan.
Kudengar banyak hal, tapi sepasang retinaku menangkap sosokmu di ujung jalan kecil itu. Kau tertawa lepas dan aku memperhatikan.

Malam yang sendu kala itu, aku ingin kembali menulis untukmu. Surat cinta lagi. Ya, masih tertuju padamu. Apa kabar, Pangeran? Masih terbangunkah dirimu? Boleh kan jika mengenang sedikit cerita kita? Tak mengapa, tutup saja matamu jika tak ingin peduli. Himpitkan kedua telingamu di antara kasur dan bantal empukmu. Lamunkan pekerjaanmu yang bertumpuk itu agar tak kau dapatkan wajahku mengganggu mimpimu.

Untukmu, Pangeran.
Aku tak pernah punya alasan lebih mengapa selalu menggores cerita kita pada selembar kertas. Baiklah! Kurasa lebih pantas disebut ceritaku. Aku selalu ingat kali pertama kita bertemu di suatu malam. Bukan purnama yang mempertemukan kita, hanya semburan ombak ganas yang membawamu ke hadapanku. Mentari tak memperlihatkanmu, melainkan gemuruh ricuh dari kumpulan petir. Hujan saat itu mengisi halaman pertama dalam lembaran baru, aku dan kau.

Untukmu, Pangeran.
Mungkin untuk waktu yang lama, aku terjebak dalam rasa, terbuai oleh ilusi. Satu-satunya yang dapat aku lakukan adalah menghayalkanmu. Mengharap pada apa yang sulit terjadi. Menunggu apa yang tidak sekalipun pernah menghampiriku. Mendamba apa yang jelas-jelas bukan milikku. Harus aku katakan bahwa aku tak pernah mengerti dirimu. Tapi parahnya, aku lebih tidak mengerti diriku. Misalnya, saat acap kali pertanyaan ini meletup dalam kepalaku, mengapa aku jatuh cinta padamu?

Untukmu, Pangeran dengan senyum menawan.
Mencintaimu adalah anugerah, menunggumu adalah perjuangan, menulis tentangmu bukan sekedar mengusir jenuh, inilah caraku mengungkap rasa yang terus mendesak hati serta menuang kata demi kata yang tak sanggup kuucapkan. Beginilah catatan keresahanku. Isinya sekedar kejujuran dari dalam hati kecil, rasa yang terus aku kirim tapi tak pernah sampai pada dirimu. Ya, Pangeran.

Untukmu, Pangeran
Aku tidak bisa bertahan dari pesonamu. Aku tulis sekali lagi, aku jatuh cinta padamu. Terdengar sedehana. Tapi kau tahu? Rasanya menusuk hatiku. Entah kapan cinta itu dengan lancang mendobrak pintu, tanpa permisi menerobos masuk lalu mengobrak-abrik hatiku, menempeli setiap sisi dinding merah kehitam-hitamannya dengan gambar wajahmu,  memenuhi setiap sudut dengan pigura dirimu yang tengah berpose gagah. Lucu ya...

Kapan kau akan membalas surat ini? Menulislah sekali untukku. Tidak perlu membuat janji, berbagi cerita saja sudah cukup. Boleh aku tanya sesuatu, sebenarnya ke mana kau bawa hatiku? Berlayar ke samudera tak berujung kah? Ah, sial! Aku terjebak rupanya. 

Tapi, Pangeran. Aku tidak egois, kok. Aku tidak sedang mendesakmu untuk membalas rasa ini. Coba baca kata-kata sok puitis ini; Saat kulihat mereka mendapati yang lebih dekat dan aku mendapati kamu makin jauh. Jalan ini terasa hambar. Tapi kuyakin Tuhan punya cara dalam menabur rasa dan warna. Siapa yang tahu, kehambaran ini kelak berubah menjadi lolipop aneka rasa, menyenangkan untuk dinikmati. Ilusi ruang hitam ini kelak dihiasi pelangi dan warna senja. Tangan Tuhan tak pernah salah mendekap, begitupun takdir. Mungkin kini saatnya aku percayakan alur cerita kita pada takdir. Saat nanti dipertemukan, aku pasti berjuang lagi. Anggaplah kamu sebagai hadiah terbaik dari kesabaran.

 Untukmu, Pangeran.
Sudahlah, jangan merasa canggung begitu saat membacanya. Kau tahu aku selalu mencintaimu meskipun tak pernah aku dapati rasamu untukku. Tidak mengapa. Bukankan cinta masih tetap buta? Cinta tidak kenal memilih, tidak bisa menunggu kapan hadirnya. Cinta akan tetap buta, kau tahu itu.

Untukmu, Pangeran.
Ditulis dengan sepenuh cinta, tapi tidak perlu kau baca dengan sepenuh hati. 

2 comments:

Tambahkan Komentar
EmoticonEmoticon