February 18, 2019

Senja di Waktu yang Berbeda



Senja dahulu kala...

Sepasang kaki tanpa alas pernah mengukir tawa di pasir pantai itu

Berlarian mengejar ombak yang menepi

Terbenam dalam waktu sampai siluet menghitam



Senja di lain hari...

Sepasang kaki tanpa alas saling berdiri canggung di pasir kemarin

Sama-sama ragu untuk berlari menjamah sisa sore yang tertinggal

Padahal ombak yang menepi masih sama seperti dahulu

Siluet yang dulu dikagumi seolah tak berarti lagi

Kita saling diam,

Merutuk pada bulir kristal bening yang jatuh di pasir yang dulu menyimpan tawa

Kita saling terpaku dalam diam yang menyayat

Ragu-ragu, kuangkat kepala untuk menatapmu

Pandanganmu jatuh menembus langit jingga hingga ke ujung batas pandang

Dari diammu, kulihat keputusasaan

Kebimbangan untuk mengakhiri

Lalu kita sama-sama membuang muka


Senja hari ini..

Semua masih sama, apa adanya di tempat semula

Air laut masih menyapu pantai secara berkala

Senja masih membisu dalam jingga

Pasir yang kuinjak masih selembut sebelumnya

Tak ada yang berubah

Kecuali kita



February 15, 2019

FICTION | Alien-Alien Singgah


* Fiction

* NB: Pernah diterbitkan di Plukme.com

Remang-remang kehidupan terus berjalan. Secepat denting jam dinding, perubahan bergulir. Dulu, tujuh tahun lalu aku masih sempat-sempatnya ngeloyor ngalor ngidul sehabis kuliah atau sekadar telungkup manis di atas kasur mengotak atik laptop.

Namun apa daya, bagaimanapun masa lalu tak ubahnya tinggal kenangan saja. Tersimpan rapi di barisan paling pojok rak-rak ingatan. Tinggalkan masa lalu, jalani  masa kini, begitu kata Pakdeku tiga tahun silam. Entah mengapa menilik masa lalu kini terasa lebih menyenangkan dibanding melenggang melewati masa sekarang.

Ah, kerinduanku begitu membuncah pada kenangan tujuh tahun silam, hari terakhir saat dunia masih begitu tenteram untuk dihidupi. Katanya, masa depan sekarang adalah cerminan masa lalu. Tapi aku tak menemukan kesalahan besar di masa lalu sehingga masa depan sekarang begitu kelam. Jika karena tumpukan sampah, moral yang semakin rendah, sikap hedonisme merajalela, atau banyak perang membuncah adalah sebuah kesalahan. Lantas inikah hukuman yang harus diterima?! Kedatangan makhluk asing yang sukses menjarah dunia. Sungguh diluar jalur pikiranku.

Aku terlonjak bukan kepalang saat terdengar bunyi berisik di depan mulut goa, bunyi melengking yang memekakkan telinga. Aku menutup mulut rapat-rapat, aku begitu takut hembusan napas kecil saja akan membongkar persembunyianku.

Ya, beginilah mirisnya aku—kami semua. Enam tahun yang lalu, masih terngiang jelas dalam ingatanku, waktu itu matahari bersinar malu-malu, dedaunan tak henti-hentinya melambai diikuti kicau burung, jalanan macet parah seperti biasa. Pagi itu begitu ceria hingga tanpa aba-aba atau peringatan bunyi sirine, langit biru tiba-tiba berpusar, bulatan matahari dipenuhi bayangan hitam yang begitu besar, suara raungan aneh deru mesin memenuhi udara yang terserap ke telinga. Angin berhenti sejenak dalam kebisingan itu, pun aktifitas padat makhluk hidup pagi itu. Semua indera terfokus pada benda aneh yang semakin menyebar memenuhi cakrawala. Semakin lama, semakin banyak, semakin menakutkan.

Tak lama, setiap sudut kota dipenuhi teriakan histeris. Gedung bertingkat seribu runtuh dalam waktu sekian nano detik. Makhluk-makhluk itu mulai menguasai semuanya. Matahari kami, air kami, bahkan udara segar kami. Teknologi-teknologi canggih yang dipersiapkan sejak jauh-jauh hari tak bisa membantu banyak. Bahkan uang yang notebane begitu berkuasa kini membisu. Setiap suara yang terdengar hanya melengkingkan satu kata, “Tolong!!”

Sejak itu hari-hari tak pernah sama lagi. Tak ada yang berani menyambut datang dan tenggelamnya mentari pagi. Bahkan sekedar duduk termenung di bawah sinar bulan dan bintang pun tak ada yang berani. Tujuh tahun berlalu, kami hidup dalam pusaran ketakutan dan kepasrahan. Setitik perjuangan rasanya tak akan membawa hasil. Di sinilah aku sekarang, mengubur semua angan, impian, dan cita-cita akan masa depan yang kurancang tujuh tahun silam dalam goa sempit di bawah jurang. Hari-hariku kuhabiskan untuk mengkhayalkan masa lalu, meresapi setiap hari yang sudah terlewati. Dulu, kata syukur begit sulit mengalun dari bibirku, kini untuk sekedar melihat cahaya kecil dari sela-sela dinding doa saja aku langsung bersujud sambil terisak tersedu-sedu.

Kugoyangkan badan untuk merenggangkan ototku yang keram, sebuah kertas melayang jatuh dari ransel merahku. Kuraih kertas pucat tersebut, sisi-sisinya sudah dikikis rayap tapi aku masih bias membaca jelas tulisan yang tertera. Sebuah surat untukku sepuluh tahun kemudian yang aku tulis tujuh tahun lalu. Aku tersenyum kecut membaca setiap harapan besar untuk hidupku yang aku rangkai begitu indah. Lihatlah kenyataannya kini, tiga tahun lagi menuju sepuluh tahun setelah surat itu kutulis tapi harapan sudah kandas. Ah, seandainya aku bisa menulis surat untuk diriku di masa lalu. Aku hanya ingin berkata, jangan terlalu banyak berharap. Berharap itu berat. Kamu tak akan sanggup. Lebih baik bersyukur saja.

~~~

February 12, 2019

Rindu yang Tak Terusik

* Catatan 0219
* Ditulis dini hari saat terbangun dari mimpi buruk
* With love


Rindu adalah duka, sekaligus bahagia. Aku ingin bercerita tentang sebuah rindu yang letaknya di sudut hatiku. Tak terjamah kata, tak terusik oleh waktu. Ia tetaplah rindu, dan akan selalu mewujud rindu sepanjang waktu.

Rindu ini begitu spesial sehingga kubiarkan ia hadir tanpa pernah kucoba mengusirnya. Di waktu-waktu sendu, kubiarkan ia menari-nari dalam kepala, seperti kaset usang yang diputar ulang, menampilkan rentetan kenangan di tahun yang telah lalu. Sementara aku menonton dengan khidmat sampai berurai air mata.

Ia bukanlah rindu untuk sosok nun jauh di antahbarantah sana, pun bukan pula rindu untuk teman lama. Ia adalah rindu untuk sosok ayah.

Jadi, bagaimana rindu ini bermula terjadi pada 6 tahun silam. Bagiku, Ramadhan pada tahun 2013 adalah tahun tersedih yang harus dilewati. Peristiwa itu terjadi menjelang minggu-minggu terakhir Ramadhan. Peristiwa yang benar-benar berdampak besar bagi keluarga kecil kami, menguras air mata, dan kukatakan sebagai suatu momen yang tak diinginkan oleh anak manapun.

Ayahku, yang akrab kupanggil 'papa' pada akhirnya harus mengalah dalam usahanya berjuang melawan penyakit liver yang dideritanya. Hari itu hari minggu, tanggal 4 Agustus. Aku masih ingat sekali, lepas adzan subuh, saat embun masih bergantungan di dedaunan mawar dan pucuk-pucuk rerumputan, sebuah mobil ambulan berhenti di depan rumah. 

Petugasnya menurunkan seseorang dari belakang. Ibu menangis, memelukku. Lalu berbondong-bondong orang menyesakki rumah kami. Banyak tangis yang pecah, doa dipanjatkan di setiap sudut rumah. Keluarga jauh semua berkumpul, menangisi kepergian sambil membicarakan kenangan-kenangan masa lalu yang begitu sedap didengar. Aku diam, menggigiti bibir untuk menghentikan tangisan. Namun setiap ada yang menangis--entah siapapun itu--sialnya aku malah ikutan menangis lagi. Tak lama, keranda digotong pergi. Sejak saat itu rumah terkadang menjadi begitu kosong.

Waktu yang berlalu, sayangnya tak memudarkan kenangan. Ingatan pada sosok lelaki lembut pekerja keras itu, meski terkadang kabur, namun tetap sering menyesaki kepalaku. Tak jarang membuat aku sesenggukan, menangisi rindu yang kian membuncah.

Sejujurnya, aku mulai lupa pada bentuk wajah beliau. Entah sudah berapa banyak kerutan di wajah itu, entah sekurus apa tubuh itu dulunya. Tapi, yang jelas aku masih ingat persis senyum tulusnya. Senyum yang dulu menenangkan aku sewaktu menangis. Senyum itu dulu kuartikan sebagai bahagianya, marahnya, kecewanya, bahkan sedihnya. Beliau suka tersenyum. Senyum itulah yang dibawanya tatkala menutup mata untuk terakhir kalinya. Senyum itu yang kulihat terakhir kali saat tubuh tak berdaya itu pasrah terbungkus kain putih.

Kalau boleh kukata, sudah menjadi keinginan setiap anak perempuan untuk tumbuh dewasa didampingi oleh sosok ayah. Bagi anak perempuan, ayahlah cinta pertama. Beliau seperti ujung tombak, yang melindungi, membimbing dengan ketegasan, agar anaknya tak salah langkah. 

Beliau-lah lelaki yang mencintai dengan tulus, hingga suatu hari seorang lelaki akan datang dan meninta izin membawa pergi putri kesayangannya. Aku ingin dia duduk sebagai seorang wali di hari pernikahan, mengantar putrinya untuk dijaga oleh lelaki lain. Apakah seorang ayah akan bersedih? Setelah sekian tahun dia menjaga putrinya, maukah ia serahkan begitu saja pada lelaki baru yang datang ke rumah itu? Begitulah ayah. Dia adalah cinta sejati. Meskipun aku bukan yang beruntung untuk sampai pada momen itu. 

Ah, lupakan yang itu. Aku hanya mau bercerita soal rindu. Sejujurnya, aku begitu rindu pada beliau ketika menuliskan semua ini. Kalau kau bisa melihat, untuk kesekian kalinya aku menangis di depan layar gawai, di hadapan tulisanku.

Jadi begitulah mulanya rindu itu tercipta. Rindu yang tak akan sampai kepada beliau, kecuali lewat doa. Rindu yang kubiarkan tak terjamah di ujung relung hati. Biarlah ia mewujud rindu hingga kapanpun, sebagai penanda bahwa aku sedetikpun tak pernah melupakannya. Rindu yang tak terusik ini, biarlah selamanya begitu, agar setiap saat aku tak lupa mengantar baris-baris doa untuknya dalam lima waktuku~

February 10, 2019

PUISI | Mungkin Kau Lupa


Mungkin kau lupa
Bahwa aku ada di ujung penantian
Berdiri bersama gundah
Entah sudah lewat berapa kalender
Yang pasti, aku menunggu
Sampai lupa waktu
Bahwa kau telah lama berlari
Mengejar pundaknya

Mungkin kau lupa
Karena terlalu sibuk bermimpi memilikinya
Bahwa tanganku sedia menopangmu
Kala kau sekali lagi didorong menjauh
Saat mencoba mendekap bayangnya

Mungkin kau lupa
Bahwa hatiku masih untukmu
Saat kau mengangankan cintanya yang tak nyata

Mungkin kau lupa menengok ke belakang
Ada aku di ujung kepasrahan
Aku berdiri di atas perih
Mendekapmu yang tengah memandang kepergiannya

Mungkin kau tidak mengingat
Sebab terlalu sibuk mengandaikannya
Sementara dia mengangankan yang lain

Katamu, tak apa.
Bahagiamu melihatnya bahagia
Sekonyong-konyong kau tersenyum
Kau pikir begitulah cinta tak harus memiliki
Padahal ada cinta lain yang menanti
Tidak semu, seutuhnya bisa kau miliki

Siang itu...
Di stasiun kota
Kau rebah di bangku peron
Terdiam di tengah keramaian
Menatap dirinya yang melambai-lambai dari kereta yang mulai bergerak

Siang itu, binar di matamu meredup
Seiring deru mesin yang semakin samar, meninggalkan asa
Dia pergi menjemput bahagianya
Kau lunglai menatap sumber bahagiamu yang lenyap

Sekali lagi tersenyum getir
Mencoba menguatkan hati
Namun tak ayal mencerca juga
Mengumpat pada takdir
Menyalahkan semesta
Lalu kulihat kau menunduk
Menatap pada sepatumu

Pundak yang bergetar itu menjelaskan
Tangismu mempertanyakan mengapa cinta pergi begitu saja.
Sekejam itukah takdir mempermainkan?
Tak pantaskah kau untuknya?

Ah, omong kosong
Ada banyak cinta untukmu
Banyak sekali, sebanyak atom-atom yang bertebaran.
Tentu. Kalau kau sudi menoleh ke belakang.

Mungkin kau lupa
Kala menangisi kepergiannya
Di sini air mataku tumpah ruah
Mengagumi lelahnya langkahmu
Mengapresiasi setiap keringat usahamu
yang tak membuahkan hasil
Aku selalu di sini
Di dermaga penantian
Siap untuk berlayar, tapi tertahan oleh cinta



February 07, 2019

4 Kegiatan Favoritku untuk Mengusir Jenuh

Source: pixabay.com


Rasa jenuh seringkali muncul tiba-tiba. Aktivitas yang padat dan terjadi berulang-ulang di setiap harinya adalah faktor utama munculnya rasa jenuh. Aku rasa kita semua pasti pernah sampai di suatu titik di mana kita merasa begitu bosan menjalani jadwal yang begitu-begitu saja setiap hari. Lalu dalam keadaan begitu, maka mulai muncul pikiran-pikiran aneh yang berkecamuk dalam diri kita. Ingin sekali rasanya menjalani hidup lain, meninggalkan hidup sendiri dan mangkir dari tanggung jawab yang dibebankan.

Perasaan jenuh ini, jika dibiarkan berlarut-larut maka akan membuat kita makin murung, dan tak khayal menjadikan kita pribadi yang kurang bersyukur. Makanya ketika dihinggapi perasaan jenuh, aku sesegera mungkin mencari cara untuk mengusirnya. Tapi, untuk mengusir si rasa jenuh ini tidak semudah mengusir seekor kucing di depan pintu. Ya, tidak segampang itu Ferguso.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan ketika merasa jenuh? Ada banyak sih, kegiatan-kegiatan menyenangkan untuk mengusir jenuh. Intinya, merilekskan pikiran, karena otak kita butuh piknik.

Di antara kesibukan, tidak ada salahnya kan untuk memberi waktu luang kepada diri sendiri, aku sih menyebutnya waktu untuk bermanja-manja dengan diri sendiri.

Setidaknya ada 4 hal yang biasa kulakukan ketika merasa sangat jenuh, dan secara pribadi kegiatan-kegiatan ini terbukti ampuh. Apa saja? Cek di bawah ini:


1. Membaca Buku Favorit

Menyibukkan diri dengan buku bacaan adalah jurus jitu untuk mengusir jenuh. Bagaimana dengan kamu? Sejak SMA, aku biasa membawa minimal satu buku bacaan ketika bepergian. Biasanya novel favorit, yang paling seru, dan penuh dengan pembelajaran hidup.

Ketika jenuh, cobalah untuk membaca buku-buku favoritmu. Entah itu novel, buku motivasi, atau bahkan sebuah jurnal. Ini juga salah satu alasan mengapa aku lebih suka membeli daripada meminjam sebuah buku. Buku yang dibeli bisa dibaca berulang-ulang. Biasanya aku lebih memilih membaca ulang novel-novel favoritku ketika sedang merasa jenuh.

Ada yang bilang bahwa dengan membaca buku kita bisa menjelajahi banyak tempat.  Dan itulah yang kulakukan, membaca untuk masuk ke kisah-kisah orang lain, bertualang ke tempat-tempat baru, serta bertemu dengan karakter-karakter pemberani di dalam sebuah novel.

Setiap selesai membaca, pasti ada sesuatu yang kita dapat dari bacaan tersebut. Sebuah hikmah,  yang bakal bikin kita bilang 'oh ternyata begini yaa',' oh iya juga yaa...'


2. Bercengkrama dengan Sahabat

Bercengkrama yang kumaksud di sini bukanlah tentang obrolan ringan sehari-hari, melainkan mengajak sahabat untuk saling bertukar keluh kesah sembari mencari solusi.

Sebagian orang--termasuk aku, lebih merasa nyaman berbincang dengan teman dibanding dengan anggota keluarga. Rasanya seperti bebas berekspresi membicarakan masa-masa menyenangkan, kekonyolan-kekonyolan yang pernah dibuat tempo dulu, dan terkadang berimajinasi bersama.

Tak hanya itu, kita juga bisa merencanakan kegiatan-kegiatan menyenangkan seperti memasak, shopping, jalan-jalan, atau memancing bersama sahabat. Buatlah waktu kalian menjadi berkesan sehingga perasaan jenuh itu akan hilang dengan sendirinya.



3. Pergi Menonton

Masih berhubungan dengan point kedua, mungkin sekarang saatnya kamu dan sahabat meluangkan waktu untuk pergi menonton.

Walaupun menonton sebenarnya bisa lewat televisi, atau streamingan. Tapi sesekali pergi ke bioskop bersama sahabat atau keluarga juga bisa menjadi kegiatan menyenangkan untuk mengusir jenuh. Coba tengok jadwal di bioskop, apakah ada film yang ingin kamu tonton? Kalau begitu, coba hubungi kembali teman lama dan ajak dia untuk menemani kamu pergi menonton.

Aku ingat seorang teman--sebutlah dia ibu muda yang bijak--pernah berkata begini padaku.

"Keluar sebentar dari kesibukan itu penting, Nis. Jangan menyiksa diri dengan aktivitas harian kamu, nanti bisa stres."

Dia benar. Sejatinya, kita akan bahagia jika kita mampu menikmati hari-hari dengan rasa syukur, tak merasa terbebani. Nah, menonton adalah salah satu kegiatan menyenangkan untuk menghilangkan stres akibat aktivitas sehari-hari.


4. Jogging

Jika bosan, maka bergeraklah. Kalau sedang bosan dan tidak punya kegiatan, nggak ada salahnya kita jogging. Berlari kecil di sepanjang garis pantai adalah kegiatan yang sering kulakukan. Lumayan, buat merefresh otot-otot yang sudah jarang berolahraga ini sekalian juga merefresh pikiran dengan pemandangan ombak laut yang memanjakan mata.

***

Demikianlah 4 kegiatan favoritku untuk mengusir jenuh. Kamu juga bisa mencoba kegiatan di atas, dan mulai berusaha mengusir jenuh.

Intinya adalah membuat bahagia diri sendiri setiap waktu. Dan apapun kegiatan yang kamu pilih, pastikan bahwa kamu menyukainya. Mulai sekarang, jangan biarkan rasa jenuh mengotori hari-hari kamu yang berharga.

February 05, 2019

5 Rekomendasi Kado yang Cocok untuk Cowok

Source: Pixabay.com


Pernahkah kamu ingin membelikan kado untuk seorang cowok (baik teman, pacar, maupun kakak), namun kebingungan dalam memilih benda yang cocok untuk mereka?

Kadang mau dibeliin ini atau itu, tapi mikir dia kan cowok, bakal suka nggak ya? Soalnya ya kalau cewek, dibeliin boneka aja udah seneng. Tapi kalau cowok, seleranya kan berbeda.

Nah, mungkin beberapa rekomendasi barang di bawah ini bakal cocok untuk jadi referensi kamu dalam menentukan kado mana yang cocok diberikan pada doi (wahahaa).

Nah apa aja sih barang-barang tersebut? Yuk simak di bawah ini.

1. Jam Tangan

Jam tangan adalah salah satu kado yang cocok diberikan kepada cowok. Jam tangan sangat mudah ditemukan, dan harganya pun cukup terjangkau. Dengan begitu, pemilihan jam tangan tidak akan memusingkan kepala. Pilihan bisa disesuiakan dengan kepribadian cowok yang akan diberikan hadiah. Pilihannya pun beragam, baik jam tangan bergaya casual, atau jam tangan model besar bertali Rubber Strap yang ada display digitalnya, umumnya cowok sangat menyukai jam-jam sejenis itu.


2. Dompet

Selain kado jam tangan, dompet menjadi pilihan keren lainnya. Kamu bisa memilih jenis dompet yang sesuai dengan selera dia. Mungkin kini saatnya cowok spesial itu mengganti dompetnya dengan yang baru. Nah, jika telah membeli dompet sebagai kado, jangan lupa untuk menyelipkan foto kalian berdua di dalam dompet baru tersebut :D


3. Jaket Baru

Penah nggak kamu perhatikan kalau rata-rata cowok hampir menggunakan jaket yang sama setiap harinya? Bukan karena tidak punya jaket lain, tapi katanya jaket itu adalah favoritnya. Bagaimana kalau kamu berikan saja jaket baru sebagai kado untuknya? Mana tahu jaket yang kamu berikan akan menjadi barang favoritnya.


4. Buku

Apa? Dikadoin buku? Ah, dia bakal suka nggak ya?

Btw, ada banyak kok cowok yang bakal senang jika dikadoin buku. Walaupun dia tidak pernah secara gamblang menyatakan hobi membaca, tapi bukan tak mungkin dia akan senang jika dikadoin sebuah buku.

Buku apa yang cocok untuk dijadikan kado? Nah, kamu bisa menentukan sendiri apa yang kira-kira dia sukai. Kamu bisa membelikan novel romantis, novel horror, atau sepaket buku motivasi, dan lain-lainnya. Yang jelas, kamu bisa menjadikan buku sebagai sarana untuk mengungkapkan sesuatu kepadanya.


5. Do’a

Kamu pasti setuju, bahwa tiada kado yang lebih berharga dibandingkan sebuah do’a.

Jika semua kado di atas masih berasa kurang pas, semoga pilihan ini menjadi jalan keluar dalam kebingungan memilih kado. Do’akanlah agar dia semakin sukses, sehat selalu, dan tetap setia sama kamu huahaa.


Nah demikian 5 rekomendasi kado yang cocok untuk kamu berikan kepada seorang cowok. Bagaimana? Ada saran barang lain yang cocok dijadikan sebagai kado untuk cowok? Silahkan coret di kolom komentar :)

Alvaro: Tentang Jatuh dan Cinta (Bag.2)



#Short story

#Alvaro

#Picisan


***




Sejak pertemuan yang disetting sedemikian aneh oleh semesta beberapa waktu lalu. Hatiku semakin mantap menatap Al (panggilan kesayangan buat Alvaro nih). Tapi sepertinya aku tengah diajarkan sebuah teori kehidupan yang teramat penting, bahwa keberuntungan itu tidak datang dua kali. Lain halnya dengan kesialan, datangnya bertubi-tubi dan nggak kenal waktu.

Berbagai upaya untuk mendekati Al pun kulakukan. Dari mulai mencuri-curi absen di kelas sebelah demi mengetahui nama lengkapnya, hingga berkutat mencari akun facebooknya semalaman. Yah, itulah cinta. Asal kalian tahu saja. Tidak perlu tertawa, karena aku kelewat yakin bahwa manusia normal yang sedang baca ini juga pernah melakukan hal yang sama, bahkan lebih gila.

“Arrrhhhg!!!” Aku teriak kegirangan sampai menendang-nendang kasur karena berhasil menemukan akun milik Al setelah penelusuran delapan jam terhitung lepas dari pukul delapan malam tadi. Akunnya tidak menggunakan nama asli, makanya begitu sulit ditemukan di dunia maya. Sejurus kemudian, aku mengklik tombol "Add Friend".

Jam menunjukkan pukul empat pagi, aku menghabiskan sisa dini hari itu dengan melahap habis semua unggahan statusnya, dari yang terbaru hingga yang terlama.

Begitulah hari-hariku selanjutnya, perlahan tapi pasti aku mendekati Al. Meskipun pada akhirnya aku harus jujur, tidak ada satupun usaha kecil itu membuahkan hasil. Nyatanya hari-hari Al berlalu adem ayem saja tanpa gangguan berarti dari makhluk tak kasat mata sepertiku. Sementara aku selalu menanggung rona merah di wajah dan goncangan batin acap kali berpapasan dengannya.

Memperhatikan setiap obrolannya dari jauh, memandangi dia dari bangku seberang saat makan di kantin, atau sekadar menunggu dia di lapangan voli menjadi rutinitas harianku di sela-sela aktivitas sekolah yang semakin padat.

Satu semester berlalu, aku bahkan belum pernah mengobrol face to face dengan Al. Jangankan bercakap berdua, bergabung bersama dia dan teman-temannya saja belum pernah. Akhirnya, teman-temanku memberi label super gila untukku; Secret Admirer Ngenes. 

Alvaro adalah lelaki yang enteng sekali bergaul dengan semua jenis makhluk hidup. Dia suka humor, senang tertawa, pandai bergitar dan bernyanyi. Tidak heran, dia begitu mudah memasuki dunia setiap orang. Tapi hal itu tidak serta merta membuat aku dengan mudahnya mendekati dia. Entah mengapa, gengsi dalam diriku seperti tidak rela saja  membiarkan aku melakukan pendekatan terhadap Al.


Sampai kenaikan kelas tiga, keadaan belum berubah. Al tetap belum mengenal aku, sementara aku sudah mengabiskan sebuku diary tebal sekadar untuk menuliskan namanya.

“Zinnia itu yang mana? Kok aku nggak pernah tahu?!” Celetuk Al dengan entengnya saat pembagian rapor.

Seperti biasa, hari itu semua siswa berkumpul di lapangan untuk menerima beberapa informasi terkait libur panjang akhir semester. Yang tak kalah ditunggu-tunggu juga pengumuman nama-nama siswa peraih juara umum per angkatan.

Aku yang tengah melangkah ceria mendengar namaku dipanggil pun mendadak lemas mendengar celetukan tak berdosa dari mulut Al.

Demi sepiring bakso yang dikasih lima puluh sendok cabe, kupingku panas seketika mendengarnya. Ingin sekali rasanya aku mendatangi Al, lalu dengan suara lantang berkata; Ini yang namanya Zinnia. Iya, ini! Makhluk asing dari Pluto yang ngungsi ke Bumi lalu dengan pintarnya jatuh cinta sama kamu. Lalu aku bakal ketawa; Haha, lucu ya, Al. Tapi sepertinya aku perlu bertapa seribu tahun untuk mengumpulkan keberanian secara cuma-cuma, ditambah ramuan tradisional penghilang ingatan buat diminum setelahnya. Tapi aku cuma bisa berpikir positif nan tragis; Ada namaku terselip dalam kalimat yang terlontar dari bibirnya tadi. Sesuatu yang nggak lebih berharga dari upil kerbau bagi orang lain, tapi begitu berharga bagiku, sampai-sampai aku hampir meneteskan air mata. Al menyebut namaku.

Ungkapanku di tulisan sebelumnya seolah berlaku kembali saat kenaikan kelas. Hari pertama di semester baru, jam setengah tujuh pagi aku menginjakkan kaki di halaman sekolah. Tapi sepertinya banyak yang lebih semangat hari ini, sekolah sudah ramai saja. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ajaran baru artinya mendapat kelas baru, teman baru, hari baru, tas baru, dan sepatu baru, serta pacar……. Baru?! (Oke, tolong abaikan!).

“Eh Jin, kita satu kelas lagi loh. Seneng deh!” Nia memelukku begitu erat.

“Jin.. Jin.. Seenak dengkul manggil namaku!” Celetukku. Sebenarnya aku berdoa agar tidak sekelas dengan Nia. Aku nggak tahan harus selalu menerima godaan-godaannya yang menjurus pada ejekan pasal ‘hubunganku' dengan Al yang tak kunjung bergerak maju barang sedikitpun. Perasaan cinta doang yang maju, usaha buat dekatin nggak ada maju-majunya, begitu kira-kira inti dari setiap ejekan yang dilontarkannya.

“Kamu duduk sama aku, mau yaa.” Katanya.

Aku mengangguk dengan malas, lalu ngeloyor ke papan berisi daftar nama di mading setelah suasana agak sepi. Jari telunjukku merayapi semua nama yang tertera di kelas Sembilan D. Totalnya ada dua belas kelas baru untuk kelas Sembilan di tahun ajaran ini, satu kelas hanya diisi dua puluh lima siswa saja. Tidak sulit menemukan namaku  karena absennya diurutkan berdasarkan abjad.

Usai mendapatkan yang dicari, mataku mengular pada deretan nama lain di atas namaku. Yoga, Vivin, Tezar, Tio, Tamiya, Putri, Putri lagi, Putri lagi, Nando, Nanda, dan seterusnya. Semua nama kubaca satu persatu seraya mengingat wajah pemilik setiap nama, kelakukannya serta tak lupa tingkat prestasinya. Hampir saja aku mabuk membaca setiap nama yang notebane akan menjadi teman sekalasku hingga tiba-tiba moodku mendadak meningkat drastis. Aku terbelalak saat mendapati nama Alvaro ikut andil mengisi daftar nama di kelas tersebut.

“Nyaakk! Kita sekelas sama Al.” Histerisku dengan nada yang berusaha ditahan hingga terdengar seperti suara citcit tikus terjepit.

“Ah, masa?!” Kali ini giliran Nia yang terbelalak. Kutunjukkan nama di daftar nomor dua padanya. “Wih, menang banyak dong kamu!” Lanjutnya.

Aku nggak bisa menahan senyum saking senangnya. Untuk sesaat aku merasa drama-drama cinta di tv yang biasa emakku tonton itu teryata tak mustahil untuk terealisasi di kenyataan.

“Lihat entar, kamu nggak bakal bisa menghinaku lagi. Aku bakal dekatin itu cowok.” Kataku dengan pedenya. Tapi Nia sudah terlanjur tahu kenyataan bahwa aku bukanlah makhluk pemberani.

“Ah, gayanya selegit, eh selangit.” Ejeknya.

Tapi seperti yang kubilang, untuk sesaat aku merasa drama-drama cinta di tv yang biasa emakku tonton itu teryata tak mustahil untuk terealisasi di kenyataan. Garis bawahi kata  ‘untuk sesaat’, sebab kebahagiaan itu tidak berjalan mulus bahkan di hari pertama saja sudah kandas duluan.

Untuk selanjutnya aku merasa drama-drama cinta di tv yang biasa emakku tonton itu teryata benar-benar mustahil untuk terealisasi di kenyataan. Sungguh.

Aku lupa cerita soal status kesiswaan Alvaro di tulisan sebelumnya. Alvaro yang berstatus siswa baru di tahun sebelumnya lebih memilih masuk ke kelas sebelah ketimbang jadi bagian dari kelasku. Usut punya usut, ternyata kelas sebelah isinya adalah teman-teman akrabnya. Hal ini bertolak belakang dengan pemikiranku bahwa dia adalah lelaki yang pandai bergaul dengan siapa saja, aku pikir terlalu naif jika dia mendalihkan teman di kelas barunya sebagai alasan sehingga enggan bergabung. Tapi setelahnya aku baru sadar bahwa ‘teman’ yang dimaksudnya di kelas sebelah adalah ‘teman’ dalam pengertian dan makna sesungguhnya. Alvaro terlihat begitu menikmati hari-harinya bersama mereka di kelas tersebut.

Seolah suhu Venus mendadak jadi sedingin salju, begitulah perasaanku. Dingin. Beku seketika. Akhirnya aku masih harus menatapnya dari jauh, menguping dari seberang, dan menunggunya lewat di depan kelas. Padahal aku sudah terlanjur berkhayal melihat dia lewat belakang punggungnya, memperhatikan dia saat maju ke depan kelas, ikut tertawa mendengar leluconya, makan di kantin bersama-sama, bahkan mengobrol berdua. Tapi apalah artinya sebuah khayalan saat kenyataan sudah jelas-jelas mengkhianatinya. Lagi-lagi kami hanya berstatus sebagai 'siswa di kelas yang bersebelahan', bukan 'teman sekelas', 'teman' pun bukan. Iya. Masih sama seperti setahun lalu. Herannya, lagi-lagi hanya bersebelahan kelas.

Seperti jatuh tertimpa tangga pula, beberapa saat kemudian aku kembali dihebohkan dengan berita super biasa. Biasa bagi orang lain, luar binasa bagiku. Tajuk berita yang sukses membuat aku galau mendadak itu adalah; Alvaro resmi jadian dengan salah satu siswi cantik di sekolah. Sebut saja namanya Bunga Bangkai.

Al sebenarnya bukan lelaki berparas pangeran seperti di serial Disney,  bukan juga lelaki cool seperti Sasuke, juga bukan lelaki konglomerat seperti di drama-drama tv, aku jujur mengakuinya. Bahasa kerennya; Apalah Alvaro itu, cuma remahan-remahan rengginang dalam toples di atas meja, tapi tidak tahu mengapa dia justru begitu dilirik orang. Al punya sesuatu yang akhir-akhir ini lebih dilirik wanita dibanding ketampanan paras. Humor. Al adalah lelaki yang penuh humor, dan itu cukup untuk membuat seorang (baca: banyak) wanita jatuh hati padanya. 

Sementara aku; Apalah aku ini, hanya debu-debu jalanan yang terpontang panting dipermainkan angin.

February 02, 2019

FICTION | Malam untuk Mengakhiri



Aku menghentikan langkah sejenak, menarik napas dalam-dalam saat mendapati tubuh jangkung Luis di kursi teras kafe, persis di sebelah kanan pintu masuk. Dia duduk menghadap tempat parkir, dan langsung melambaikan tangan saat mata kami bersirobok.

Seperti dugaanku, dia memilih meja yang biasa kami pesan untuk makan malam di kafe ini. Apapun usahanya, tak akan pernah menarikku kembali. Aku tak akan terpengaruh oleh masa lalu, aku telah membakar seluruh cintaku terhadapnya; benar-benar tak bersisa.

Keputusanku untuk memutuskan hubungan kami sudah bulat. Malam ini, aku bakal mengakhiri semuanya. Aku meneguhkan niat, lalu tanpa ragu melangkah ke hadapannya.

“Mau pesan apa?” Tanyanya berbasa-basi.

“Saya mau langsung pulang saja setelah ini. Ehm, begini.” Aku meletakkan tas ke atas meja, lalu berdehem sebentar, sebelum melanjutkan kalimatku. “Saya mengajakmu bertemu untuk mengatakan bahwa secara resmi, hubungan kita berakhir.”

Alis Luis terangkat, menciptakan beberapa kerutan horizontal di dahinya. Aku tahu dia tak terkejut karena ucapanku barusan, melainkan karena nada tegas di dalam kalimatku. Aku menangkap raut resah pada wajahnya.

“Ra, jangan memutuskan secara tergesa-gesa, saya yakin kita masih saling mencintai.” Katanya, seraya mencoba menangkap sorot mataku.

Aku meringis. Masih saling cinta, katanya? Akhirnya aku balas menatap mata lelaki itu. Sejujurnya, bola kaca hitam bening dengan sorot tajam itulah yang membuatku luluh di pertemuan pertama kami, tatapannya seolah menerobos sampai ke hatiku, dan tatapan itu masih kukagumi hingga saat ini.

“Maaf?! Saya sudah tidak memiliki rasa apapun kepadamu.” Ucapan itu keluar dengan entengnya dari bibirku—mengisyaratkan bahwa keputusanku sudah tepat.

“Saya minta maaf untuk semua kesalahan saya. Maukah kamu memulainya lagi dari awal? Seperti saat Puspa belum hadir dalam hubungan ini.”

“Sayangnya dia telah hadir, dan waktu tidak bisa diputar ulang seenteng ucapanmu.”

“Naura,” Luis menarik jemariku, kurasakan ia menggenggamnya erat seolah ingin meremukkan jari-jariku. “Saya masih mencintaimu, Saya tak ingin melepasmu begitu saja.” Katanya lembut.

Aku sedikit melunak mendengarnya. “Luis, cinta tak bisa dipaksakan. Saya sudah tidak mencintaimu sejak tahu kamu berhubungan dengan Puspa.” Kataku, sambil melepaskan diri dari genggaman tangannya.

“Tapi..”

“Saya hanya ingin hubungan ini berakhir dengan damai,” Aku bergegas memotong kalimatnya. “Bagaimanapun, kita pernah menjalin hubungan dalam waktu yang tak bisa dibilang singkat. Bagaimanapun, kamu pernah menjadi orang yang saya cintai.” 

Aku bangkit, menyambar tas di atas meja. Lalu bergegas pergi. Belum beberapa langkah, kudengar Luis berucap.

“Terimakasih untuk semuanya,” Katanya, yang membuatku refleks berbalik untuk menatapnya. 

“Terimakasih pernah mencintai saya, dan terimakasih pernah mencoba mengerti keadaan saya.”

Aku mendekat, kupeluk lelaki itu untuk terakhir kalinya. Hangatnya tak berubah. Kusesap aroma lemon dari kemeja yang dikenakannya.

“Luis, kita tiba di titik persimpangan,” Kataku, melepas pelukan. “Kita mungkin berpisah, tapi mari sama-sama berjuang untuk menjadi manusia yang lebih baik, memantaskan diri untuk pasangan kita di masa depan. Saya yakin akan ada wanita baik yang akan kamu temui jika terus berjalan, dan dia pasti lebih baik daripada saya.” Kataku.

Luis tersenyum sinis. “Jika ternyata kita berjodoh, bagaimana?”

“Kemanapun kita melangkah, jika memang berjodoh, pasti akan bertemu kembali di akhir perjalanan ini. Dan.” Aku berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “saya akan merasa beruntung jika ternyata kita betulan berjodoh.”