April 28, 2019

Harry Potter and the Cursed Child - Pelengkap Akhir Kisah Harry Potter


Kali pertama memegang buku ini di suatu momen saat menyambangi Gramedia, aku cukup ragu untuk membawanya ke kasir. Maklum, waktu itu sedang menjalani mode ‘berhemat’ yang super ketat. Tapi apa daya, nafsu membaca dan ‘beli’ buku baru ini rupanya belum bisa sepenuhnya dikontrol. Oh my dear, elus-elus dompet.

Pada akhirnya, aku berhasil memboyong pulang buku yang bakal menjadi pelengkap akhir kisah manis Harry Potter dan dunianya. Yah, walaupun buku ini sebenarnya tidak sama dengan ketujuh seri novel Harry Potter sebelumnya; karena Harry Potter and the Cursed Child aslinya merupakan naskah skenario drama pertunjukan teater yang ditulis berdasarkan kisah asli oleh J.K Rowling, Jack Thorne, dan John Tiffany. Setelah melewati rentetan waktu, akhirnya tahun 2017 lalu versi Indonesianya dirilis.

Karena buku ini  merupakan skrip drama, aku sih nggak punya ekspektasi tinggi pada cerita yang terbungkus di dalam cover kuning menyala ini. Kupikir aku tidak akan menemukan deskripsi-deskripsi mendetail yang khas seperti yang ditemui di ketujuh seri Harry Potter sebelumnya. Tapi, tetap saja membacanya akan mengobati kerinduanku dengan masa-masa saat memasuki dunia Harry Potter bertahun-tahun silam. 

Setelah sekian lama menamatkan Harry Potter and the Deathly Hallows part 2 dan diharuskan menutup buku pada momen happy ending di peron 9 3/4, aku seperti 'fans' yang dipaksa pulang di tengah konser idola yang rasanya baru berlangsung lima menit yang lalu.

Terkadang, muncul pertanyaan; 'apa yang berlangsung di Hogwart setelah Voldemort berakhir?', 'apa yang dilakukan Harry, Ron, dan Hermione setelah perang berakhir?', atau Seperti apa ya kisah anak-anak mereka?'

Desain Cover yang Apik
Dari sampulnya yang kuning terang dan ‘khas berbau’ Harry Potter, aku seolah dihantarkan kembali untuk membayangkan kisah-kisah sebelumnya. Dari mulai Harry Potter and the Philosopher's Stone yang merupakan awal mula kisah Harry kecil memasuki dunia Hogwart, hingga Deathly Hallows part 2. Ada ribuan lembar kertas yang telah kubaca untuk sampai pada akhir kisah menakjubkan karya J.K Rowling tersebut. 

Cover yang eye catching inilah yang menyebabkan Buku ini tak luput dari penglihatanku saat menyusuri ribuan buku kece di Gramedia. Nah seperti apa kisah di dalamnya?

Kisah 19 Tahun Kemudian
Harry Potter and the Cursed Child berlatar 19 tahun kemudian, ketika Voldemort tinggal nama dan sejarah suram, ketika kehidupan dunia sihir mulai berjalan dengan baik, ketika Harry dan teman-temannya telah lama meninggalkan Hogwart, dan anak-anak mereka tak terasa telah menjadi remaja.

Cerita dikemas dalam bentuk dialog-dialog yang dibagi per babak. Dan benar saja, tidak ada deskripsi-deskripsi mendetail seperti yang ada pada alur novel umumnya. Semuanya dalam bentuk dialog, beberapa berupa deskripsi singkat penjelasan latar tempat dan waktu. Tapi, bagi yang telah khatam membaca ketujuh seri sebelumnya, pasti akan mudah menangkap setiap hal yang dituliskan dalam buku ini.

Tokoh utamanya adalah Albus Severus Potter, yang merupakan anak kedua dari keluarga bahagia Harry dan Ginny. Nah, Albus ini diceritakan di epilog buku ketujuh sebagai satu-satunya yang mewarisi mata hijau Lily Evans.

Masa kecil Harry yang sulit tanpa kedua orang tua agaknya menjadi problema tersendiri baginya ketika dihadapkan dengan kenyataan baru bahwa ia sekarang telah menjadi seorang Ayah. Seorang ayah yang sebelumnya tak pernah mengenal dekat sosok ayahnya. Mungkin hal inilah yang menjadi salah satu faktor yang membuat hubungannya dengan Albus tak berjalan mulus.

Di satu sisi, Harry menganggap Albus lebih beruntung dari dirinya karena Albus lahir di keluarga yang utuh, bahagia di zamannya, berbanding terbalik dengan masa kecil Harry. Sementara Albus, ia merasa tak nyaman di bawah bayang-bayang nama 'Harry Potter'.

Hubungan keduanya jadi semakin canggung ketika Albus memasuki tahun pertamanya bersekolah di Hogwart. Secara mengejutkan (sebenarnya tidak juga sih) ia ditempatkan di asrama Slytherin oleh topi seleksi. Asrama yang notabene sejak zaman dahulu menjadi musuh bebuyutan Gryfindor, dan konon selalu menghasilkan penyihir hitam.

Tapi, sebenarnya Harry tak terlalu masalah dengan hal itu, sih. Ada begitu banyak faktor penyebab kecanggungan hubungan Ayah dan Anak itu, yang kalau ditilik semuanya bermuara pada kata 'tidak saling memahami'. Penasaran sama masalah-masalah yang diadapi Albus? Silahkan dibaca sendiri novelnya.


Persahabatan Albus dan Scorpius

Di setiap novel yang kita baca, akan selalu ada tokoh yang membuat kita jatuh hati. Entah itu lewat kecakapannya, karakternya, cara senyumnya, dan lain sebagainya.

Di Novel ini pun begitu. Ada satu tokoh yang membuatku jatuh cinta. Remaja seumuran Albus berambut pirang dan berkulit pucat. Yup, Scorpius Malfoy. 

Kalau dengar kata Malfoy, kamu jadi inget siapa sih? Lucius Malfoy yang merupakan pelahap maut?! Serta Draco Malfoy yang pengecut, kasar, songong, dan selalu iri pada Harry dan kedua teman karibnya? Ah, musuh bebuyutan Harry banget, nih.

Namun, yang membuat kisah di buku kedelapan ini jadi menarik salah satunya karena persahabatan antara Albus dan Scorpius. Keduanya bertemu di kereta sewaktu akan berangkat ke Hogwart di tahun pertama mereka. Ditambah lagi, mereka sama-sama menjadi penghuni asrama Slytherin. Wah tambah lengket deh keduanya :D.

Cukup lucu ya jika kita kembali menilik ketujuh jilid cerita sebelumnya. Hubungan Harry dan Draco tak pernah akur. Habis Draco kelewat menyebalkan sih, bikin geram dan pengen nonjok dia kalo bisa. Tapi yaa begitulah kehidupan, tak ada yang tahu apa yang bakal terjadi di masa mendatang. Yang dulunya musuh bebuyutan, mana tau nanti anaknya bakal jadi teman akrab.

Scorpius dan Albus sama-sama dibayangi masalah yang tak menyenangkan untuk anak remaja. Albus, tak nyaman menyandang nama Potter, sementara Scorpius lebih parah lagi; ia digosipkan sebagai anak Voldemort. Wah apa bener? Jawabannya akan kalian temukan jika membaca buku ini.

Bicara soal Scorpius, dia ini sangat baik hati, lembut, dan setia kawan loh. Sifatnya benar-benar berbanding terbalik dengan sang Ayah. Apapun yang dilakukan Albus, dia selalu berusaha untuk ada di sisinya. Bener-bener kayak malaikat.

Yang membuat tersentuh sih, salah satu dialog Scorpius dengan Severus Snape di 'dunia lain'. Intinya, di sana tampak banget kalo dia tuh setia kawan.


Menjelajah Masa Lalu

Ketika membaca Harry Potter and The Cursed Child, kita akan sering diajak kembali ke masa-masa sebelumnya; Misalnya ke salah satu adegan di Harry Potter and the Goblet of Fire, bahkan ke kehidupan di sisi lain masa sekarang saat masa lalu diubah. Loh kok bisa? Bukannya semua pembalik waktu diceritakan telah rusak? Nah, silahkan temukan sendiri jawabannya di buku ini.

Lalu, bagaimana perasanku setelah menuntaskan bacaan? Worth it lah, menjadi sebuah ending yang apik untuk menutup kisah Harry Potter dan dunianya. Meskipun tak mendetail, namun kita bakal tahu kehidupan dunia sihir setelah perang usai. Ada banyak kejutan yang menantimu, tentu kamu harus membacanya. Ya, tahulah bahwa J.K Rowling sangat-sangat kreatif dalam menabur berbagai kejutan di setiap kisah.

Menutup buku ini, tanpa sadar aku mendapatkan pesan tersirat. Semuanya tentang masa; Masa kini, masa lalu, maupun masa depan. Apapun yang terjadi, lebih baik dibiarkan terjadi apa adanya. Masa lalu biarlah jadi kenangan dan sebagai bahan pembelajaran, masa kini jalani saja, mengenai apa yang ada di masa depan, tak perlu dipusingkan ❤❤

NB: Maaf ya jika terkesan spoiler, tapi percayalah akan lebih berkesan jika kalian membaca langsung bukunya.

Tambahkan Komentar
EmoticonEmoticon