February 18, 2019

Senja di Waktu yang Berbeda



Senja dahulu kala...

Sepasang kaki tanpa alas pernah mengukir tawa di pasir pantai itu

Berlarian mengejar ombak yang menepi

Terbenam dalam waktu sampai siluet menghitam



Senja di lain hari...

Sepasang kaki tanpa alas saling berdiri canggung di pasir kemarin

Sama-sama ragu untuk berlari menjamah sisa sore yang tertinggal

Padahal ombak yang menepi masih sama seperti dahulu

Siluet yang dulu dikagumi seolah tak berarti lagi

Kita saling diam,

Merutuk pada bulir kristal bening yang jatuh di pasir yang dulu menyimpan tawa

Kita saling terpaku dalam diam yang menyayat

Ragu-ragu, kuangkat kepala untuk menatapmu

Pandanganmu jatuh menembus langit jingga hingga ke ujung batas pandang

Dari diammu, kulihat keputusasaan

Kebimbangan untuk mengakhiri

Lalu kita sama-sama membuang muka


Senja hari ini..

Semua masih sama, apa adanya di tempat semula

Air laut masih menyapu pantai secara berkala

Senja masih membisu dalam jingga

Pasir yang kuinjak masih selembut sebelumnya

Tak ada yang berubah

Kecuali kita



February 15, 2019

FICTION | Alien-Alien Singgah


* Fiction

* NB: Pernah diterbitkan di Plukme.com

Remang-remang kehidupan terus berjalan. Secepat denting jam dinding, perubahan bergulir. Dulu, tujuh tahun lalu aku masih sempat-sempatnya ngeloyor ngalor ngidul sehabis kuliah atau sekadar telungkup manis di atas kasur mengotak atik laptop.

Namun apa daya, bagaimanapun masa lalu tak ubahnya tinggal kenangan saja. Tersimpan rapi di barisan paling pojok rak-rak ingatan. Tinggalkan masa lalu, jalani  masa kini, begitu kata Pakdeku tiga tahun silam. Entah mengapa menilik masa lalu kini terasa lebih menyenangkan dibanding melenggang melewati masa sekarang.

Ah, kerinduanku begitu membuncah pada kenangan tujuh tahun silam, hari terakhir saat dunia masih begitu tenteram untuk dihidupi. Katanya, masa depan sekarang adalah cerminan masa lalu. Tapi aku tak menemukan kesalahan besar di masa lalu sehingga masa depan sekarang begitu kelam. Jika karena tumpukan sampah, moral yang semakin rendah, sikap hedonisme merajalela, atau banyak perang membuncah adalah sebuah kesalahan. Lantas inikah hukuman yang harus diterima?! Kedatangan makhluk asing yang sukses menjarah dunia. Sungguh diluar jalur pikiranku.

Aku terlonjak bukan kepalang saat terdengar bunyi berisik di depan mulut goa, bunyi melengking yang memekakkan telinga. Aku menutup mulut rapat-rapat, aku begitu takut hembusan napas kecil saja akan membongkar persembunyianku.

Ya, beginilah mirisnya aku—kami semua. Enam tahun yang lalu, masih terngiang jelas dalam ingatanku, waktu itu matahari bersinar malu-malu, dedaunan tak henti-hentinya melambai diikuti kicau burung, jalanan macet parah seperti biasa. Pagi itu begitu ceria hingga tanpa aba-aba atau peringatan bunyi sirine, langit biru tiba-tiba berpusar, bulatan matahari dipenuhi bayangan hitam yang begitu besar, suara raungan aneh deru mesin memenuhi udara yang terserap ke telinga. Angin berhenti sejenak dalam kebisingan itu, pun aktifitas padat makhluk hidup pagi itu. Semua indera terfokus pada benda aneh yang semakin menyebar memenuhi cakrawala. Semakin lama, semakin banyak, semakin menakutkan.

Tak lama, setiap sudut kota dipenuhi teriakan histeris. Gedung bertingkat seribu runtuh dalam waktu sekian nano detik. Makhluk-makhluk itu mulai menguasai semuanya. Matahari kami, air kami, bahkan udara segar kami. Teknologi-teknologi canggih yang dipersiapkan sejak jauh-jauh hari tak bisa membantu banyak. Bahkan uang yang notebane begitu berkuasa kini membisu. Setiap suara yang terdengar hanya melengkingkan satu kata, “Tolong!!”

Sejak itu hari-hari tak pernah sama lagi. Tak ada yang berani menyambut datang dan tenggelamnya mentari pagi. Bahkan sekedar duduk termenung di bawah sinar bulan dan bintang pun tak ada yang berani. Tujuh tahun berlalu, kami hidup dalam pusaran ketakutan dan kepasrahan. Setitik perjuangan rasanya tak akan membawa hasil. Di sinilah aku sekarang, mengubur semua angan, impian, dan cita-cita akan masa depan yang kurancang tujuh tahun silam dalam goa sempit di bawah jurang. Hari-hariku kuhabiskan untuk mengkhayalkan masa lalu, meresapi setiap hari yang sudah terlewati. Dulu, kata syukur begit sulit mengalun dari bibirku, kini untuk sekedar melihat cahaya kecil dari sela-sela dinding doa saja aku langsung bersujud sambil terisak tersedu-sedu.

Kugoyangkan badan untuk merenggangkan ototku yang keram, sebuah kertas melayang jatuh dari ransel merahku. Kuraih kertas pucat tersebut, sisi-sisinya sudah dikikis rayap tapi aku masih bias membaca jelas tulisan yang tertera. Sebuah surat untukku sepuluh tahun kemudian yang aku tulis tujuh tahun lalu. Aku tersenyum kecut membaca setiap harapan besar untuk hidupku yang aku rangkai begitu indah. Lihatlah kenyataannya kini, tiga tahun lagi menuju sepuluh tahun setelah surat itu kutulis tapi harapan sudah kandas. Ah, seandainya aku bisa menulis surat untuk diriku di masa lalu. Aku hanya ingin berkata, jangan terlalu banyak berharap. Berharap itu berat. Kamu tak akan sanggup. Lebih baik bersyukur saja.

~~~

February 12, 2019

Rindu yang Tak Terusik

* Catatan 0219
* Ditulis dini hari saat terbangun dari mimpi buruk
* With love


Rindu adalah duka, sekaligus bahagia. Aku ingin bercerita tentang sebuah rindu yang letaknya di sudut hatiku. Tak terjamah kata, tak terusik oleh waktu. Ia tetaplah rindu, dan akan selalu mewujud rindu sepanjang waktu.

Rindu ini begitu spesial sehingga kubiarkan ia hadir tanpa pernah kucoba mengusirnya. Di waktu-waktu sendu, kubiarkan ia menari-nari dalam kepala, seperti kaset usang yang diputar ulang, menampilkan rentetan kenangan di tahun yang telah lalu. Sementara aku menonton dengan khidmat sampai berurai air mata.

Ia bukanlah rindu untuk sosok nun jauh di antahbarantah sana, pun bukan pula rindu untuk teman lama. Ia adalah rindu untuk sosok ayah.

Jadi, bagaimana rindu ini bermula terjadi pada 6 tahun silam. Bagiku, Ramadhan pada tahun 2013 adalah tahun tersedih yang harus dilewati. Peristiwa itu terjadi menjelang minggu-minggu terakhir Ramadhan. Peristiwa yang benar-benar berdampak besar bagi keluarga kecil kami, menguras air mata, dan kukatakan sebagai suatu momen yang tak diinginkan oleh anak manapun.

Ayahku, yang akrab kupanggil 'papa' pada akhirnya harus mengalah dalam usahanya berjuang melawan penyakit liver yang dideritanya. Hari itu hari minggu, tanggal 4 Agustus. Aku masih ingat sekali, lepas adzan subuh, saat embun masih bergantungan di dedaunan mawar dan pucuk-pucuk rerumputan, sebuah mobil ambulan berhenti di depan rumah. 

Petugasnya menurunkan seseorang dari belakang. Ibu menangis, memelukku. Lalu berbondong-bondong orang menyesakki rumah kami. Banyak tangis yang pecah, doa dipanjatkan di setiap sudut rumah. Keluarga jauh semua berkumpul, menangisi kepergian sambil membicarakan kenangan-kenangan masa lalu yang begitu sedap didengar. Aku diam, menggigiti bibir untuk menghentikan tangisan. Namun setiap ada yang menangis--entah siapapun itu--sialnya aku malah ikutan menangis lagi. Tak lama, keranda digotong pergi. Sejak saat itu rumah terkadang menjadi begitu kosong.

Waktu yang berlalu, sayangnya tak memudarkan kenangan. Ingatan pada sosok lelaki lembut pekerja keras itu, meski terkadang kabur, namun tetap sering menyesaki kepalaku. Tak jarang membuat aku sesenggukan, menangisi rindu yang kian membuncah.

Sejujurnya, aku mulai lupa pada bentuk wajah beliau. Entah sudah berapa banyak kerutan di wajah itu, entah sekurus apa tubuh itu dulunya. Tapi, yang jelas aku masih ingat persis senyum tulusnya. Senyum yang dulu menenangkan aku sewaktu menangis. Senyum itu dulu kuartikan sebagai bahagianya, marahnya, kecewanya, bahkan sedihnya. Beliau suka tersenyum. Senyum itulah yang dibawanya tatkala menutup mata untuk terakhir kalinya. Senyum itu yang kulihat terakhir kali saat tubuh tak berdaya itu pasrah terbungkus kain putih.

Kalau boleh kukata, sudah menjadi keinginan setiap anak perempuan untuk tumbuh dewasa didampingi oleh sosok ayah. Bagi anak perempuan, ayahlah cinta pertama. Beliau seperti ujung tombak, yang melindungi, membimbing dengan ketegasan, agar anaknya tak salah langkah. 

Beliau-lah lelaki yang mencintai dengan tulus, hingga suatu hari seorang lelaki akan datang dan meninta izin membawa pergi putri kesayangannya. Aku ingin dia duduk sebagai seorang wali di hari pernikahan, mengantar putrinya untuk dijaga oleh lelaki lain. Apakah seorang ayah akan bersedih? Setelah sekian tahun dia menjaga putrinya, maukah ia serahkan begitu saja pada lelaki baru yang datang ke rumah itu? Begitulah ayah. Dia adalah cinta sejati. Meskipun aku bukan yang beruntung untuk sampai pada momen itu. 

Ah, lupakan yang itu. Aku hanya mau bercerita soal rindu. Sejujurnya, aku begitu rindu pada beliau ketika menuliskan semua ini. Kalau kau bisa melihat, untuk kesekian kalinya aku menangis di depan layar gawai, di hadapan tulisanku.

Jadi begitulah mulanya rindu itu tercipta. Rindu yang tak akan sampai kepada beliau, kecuali lewat doa. Rindu yang kubiarkan tak terjamah di ujung relung hati. Biarlah ia mewujud rindu hingga kapanpun, sebagai penanda bahwa aku sedetikpun tak pernah melupakannya. Rindu yang tak terusik ini, biarlah selamanya begitu, agar setiap saat aku tak lupa mengantar baris-baris doa untuknya dalam lima waktuku~