December 08, 2015

Alvaro: Tentang Jatuh dan Cinta



Aku ingin menceritakan padamu tentang Alvaro; teman satu sekolahku, cinta monyetku. Eh, aku bukannya jatuh cinta sama monyet, tapi sama Alvaro. 

Bukankah selalu aneh jika bicara soal cinta? Sebab hingga kini, cinta masih tidak kenal memilih, tidak pernah menunggu kapan hadirnya, dan akan selalu begitu.

Aku takut untuk jatuh cinta dengan cara sederhana, karena konon katanya aku akan patah hati dengan suatu hal sederhana pula. Aku sepaham dengan prinsip bahwa jatuh cinta tidak butuh alasan; Cinta tanpa karena.

Kisah singkat ini bermula pada bulan Mei. Siang ini cerah. Di antara keramaian yang berbaur, tangan-tangan saling memukul benda sebentuk bulan purnama berwarna biru tua dipadu kuning, benda itu silih berganti bergerak bolak-balik melewati pembatas, kadang-kadang melambung tinggi, lalu didekati, dipukul lagi, dan berakhir menghantam tanah. 

Semerbak bau keringat menyesaki hidung persis saat aku melewati lapangan voli. Anehnya banyak sekali yang bergabung dalam kotak segi empat tersebut, melebihi jumlah pemain sepak bola. Atau sebenarnya tidak aneh, karena ini adalah liga antar vampire-vampire ganas dalam rangka memperebutkan darah suci sang beruang madu. Tapi di antara bau asam campur-campur parfum kodok kadalwarsa tersebut, aku mencium bau bangkai nyamuk yang luar biasa nggak ada busuknya sama sekali. Oke becanda. Mari serius. Aku ulang ya. Di antara bau asam keringat campur wangi ketiak tersebut, hidungku menyesap aroma fresh yang begitu kental. Sontak hidungku meraba-raba asal bau tersebut. Rupanya berasal dari gerombolan pejuang harga diri di lapangan voli itu. 

Aku pun beranjak menuju bangku jauh di pinggir lapangan. Bangku paling ujung telah dihuni teman-teman gilaku yang lagi mengobrol pasal kucing imut milik tetangganya Marc Marquez.

"Udahan dari perpustakaannya?" Temanku menyadari kehadiran makhluk gaib macam aku yang selalu sukses bikin mereka merinding.

Senyuman lebar dan anggukan menjawab pertanyaan tersebut. Aku ikut duduk sambil memamerkan sebuah novel yang berhasil kupinjam untuk tugas Bahasa.

"Buku apa? Coba kulihat." Nia mengambil alih sebuah buku bersampul hitam lusuh dari dekapanku. Menimang-nimang sebentar sambil dibolak-balik. "Aih, ini novel tahun berapa? Kunonya udah melebihin dinosaurus."

Aku memonyongkan bibir, "Habis cuma nemu novel itu."

"Liat gaya bahasanya, deh." Nia menunjukkan tulisan di salah satu lembar novel. "Gila, berat parah."

"Iya, seberat se-ton gajah yang nimpuk hatimu" Ledekku. 

Tawa kami pecah membahana berbarengan dengan teriakan heboh di lapangan. Rupanya salah satu vamvire di sana sukses menjadi penyelamat klan-nya dengan mencetak skor kemenangan.

Seorang berdiri sambil ikut berjoget ria merayakan kemenangan, berputar-putar dan mengadukan pinggang dengan temannya. Senyumnya mengambang lebar, membiarkan gigi-gigi putih rapat di antara bibir kecoklatannya menebar pesona. Garis matanya menyipit karena tersenyum terlalu lebar, otot rahang tirusnya sedikit tertarik ke belakang, membuat kesan manis melekat pada wajahnya. Kemudian dia melompat-lompat seperti yang biasa dilakukan bocah-bocah saat mendapat permen.

Saat itu tiba-tiba aku menyadari sesuatu berdentum tidak beraturan dalam dadaku. Saat dia membuka suara, aku menyimpulkan bahwa suaranya tidak berat, justru mengarah ke kanak-kanakan, namun tidak cempreng dan dibuat-buat.

Tubuhnya cukup tinggi dan tidak terlalu kurus, warna kulitnya mengarah ke cokelat tanah. Rambut hitam agak ikal yang sudah melewati tengkuk melambai-lambai pelan tertiup angin siang. Jari-jarinya yang panjang ditopang oleh lengan kekar, dilambai-lambaikannya saat dia masih melompat-lompat senang.

Seperti itulah, cinta datang dengan sendirinya. Tanpa alasan. Cinta yang datang tanpa alasan sehingga membuat semua yang ada padanya menjadi bermakna, hingga dari caranya saat melompat, sangat eksotis. Aku menyukai semua dari dirinya, bahkan namanya. Alvaro.

Keesokannya..

Katanya saat kita punya keinginan kuat untuk menggapai sesuatu, semesta akan ikut andil dalam mewujudkannya. Karena semesta ada di bawah kuasa Tuhan.

Angin pantai kembali menyerbu membawa pasukan tak terlihat. Butir-butir pasir menjadi senjata andalannya, ditembakkan ke sepasang bola kaca yang menyipit. Tembakan itu tepat sasaran! Aku mengucek-ngucek mata beberapa kali untuk menghilangkan perihnya, kadang aku merasa malu jika memikirkan air mataku yang keluar hanya karena sebutir pasir menyelinap masuk. Tapi aku nggak bisa membantah karena itu adalah gerakan refleks yang bahkan aku sendiri tidak punya kendali atasnya. Sama halnya seperti cinta.

Hari ini Aku dan dua sepupuku memutuskan untuk menghabiskan sore di hari minggu yang cerah ini dengan sepiring sate ceker sambil menonton aksi kejar-kejaran ombak di Pantai Panjang. Nama pantai ini yang menurutku sangat unik. Bukankah setiap pantai memang panjang? tanpa diberi embel-embel 'panjang' pun semua tahu bahwa pantai memang panjang. Kalau pendek itu mungkin air di bak mandi hahaha (maksa ketawa). Tapi mungkin ukuran pantai yang tengah kupijak pasirnya ini memang punya panjang lebih dibanding pantai-pantai lainnya, begitu pikiran logisku berkata.

Baru sebentar saja pikiran logis tadi memenuhi otak. Hipotesis itu terpaksa runtuh saat kami akhirnya menjatuhkan pilihan pada warung sate yang paling jauh dari keramaian. Di antara banyak meja yang diisi beberapa orang saja, kami memilih meja tak jauh dari penjual, ada tiga kursi di meja persegi tersebut. Aku duduk persis menghadap lautan.

Sembari menghirup udara pantai, retinaku tiba-tiba terbelalak mendapati lelaki pemilik nama yang sukses membuat aku jatuh hati kemarin siang tengah memamerkan senyum sumringah dari kursi persis di hadapanku, empat meter jauhnya. Senyumnya sama persis seperti kemarin, tidak ada yang berubah. Giginya terlihat hingga ke ujung, berbaris rapi dan terkatup rapat di antara bibir tipis kecoklatannya. Aroma lemon kembali memyesakkan udara yang masuk ke hidung, akhirnya aku tahu dari mana wangi fresh itu berasal. 

Untuk kali ini, aku merasa bahwa pantai Panjang tidak benar-benar 'panjang' sampai bisa mempertemukan aku dan dia di titik yang sama.


Tambahkan Komentar
EmoticonEmoticon