June 14, 2017

Ketika Masa Depanmu Dipertanyakan



Kemarin, usai pulang membayar tagihan listrik, setengah bosan saya ngemil keripik pisang sambil duduk manja di depan rumah, menikmati angin sepoi-sepoi yang ditawarkan dedaunan alpukat di halaman rumah. Di bawah terik matahari kota Bengkulu, tiba-tiba saya teringat kalo hari itu, tiga belas juni adalah hari penentuan masa depan para pejuang sbmptn, termasuklah saya.
Ya, ketika masa depan yang belum kunjung jelas dipertanyakan. Tentu saja saya menumpahkan seluruh harapan pada hari itu, bercampur dengan seluruh harapan dari tujuh ratus ribu lebih remaja pada hari itu. Entah Tuhan tengah bersama siapa, saya hanya bisa berdoa sambil harap-harap cemas menunggu pengumuman keluar pada jadwal yang telah ditentukan.
Pukul 14.00
Saya sedikit mengingat perjuangan yang saya lakukan sebelum akhirnya terpental ke jalur seleksi bersama ini. Perjuangan yang menurut pribadi saya sebenarnya bukan apa-apa.
Diawali dengan kesadaran saya di kelas tiga SMA, saat saya menyadari bahwa tidak selamanya saya akan menggenakan seragam kebanggaan itu, berangkat sekolah dengan pr yang menumpuk, bercanda ria bersama teman-teman, makan pangsit seharga lima ribu di kantin sekolah, atau bahkan sekadar keluar kelas demi kabur dari tugas belajar. Tidak lama lagi saya sudah beranjak dewasa, harus menentukan tujuan hidup, harus menata langkah mantap menuju kesuksesan, sudah harus berpikir lebih bijak. Tapi sebelum semua itu, terlebih dulu saya harus menyelesaikan ujian akhir sekolah dan mendapat amplop berisikan pernyataan lulus dari kepala sekolah lalu coret-coret seragam (Ga kok, becanda doang). 

Saya ingat kegalauan saya begitu jelas saat mendaftar snmptn, jalur undangan tanpa tes yang diikuti siswa-siswi terpilih, jumlah pendaftarnya jelas sangat banyak. Saya mulai bingung harus memprioritaskan universitas mana untuk menjadi pijakan melangkah ke masa depan, wilayah universitas juga menambah kegalauan saya. Satu sisi saya ingin keluar Bengkulu, di sisi lain rasanya aneh juga harus jauh dari keluarga.
Namun semua kegalauan tersebut tidak berarti apa-apa karena pada akhirnya saya menjadi satu dari sekian banyak peserta yang mendapat kotak merah yang berisi pernyataan tidak lulus pada satupun jurusan yang dipilih pada saat snmptn. Penantian berbulan-bulan itu dihadiahi kotak merah berisi kalimat yang membuat saya kacau. Kegalauan saya semakin menjadi saja.
Alih-alih memikirkan universitas pilihan dan daerah yang diinginkan, bahkan universitas negeri di daerah saya yang menjadi prioritas menolak saya mentah-mentah. Jujur saja, sebagai remaja yang masih labil, hal ini awalnya benar-benar membatin di hati saya. Resah, gelisah, sedih, pusing, semua bercampur aduk dalam pikiran saya, seolah medesak saya untuk segera ambil tindakan supaya masa depan menjadi jelas.
Kecewa? Tentu saja.
Sakit hati? Ya.
Kamu bisa bayangkan di saat teman-teman seperjuanganmu mendapat kotak hijau dengan ucapan selamat dan tertera nama universitas serta prodi tempat mereka diterima. Ketika kamu buka BBM, tiba-tiba dipenuhi ucapan syukur. Ketika kamu beralih membuka Facebook, lagi-lagi screenshot kotak hijau dibumbuhi ucapan manis penuh kebahagiaan bertebaran di berandamu. Itu belum apa-apa. Tiba-tiba sebuah bm masuk,
“Gimana, kamu lulus snmptn?”
“Keterima di univ mana?”

Kamu tidak bisa mengekpresikan kesedihan pada mereka. Bagaimana jika menulis dengan sok tegar ‘Ah, belum berhasil!’ atau ‘Ya, nggak lulus’. Semua orang juga tahu kalau kamu tengah sedih sekalipun kamu membubuhi ratusan emoji smiling face with smiling eyes pada kalimat tersebut.
Tambah galau? Jelas sekali.
Tapi yang paling sulit adalah saat saya tidak punya cara untuk memberitahu ibu yang saat itu memang menaruh harapan besar pada saya. Saya mencoba mengupulkan keberanian dan ketabahan, ketika ibu saya menelpon,
“Gimana?” Ibu saya memulai percakapan di seberang sana
“Aku nggak lolos,” ucapku
“Yaudah, belum rezeki. Yang sabar aja, jangan terlalu dipikirkan” Sahutnya
Saya tahu, ada nada kecewa yang berusaha disembunyikan di sana. Tapi tetap saja, kata-kata itu membuat saya lega. Setidaknya ibu saya sudah tahu kegagalan ini.
Satu hari penuh saya mencoba menerawang kesalahan apa yang saya lakukan sehingga gagal lolos snmptn, apakah pada nilai raport saya, atau pada daftar prestasi yang saya biarkan kosong, atau pada pilihan prodi yang terlalu tinggi untuk standar nilai raport saya.
Usai sholat tahajud, saya mencoba tidur kembali dengan harapan perasaan saya akan lebih baik besok harinya. Ketika kita gagal, bukankah hal yang wajar jika kita kecewa? 
Tapi kekecewaan itu tidak bisa saya biarkan menggerogoti pikiran. Pasti masih ada jalan untuk saya. Pasti ada.
Benar, jika kalian tanya apa yang harus dilakukan saat  memperolah kegagalan?
Bersyukur adalah jawaban saya. Pada akhirnya saya harus mengucap syukur Alhamdulillah, sebab Tuhan tidak rela kalau saya harus menempuh jalan yang mudah. Saya harus berjuang lebih keras dari biasanya, agar hasil yang saya terima bisa lebih manis. Saya harus menempuh jalan panjang supaya saya tidak menyia-nyiakan apa yang akan saya dapat nantinya.
Perjuangan belum usai, beberapa hari setelahnya saya mendaftar sbmptn, jalur seleksi bersama melalui tes. Semua orang bisa mengikutinya, semua yang memenuhi sayarat. Sebelumnya, saya juga telah mendaftar tes ikatan dinas, pilihan saya jatuh pada PKN STAN. Saya pikir, kenapa harus tanggung-tanggung? Jika sekalipun saya memenuhi syarat untuk ikut tes polisi, saya pasti akan ikut juga meskipun sekian persen hasilnya sudah dipastikan gagal :D

Saya belajar keras? Tentu saja.
Hasil yang baik akan diperoleh dengan perjuangan, kan? Belajar adalah bagian dari perjuangan.
Saya selalu berdoa pada Allah agar memberikan jalan terbaik bagi saya, ke manapun saya melangkah. Saya berdoa agar Allah meridhoi perjuangan saya.
Ketika pengumuman tahap 1 tes STAN, saya lolos. Alhamdulillah, muncul harapan lagi dalam diri saya, setidaknya saya tahu bahwa saya masih punya kesempatan. Lanjut ke tahap dua tes yang diadakan di Palembang. Saya merasa agak canggung dengan tes kedua ini, tesnya diberi nama ‘Tes Kesehatan dan Kebugaran’. Dimana saya dan peserta lain akan cek kesehatan dan lari mengintari lapangan atletik selama dua belas menit.
Lari? Ya, saya tidak berdaya kalau soal lari. (Lari dari kenyataan aja nggak sanggup :D). Jujur, nilai olahraga saya jelek sekali sewaktu sma  dan saya tahu itu sejak pertama akan mengikuti tes ini. Jangankan dua belas menit, satu putaran saja rasanya sudah berasa di ujung hidup. Tapi saya masih bisa berjaung, saya punya kaki yang bisa digunakan untuk lari. So, i try to face it.
Hasilnya? Persis seperti dugaan saya. Lagi-lagi perjuangan ini diakhiri dengan kegagalan. Tak mengapa, saya tidak pernah menyalahkan siapapun. Kalaupun harus ada yang disalahkan, itu saya sendiri. Mungkin perjuangan saya masih kurang, mungkin kerja keras saya belum seberapa jika dibandingkan dengan orang lain.
Untuk hari itu, saya kembali kecewa. Merasa dipermainkan barangkali. Tapi saya tetap mencoba mengucap syukur, Alhamdulillah Allah  mendengar do’a saya, Alhamdulillah Allah peduli dengan saya. Saya tahu Allah tidak memberi apa yang saya inginkan, tetapi memberi apa yang saya butuhkan.
Menentukan masa depan itu memang tidak mudah. Sekarang saya mengerti maksud perkataan guru saya ketika beliau bilang; ‘Jangan sia-siakan snmptn’. Kalian bayangkan, disaat teman-temanmu sudah mulai menyusun berkas untuk daftar ulang semntara kamu harus menunggu bulan depan agar masa depanmu jelas.
Bahkan saat tetanggamu bertanya tentang masa depanmu, atau ada keluarga jauh yang sekadar menelpon untuk mengetahui kejelasan langkah kakimu, atau saat sepupu dan teman-teman lamamu ikut bertanya.
“Lanjut kemana?”

Semua orang mempertanyakan masa depan saya, bukannya apa-apa, tiba-tiba saya jadi lebih sentimental dari biasanya. Aplagi saat menemukan ini di Facebook, Facebook pun sampai ikut-ikutan mempertanyakan masa depan saya. ‘di mana anda kuliah?’Bayangiiiiin!!! kan saya bingung harus jawab gimana -,-

Hahaa, elu kepo dah!
Saya bertambah galau sebelum hari tes sbmptn dimulai. Saya belajar, dan lebih banyak menenangkan diri dan berdoa.
Sesekali saya melihat kartu sbmptn yang berhasil saya cetak setelah mendaftar. Saya tetap memilih universitas yang sama dengan snmptn saya, dengan prodi utama yang sama pula. Rasa-rasanya saya nekat sekali. Tapi saya ingin meyakinkan diri bahwa disana sudah  disediakan satu kursi untuk saya.
Rasanya pasti iri melihat mereka yang telah jelas masa depannya sementara kamu masih harus menunggu bulan depan, itupun belum tentu lolos. Sekali lagi, hal itu wajar karena kamu adalah remaja yang penuh emosi.
Tapi lupakan perasaan tidak menentu itu. Saya harus melewati tes sbmptn ini. Bukan hanya saya, tapi semua peserta pasti akan berusaha semaksimal mungkin.
Hari yang ditentukan tiba, dalam ruangan saat mengerjakan soal saya tidak henti-hentinya berdoa. Saya harus berusaha mendapat nilai bagus, mengalahkan pesaing saya yang memilih prodi sama dengan saya. Ini pillihan saya, jadi saya harus bisa demi masa depan. Rasanya tiga jam yang saya habiskan dalam ruangan itu sangat berharga sekali.
Bel tanda berakhirnya waktu mengerjakan soal berbunyi. Saya keluar dengan perasaan lega. Lagi-lagi saya harus digantung sembari menunggu pengumuman yang baru keluar di bulan Juni. Duh, lama!

Saya tidak memikirkan yang indah-indah. Bagaimana jika saya tidak lolos lagi? atau katakanlah jika saya lolos di pilihan kedua atau ketiga, apa saya akan senang? Tapi di satu sisi saya tidak sabar mengetahui apa yang telah Allah persiapkan untuk saya. 
Saya masih menggalau hingga waktu pengumuman tiba.
13 Juni 2017.
14.00
Sembari mengutak-atik laptop, ada perasaan cemas di hati kecil saya.
Kota pengumuman terbuka. Saya masukkan nomor peserta sbmptn dan tanggal lahir. Dengan ragu saya mengklik tombol cari di bagian bawah.
Loading....
Alhamdulillah, saya tidak tahu harus berkata apa lagi. Allah memberikan yang terbaik untuk saya. Akhirnya saya lolos di prodi pilihan utama saya.

Alhamdulillah :)
Ya, memang saya harus berjuang keras untuk mendapatkan apa yang saya mau. Jatuh bangun untuk meraih keinginan. Perjalanan yang mudah bukan dibuat untuk saya. Dan mungkin hari itu Allah telah mengatakan ‘Cukup dulu, kamu sudah berjuang keras untuk ini’
Jika dibanding yang lainnya, mungkin perjuangan saya tidak ada apa-apanya. Kegagalan yang saya terima belum seberapa. Saya membayangkan mereka yang belum berhasil lolos pada sbmptn, bagaimana mereka? Tapi saya yakin buat mereka yang belum berhasil, jika ada kemauan pasti ada jalan. Percaya pada hasil terbaik yang tengah dipersiapkan Tuhan untuk kita.
 Pada akhirnya saya tah, dengan melewati jalan yang panjang, saya bisa lebih menghargai buah hasil usaha saya ini.
So, gaees! Jangan takut untuk gagal, sebab kegagalan menjadikan kita lebih kuat. Allah tidak pernah meninggalkan kita, tidak sekalipun. Ketika kita gagal, mungkin perjuangan kita selama ini belum cukup untuk meraih hasil yang diinginkan.

Ya, seperti kata   pepatah; Bahkan jatuhlah seribu kali atau berapa kalipun, tapi jumlah bangkitmu harus lebih banyak dari pada jatuhmu 😊

Tambahkan Komentar
EmoticonEmoticon