February 18, 2019

Senja di Waktu yang Berbeda



Senja dahulu kala...

Sepasang kaki tanpa alas pernah mengukir tawa di pasir pantai itu

Berlarian mengejar ombak yang menepi

Terbenam dalam waktu sampai siluet menghitam



Senja di lain hari...

Sepasang kaki tanpa alas saling berdiri canggung di pasir kemarin

Sama-sama ragu untuk berlari menjamah sisa sore yang tertinggal

Padahal ombak yang menepi masih sama seperti dahulu

Siluet yang dulu dikagumi seolah tak berarti lagi

Kita saling diam,

Merutuk pada bulir kristal bening yang jatuh di pasir yang dulu menyimpan tawa

Kita saling terpaku dalam diam yang menyayat

Ragu-ragu, kuangkat kepala untuk menatapmu

Pandanganmu jatuh menembus langit jingga hingga ke ujung batas pandang

Dari diammu, kulihat keputusasaan

Kebimbangan untuk mengakhiri

Lalu kita sama-sama membuang muka


Senja hari ini..

Semua masih sama, apa adanya di tempat semula

Air laut masih menyapu pantai secara berkala

Senja masih membisu dalam jingga

Pasir yang kuinjak masih selembut sebelumnya

Tak ada yang berubah

Kecuali kita



3 comments:

  1. Salam kenal mbak!

    Senja itu emang paling romantis buat bikin puisi ya mbak.. Kalau saya, senja itu identik dengan nyamuk yang banyak lalu lalang depan teras T.T

    ** kabur ke Cianjur **

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti nyamuknya baru pada bangun tidur itu ya :D btw salam kenal kembali

      Delete
  2. Senja yang dahulu bersembunyi pada ingatan masing-masing :')

    ReplyDelete

Tambahkan Komentar
EmoticonEmoticon