Mei 02, 2019

Merontokkan Unek-Unek Kepala di Bawah Birunya Langit Pantai Panjang

Setelah berkali-kali berjanji untuk bertemu, dan tak satupun janji itu pada akhirnya terealisasi, Alhamdulillah Rabu ini akhirnya tak lagi-lagi menjadi sekadar 'bacot' doang untuk bertemu. Tebak siapa yang paling sering membatalkan janji? AKU HAHA.

Dari UNIB, kupacu motor ke daerah Padang Serai untuk menjemput seorang sahabat baik sewaktu SMA. Janjinya, hari ini kami pengen jalan-jalan sore di sekitaran Pantai Panjang.

Namanya Freisty, seorang teman lama yang akrab denganku di bangku SMA. Dulu, kalau tidak salah bertemunya sewaktu masa orientasi. Satu gugus waktu itu. Awalnya sih, aku tak begitu menggubris, tapi anaknya memang asyik dan mengajakku mengobrol di hari pertama masa orientasi. Dari obrolan pertama itu, setelah cerita panjang lebar, tahulah aku bahwa rumah kami ternyata berdekatan. Dia bilang sudah familiar dengan wajahku yang merupakan penghuni RT sebelah. Kebetulan pula, kami ternyata sama-sama penikmat lagu-lagunya Avril Lavigne. Dari situlah kami membuat janji untuk duduk sebangku jika nanti ditempatkan di satu kelas. Dan Alhamdulillah!!! Ternyata benaran satu kelas.

Jadi, dari awal masuk dunia putih abu-abu, kami memang sudah akrab. Apalagi karena rumah kami berdekatan. Aku ingat, dulu suka ngalor-ngidul sewaktu pulang sekolah, misalnya mampir ke warnet jika ada tugas, mampir ke warung di depan SMP, atau sekadar iseng memutar melewati rute yang lebih jauh untuk pulang.

Seriously, anaknya memang asyik dan sedikit blak-blakan kalau bicara. Meskipun kadang menyebalkan juga haha. Waktu SMA, kita terbilang jarang menghabiskan waktu di kantin saat jam istirahat, kerjaannya nyari pohon rindang lalu duduk cerita-cerita atau baca buku. Kalaupun jajan, biasanya cuma makanan ringan, itupun saling talangin; hari ini aku yang bayar, besok giliran dia yang bayar.

Pernah berantem? Wah pernah dong. Namanya juga sahabatan :'D Gara-garanya sih tak perlu disebutkan, yang jelas mulai akhir kelas 11 sampe pertengahan kelas 12, kami tidak terlalu sering jalan berdua lagi. Sebenarnya tidak bisa disebut berantem juga sih, hanya saling menjauh diam-diam. Tapi toh, akhirnya kembali sahabatan lagi, dan semuanya tetap baik-baik saja sampai sekarang. Perihal berantem itu, cukup jadi masa lalu yang patut ditertawakan untuk mengingat 'keremajaan' kita waktu dulu.

Ah, kembali ke kisah awal. Akhirnya, setelah pamit pada orang rumah, motor dipacu kembali ke kawasan pantai. Karena jam baru menunjukkan pukul 15.00, kami memutuskan mampir ke View Tower untuk jajan seblak. Dia yang beli, aku sih tidak suka seblak. Jadi, lebih memilih menenggak jus jambu biji sembari saling curhat dan foto-foto keramaian sekitar.

Meskipun panas belum mau turun tahta, kami tetap memacu motor ke Pantai Panjang. Awalnya mau sepedaan, tapi berhubung hari itu aku mengenakan rok, akhirnya kami hanya ngalor ngidul tak jelas menyusuri pasir pantai sampai tanpa sadar sudah kelewat jauh dari tempat parkir.

Inilah enaknya di Bengkulu, mau refreshing sedikit pasti langsung menuju pantai. Memandangi langit yang birunya nyaris menyatu dengan birunya laut adalah rezeki batin yang tak bisa dibantah. Adem sekali rasanya, meskipun panas membakar kulit tanpa ampun.

Laut memang selalu mengagumkan. Cantik, memesona, meskipun diam-diam menyimpan bahaya. Harus kuakui, memandangnya tidak bakal bikin bosan. Apalagi, saat stres akut menjalar pikiran akibat rutinitas sehari-hari dan masalah begitu mendesak kepala. Saat itu, ada waktu yang harus diberikan pada diri sendiri untuk kembali mendapatkan semangat, mengunjungi pantai sembari curhat dengan teman akrab adalah salah satu caraku.

Ada banyak cerita dan tawa yang lepas hari itu. Beban dalam kepala seolah rontok pada pasir yang berkilau, lalu hanyut terseret ombak ke tengah lautan.

Katanya, laut itu bijaksana; yang paling baik mengajarkan soal kehidupan. Aku sih memang sangat menyukai laut. Bahkan dengan memandangnya tanpa menyentuh buihnya, telah memberi angin segar untuk hati. Betul-betul ciptaan Allah yang luar biasa.

Jujur saja, momen seperti ini selalu membuatu tersentuh. Masih ada yang bisa diajak saling berbagi cerita dan saling menguatkan. Jangan tanya kenapa nggak ada foto kami berdua, habis keasyikan cerita-cerita sih, jadi lupa momen foto bareng.

Hari itu, kami pulang menjelang magrib. Sebelum senja naik tahta. Padahal, hari sedang cerah-cerahnya, yang berarti akan muncul pesona jingga di langit sore jika kami menunggu sedikit lebih lama. Tapi rasanya sudah puas panas-panasan di bawah langit biru dan ombak yang kejar-kejaran.

Hari itu biru, secerah perasaan yang kami bawa pulang. Terimakasih untuk waktu luang hari itu. Semoga selalu bahagia ❤❤


Bengkulu, 01 Mei 2019

7 komentar:

  1. Waah baru aja dapet vitaminsea nih ceritanya ahaha
    pergi bareng sohib pulak, what a great day!

    BalasHapus
  2. Kalo saya setiap ada keluh kesah atau apapun itu pasti larinya ke gunung, tapi saya akuin pantai juga indah banget, dulu waktu kecil saya sering banget ke pantai di ajak sama kakek, tapi sekarang saya sudah jarang ke pantai semenjak kakek saya sakit. Hemmm sepertinya saya harus mencoba ke pantai karena ada sedikit unek unek di hati ini, kalo untuk ke gunung biayanya belum cukup dalam waktu dekat ini hehehe.

    BalasHapus
  3. Wahhh pantainya indah banget ka, kalo saya di pantai sih biasanya cuma duduk diem dengerin deburan ombak.

    BalasHapus
  4. kenangan indah saat SMA punya teman dan sahabat yang solidaritasnya tinggi

    BalasHapus
  5. Salam kunjungan dan follow disini ya :)

    BalasHapus
  6. Each such meeting left only pleasant impressions. It was great to walk around the scenic spots, learning something new for yourself

    BalasHapus

Tambahkan Komentar
EmoticonEmoticon