June 25, 2019

Akhirnya Pohon Anggur di Halaman Belakang Pun Berbuah Kembali!

Ada suatu kegembiraan sederhana di momen awal Ramadhan kemarin, saat ibu menunjukkan setangkai bunga yang menggantung di ujung cabang pohon anggur di belakang rumah. Akhirnya, pohon anggur tersebut akan berbuah lagi. Yaa, biarpun hanya setangkai, tapi tetap gembira rasanya melihat hasil jerih payah aku dan ibu pada akhirnya membuahkan hasil.

Eh, baidewei kalian pernah nggak sih coba-coba menanam pohon buah dan malah jadi gregetan karena nggak kunjung berbuah? Gimana rasanya? Aneh juga kan, pohon buah tapi kok nggak berbuah. Nah, aku mau cerita nih tentang pengalaman menanam pohon anggur yang bikin gemas dan kesal sendiri karena bertahun-tahun tak kunjung berbuah juga, kayak doi yang bertahun-tahun tak kunjung membalas perasaan padahal udah dihujani kode keras...

Ibuku memang suka bercocok tanam. Tidak hanya tanaman bebungaan dan sayuran yang ditata rapi di halaman rumah, ibu juga senang menanam buah-buahan. Pertama kali menanam pohon alpukat yang sampai saat ini masih rutin berbuah. Pernah juga menanam sawo, tapi sekarang sudah diganti pohon mangga dan pohon lengkeng. Pernah menanam matoa namun keburu dibuang sebelum berbuah, soalnya takut pohohnya terlalu rimbun. Tahun 2014, aku dan ibu pernah mencoba menanam stroberi dan membuat kebun kecil di belakang rumah. Dulu, stroberinya rutin berbuah meskipun tidak banyak. Tapi saat ini stroberi kami hanya tersisa beberapa pot dan terbengkalai di belakang rumah, kalaupun berbunga paling-paling akan dirusak ayam sebelum menjadi buah. Di antara semua 'coba-coba' tersebut, yang paling berkesan adalah pengalaman aku dan ibu saat nenanam dan merawat pohon anggur.

Bibit pertama didapat ibu dari cangkokan punya tetangga. Bibit tersebut ditanam di halaman belakang rumah yang tidak terlalu luas. Selang beberapa bulan, pohonnya mati. Ibu lantas meminta lagi kepada tetangga yang baik hati tersebut. Akhirnya bibit kedua tumbuh dengan subur dalam beberapa bulan.

Saat itu, ada dua bibit yang ditanam, anggur ungu dan anggur hijau. Bibit kedua ini menunjukkan tanda-tanda kehidupan, pohonnya mulai ditumbuhi cabang-cabang baru dan menjalar. Aku dan ibu memutuskan untuk membuat jaring-jaring supaya cabang-cabang anggur yang menjalar dapat tumbuh dengan baik dan rapi. Kalau umumnya orang membuat jaring-jaring anggur dari besi dan kawat, aku dan ibu memilih cara yang lebih praktis dan lebih murah; membuatnya dengan jalinan kulit kabel yang kebetulan kami dapat dari limbah tetangga yang bekerja sebagai … hmm aku lupa, yang jelas si tetanggaku ini punya banyak banget bekas kulit kabel yang tembaganya sudah diambil dan dia mau ngasih cuma-cuma karena emang nggak terpakai. Jadi, aku dan ibu memanfaatkan kabel tersebut dan membuat jalinan-jalinan yang kemudian diikatkan ke dari ujung tembok ujung tembok lainnya. Jadilah tempat menjalarnya anggur tanpa modal tersebut hohoo…



Tapi, ternyata menanam pohon anggur tak hanya sekadar menanam dan ditinggal gitu aja. Karena setelah mendekati satu tahun, daun-daunnya sudah sangat merimbun dan cabang-cabangnya mulai menjalar ke mana-mana, namun pohon anggur tersebut tak kunjung berbuah. Wah padahal aku mulai gregetan pengen cepat-cepat makan buah anggur.

Ya, emang sih. Kalo mau makan anggur, kan tinggal beli di toko buah. Tapi, ada perasaan gembiranya dong kalo bisa metik buah anggur dari hasil tanaman sendiri.

Lantas aku mulai rajin browsing tentang tips-tips supaya anggur lekas berbuah. Ternyata, dari banyak laman yang kubaca, mengatakan bahwa pohon anggur harus rajin dirawat, rutin dipangkas daunnya, dirapikan, dan yang pasti diberi pupuk perangsang.

Sejak itu aku dan ibu mulai rutin memangkas daun-daun yang rimbun. Pohon anggurnya sampai benar-benar digunduli, hanya menyisakan daun-daun muda yang baru tumbuh. 

Lah, apa nggak mati itu daunnya digundulin semua? 

Awalnya aku juga kuatir, takut pohonnya mati. Tapi, buktinya si pohon adem-adem aja tuh daunnya digundulin. Setelah beberapa waktu, daun baru pelahan muncul kembali. Dalam beberapa artikel yang pernah kubaca, disebutkan bahwa pohon anggur merupakan tanaman yang hidup di 4 musim. Memasuki musim gugur, daunnya akan rontok keseluruhan. Jadi ini semacam penyesuaian seperti di habitat aslinya saja. Pemangkasan daun ini juga bertujuan untuk merapikan pohon supaya tidak terlalu banyak cabang-cabang yang akan membuat pohon makin sulit berbuah.

Selain pemangkasan, aku dan ibu rutin memberi pupuk. Kita bahkan sampe konsultasi ke toko pupuk demi mendpat pupuk kualitas bagus. 

Lalu, berhasilkan pohon tersebut berbuah??

Alhamdulillah, menuju tahun kedua akhirnya pohon anggur memunculkan beberapa tangkai bunga. Wah, rasanya senang sekali. Tiap hari pulang sekolah, kerjaanku selalu nengokin buah-buah anggur. Takut nanti tiba-tiba hilang hahaa...

Tapi, sayangnya buah yang dihasilkan kerdil. Besarnya cuma seukuran kelereng. Bahkan lebih kecil dari kelereng. Ada beberapa tangkai bunga yang sukses jadi buah. Anehnya, beberapa rasanya manis, dan beberapa tangkai lainnya rasanya aseeeem kayak pas liat kamu jalan sama dia *ehloh?!

Buah yang pertama ini nggak ada foto-fotonya. Soalnya udah lama dan waktu itu nggak kepikiran juga buat mengabadikan setangkai anggur pun.

Lalu apa yang terjadi setelah itu? 

Aku berharap, setelah kemunculan buah pertama. Pohon anggurku akan rutin berbuah. Namun yang terjadi adalah pohon tersebut tak kunjung berbuah lagi. Padahal sih aku dan ibu masih rutin memangkas daunnya, mencegah hama ulat, dan tetap rutin memupuk.


Setahun berlalu sejak kemunculan buah pertama, aku mulai jenuh menunggu pohon tersebut berbuah lagi. Benar-benar kayak nggak worth it, sekalinya berbuah, buahnya kerdil dan asem pula. Lama-lama memangkas daun dan merawatnya bikin capek sendiri. Jadi, di waktu-waktu tertentu, aku mulai menghasut ibu supaya pohonnya dibuang aja, dan diganti dengan tanaman baru. Tapi, rupa-rupanya pohon anggur tersebut sudah menjadi tanaman kesayangan ibu. Ibu suka marah kalo aku menyinggung tentang 'ganti aja dengan tanaman lain'. Ibu suka bercanda bahwa nanti kalo berbuah lagi, buahnya bakal segede telur ayam dan aku nggak boleh makan buahnya. Ya Allah, buu... 

Bibit-bibit anggur lainnya.

Lama-lama, ibuku mulai tergoda untuk membeli bibit anggur baru. Tiap kali ke pasar dan lihat ada penjual bibit buah-buahan, ibuku hanya akan melirik pada bibit anggur, nggak mau yang lain. Akhirnya, dibelilah sepot pohon anggur kecil yang ditanam di pojokan halaman belakang rumah. 

Nggak lama, ibu tertarik lagi sama bibit anggur yang menurut si penjual 'dijamin berbuah' dalam kurun waktu 1-2 tahun sebab bibitnya hasil dari okulasi. Entah anggur jenis apa, aku lupa. Yang jelas, saat ini udah ada 3 pohon anggur yang merambat di halaman rumah. Dan sialnya, tak satupun yang berbuah.

Nah, akhirnya kemarin penantian itu pecah dengan munculnya setangkai buah di pohon yang dulunya pernah berbuah sekali. Ini juga mungkin berkat saran dari empunya toko pupuk yang merekomendasikan pupuk yang disebutnya 'pupuk hantu'. Sekitar enam bulan rutin diberi pupuk, akhirnya pohon anggur tersebut berbunga juga.

Selama selang waktu dari Ramadhan ke bulan Syawal ini, bunga anggur itu udah jadi buah hijau sebesar kelereng. Tapi, belum cukup matang untuk dipanen. Kemarin sih, udah dipetik satu buah oleh ibu, karena penasaran. Tapi ya rasanya asyeeemm sekaliii sampai membuat badan bergidik, namanya juga anggur mentah.


Nah, itu dia buah anggurnya. Hahaa, iya emang setangkai itu doang, dan sekecil itu, dan buahnya nggak padat lagi :D Buah yang pertama dulu masih lebih cakep, lebih banyak, dan sepertinya juga lebih besar. Tapi kan tetap harus bersyukur karena pohon anggur ini akhirnya berbuah lagi. Doakan saja, semoga lekas matang dan rasanya manis, semanis wajah kamu saat tersenyum... 😚


Jadi ceritanya ini tulisan buat pamer setangkai buah anggur? *ngangguk-ngangguk di bawah pohon anggur. Kamu yang lagi baca celotehan unfaedah ini sampe akhir, kudoakan semoga panjang umur dan sehat selalu.

At least, ini blog nggak kosong melompong dan berdebu. Apalah artinya jika niat bisa posting tiap hari cuma jadi niat saja tanpa usaha, melotot pada diri sendiri.

Terima kasih telah mampir, silahkan berkomentar :)


Tambahkan Komentar
EmoticonEmoticon