July 10, 2019

Berjuang, Bersyukur, Bahagia

Bola kuning terang yang kerap membakar kulit sudah pergi ke belahan benua lain. Malam kembali merentangkan tangan, melingkupi hiruk pikuk kehidupan yang tiada lagi pernah sepi. Kehidupan terus berjalan, mulut terus berkomat-kamit, mata masih terbuka lebar meskipun kantuk menyergap. Apapun kesibukanmu, jangan lupa bernapas.

Malam ini ceria. Aku yang tidak ada kerjaan ini sedang duduk bersama secangkir kopi di ruang tamu, duduk menghadap papan keyboard sembari membayangkan bintang-bintang yang gemerlapan di langit malam. Diam-diam berharap dapat memetik satu yang paling terang, untuk kujadikan lampu kamar.

Hmm.. tunggu dulu, coba kutengok langit! Waduh, tidak ada bintang rupanya. Langit sedang kelam, bulan saja tidak kelihatan. Jadi buyarlah semua khayalanku tadi. 


Hari ini aku mau berceloteh tentang impian; tapi pikiranku hanya memgambang pada kata 'bintang'. Lantas, membuatku tiba-tiba ingat pada sebuah kutipan indah Bung Karno yang pasti telah banyak yang baca, dan membacanya selalu sukses menyentil batin, seolah Bung Karno benar-benar mewariskan jiwa semangatnya ke dalam kalimat ini;

Bermimpilah setinggi langit.
Jika engkau jatuh,
Engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.
-Bung Karno-

Bicara soal mimpi, tentu semua orang punya mimpi. Aku juga punya banyak mimpi. Banyaak sekali, dari yang remeh temeh sampai mimpi yang benar-benar besar; membuatku sesak napas acap kali memikirkanya. 

Sudahkah mimpi-mimpi itu terwujud?! Entahlah, sebuah pertanyaan yang bahkan aku sendiri masih gemetar untuk menjawabnya. Beberapa telah terwujud, beberapa masih diperjuangkan, beberapa terlihat terlalu jauh, beberapa lainnya telah kutinggalkan.

Berjuang untuk Mimpi

Mewujudkan mimpi adalah sebuah perjalanan penuh perjuangan. Jika ditanya, langkah apa yang harus dilakukan untuk meraih mimpi? Aku tidak bisa menyebut hal lain selain kata 'memulai'.

Sekecil apapun mimpi yang kita punya, semuanya layak diperjuangkan. Ketika punya mimpi, hal pertama yang harus dilakukan adalah bangun, dan mulailah dengan menanamkan niat, catat mimpi itu di dalam hati lalu gantungkan tinggi-timggi. Berjanjilah pada diri sendiri akan melakukan yang terbaik untuk mewujudkannya.

Selanjutnya yang mesti dilakukan ya tentu saja berjuang untuk mewujudkannya. Lihat peluang, ambil kesempatan, dan banyak hal lain yang aku sendiri belum sampai ke sana. Pokoknya berjuang saja dengan cara kita, lakukan yang terbaik. Mengenai apa yang menunggu di ujung jalan, kita tak akan pernah tahu jika belum mencapainya dan menyaksikan sendiri.

Secara sederhana, kuibaratkan berjuang itu seperti proses menghasilkan foto dengan kamera analog. Tentu tahu dong dengan kamera analog yang telah lebih dulu trend sebelum kemunculan kamera-kamera digital dan smartphone yang super praktis digunakan.

Untuk menghasilkan sebuah gambar yang bagus dengan kamera analog, tidak semudah menjepret dengan kamera digital dan smartphone. Ada proses panjang yang mesti dilewati; dari mulai mempersiapkan film, memasangnya, mengetes, mengatur cahaya, sampai menekan tuas untuk satu cekrekan. Tapi prosesnya belum selesai juga, untuk melihat hasil gambar, klise foto masih harus masuk ruang gelap dulu untuk dicuci, baru setelah itu bisa dilihat hasilnya, sesuai atau tidak.

Jika sudah menjepret gambar, hasilnya tidak bisa dihapus sesuka hati. Jika gambar tidak sesuai dengan keinginan, bagaimana? Ya proses mengambil gambar dan pencucian di ulang lagi. Tapi, disitulah letak indahnya menikmati proses. Semua butuh usaha keras, perhitungan matang, dan insting yang tepat. Ketika hasil didapat dari suatu proses panjang, maka percayalah semua tidak akan mengecewakan. Jikapun gagal, ya setidaknya telah mencoba dan mendapatkan banyak pelajaran berharga.


Bersyukur dengan Hal-Hal yang Dimiliki

Mengejar mimpi sampai ke ujung dunia sekalipun boleh saja dilakukan. Tapi jangan lupakan kenyataan, bahwa tak semua yang kita inginkan pada akhirnya akan tercapai. Sebab Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan, apa yang pantas kita dapatkan.

Jangan sampai, saking asyiknya berlari mengejar mimpi, malah lupa berhenti dan menoleh ke kanan dan kiri. Lantas menganggap remeh apapun yang telah kita peroleh. Kasarnya; kita menjadi pribadi yang lupa bersyukur.

Hakikatnya, manusia adalah makluk yang dilingkupi nafsu ketidakpuasan. Ketika kita berhasil mencapai puncak gunung yang satu maka muncul keinginan untuk mendaki gunung yang lain, yang lebih tinggi dan lebih menantang. Sifat tidak puas seperti ini sebenarnya baik, selagi masih dalam batas yang baik.

Batas yang seperti apa? 

Kebetulan sekali beberapa bulan yang lalu aku baru menamatkan sebuah buku Self Improvement karya Mark Manson - The Subtle Art of Not Giving a F*ck yang isinya menurutku cukup nendang dengan gaya bahasa Mark yang blak-blakan dan tidak bertele-tele.

Ada satu bagian di saat Mark memaparkan tentang standar kebahagiaan yang sebenarnya bisa kita dapat. 

Setiap orang ingin sukses? Tentu saja, tapi apa sih ukuran kesuksesan menurut diri sendiri? Apakah sukses itu artinya menjadi lebih baik dari 'seseorang'? Atau sukses adalah ketika kita bisa dikenal banyak orang? Dengan nilai itu kamu akan sulit mencapai kebahagiaan dan terus dirongrong keinginan untuk mencapai sukses yang sebenarnya hanyalah sebuah garis imajiner yang tak akan pernah didapatkan, karena sejak awal nilai yang dipilih sebagai indikator kesuksesan sudah salah.

Mengapa tidak memilih 'nilai-nilai' yang lebih baik sebagai standar kesuksesan? Sukses dengan menjadi manusia yang berguna, misalnya. Dengan begitu, kita bisa menjalani hidup dengan leluasa, berbahagia.

Bukankah kita ingin meraih impian dengan harapan supaya bisa bahagia? Nah coba pikirkan lagi nilai-nilai yang kita tanamkan sebelum memutuskan berjuang ke jalur yang mana.

Berjuang adalah sebuah keharusan, bersyukur adalah kewajiban, dan dari keduanya InsyaAllah akan didatangkan kebahagiaan oleh Allah. Aamiin

Nb: dibuat untuk diri sendiri, sukur-sukur jika bermanfaat bagi orang lain.

Tambahkan Komentar
EmoticonEmoticon