February 12, 2020

PERJALANAN PULANG (Banjarmasin Post, Edisi 22 September 2019)

》》 Pertama kali dipublikasi di Harian Banjarmasin Post
》》 Edisi 22 September 2019

Ilustrasi oleh: Banjarmasin Post

Aku takut gelap. Sejak kecil, aku percaya bahwa monster-monster ganas akan keluar dari kolong tempat tidur di malam hari ketika ibu mematikan lampu kamar. Saat menginjak remaja, guruku berkata bahwa agama adalah cahaya penuntun hidup manusia. Sejak itu, aku selalu berusaha untuk tidak membiarkan kegelapan merayap ke dalam hidupku.

Senja temaram yang terbingkai oleh jendela bus tampak begitu elok. Dengung mesin dan decit rem menjadi satu-satunya hiburan yang tertangkap telinga, sesekali diselingi suara alam yang memantul di tebing pegunungan. Kusandarkan kepala ke kursi. Perjalanan pulang yang seharusnya menyenangkan tiba-tiba menjadi berat dilalui saat kusadari bahwa aku semakin jauh dari kota. Aku ingin pulang ke desa, ke rumah ayah dan ibu, tapi pikiranku masih tertambat pada kamar kos kecil di belakang kampus, pada wajah nakal teman-teman kuliah, pada segelas kopi hangat yang senantiasa menemani waktu begadang, pada apapun yang kini membuatku merasa seolah pulang tanpa tujuan.

Kecuali kursi si sampingku, seisi bus sudah penuh. Aneh, sepanjang hidupku bolak-balik mengunjungi ayah dan ibu, baru kali ini bus yang kutumpangi terasa sesak.

Lampu bercahaya remang-remang di langit-langit bus menyorot samar setiap wajah. Semua penumpang larut dalam lamunan masing-masing, memikirkan sesuatu yang tertinggal jauh di belakang dan sesuatu yang menanti di tempat tujuan. Bedanya, mereka diam sambil tersenyum, sementara aku diam dan murung.

Demi mengusir jenuh, kualihkan retina mengamati wajah-wajah di dalam bus. Di kursi depan, duduk sepasang suami istri. Keduanya saling diam, saling pandang, memperlihatkan ekspresi bahagia. Seorang bayi mungil menggeliat di pangkuan sang wanita, membuat sang lelaki tak tahan untuk mengelus-elus kepala si bayi.

Sementara di seberangku, sepasang manula duduk bergandengan tangan. Keduanya juga saling diam, memandang keluar jendela. Si kakek mengulurkan telunjuknya ke arah langit, pada langit jingga merona, membuat mata si nenek berkaca-kaca.

Aku mengalihkan pandangan ke kursi di depan pasangan manula bahagia. Tampak seorang bocah lelaki menempelkan muka ke jendela. Mengagumi apapun yang terlintas seolah sedang melihat surga. Beberapa wajah di kursi lainnya tampak memejam mata dan mendengkur. Sepertinya lelah dalam perjalanan pulang ini. Wajah pulas itu tampak begitu damai. Ah, siapa yang menanti di tempat tujuan sehingga mereka begitu bahagia?!

Apakah aku satu-satunya yang semakin bimbang saat jarak ke tempat tujuan semakin terpangkas? Tiba-tiba hatiku dilingkupi keraguan. Dulu, ibu berpesan aku tak boleh pulang sebelum sukses. Tapi aku telah sampai pada titik jenuh menjalani rutinitas kuliah yang kian menguras hidup. Lelah menghadapi dunia tanpa ada tangan yang menopang di belakang. Aku ingin pulang, pada keluargaku.

Decit rem lagi-lagi terdengar. Bus perlahan menurunkan kecepatan saat kusadari bahwa aku telah melamun cukup lama. Tak lama bus berhenti, naiklah seorang wanita blasteran Indonesia-Tionghoa berkulit putih bersih. Aneh, baru kali ini ada bidadari naik bus jurusan ke desa, batinku.

Tersenyum ramah kepadaku, sang wanita blasteran tampak bimbang, sebelum akhirnya memutuskan duduk di sampingku. Pada akhirnya bus ini benar-benar terisi penuh. Dan semakin hening. Tapi tak lama berselang, sang wanita blasteran memecah obrolan kami.

“Pulang, Kak?”

Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku memilih mengulurkan tangan untuk berkenalan.

“Rudi,” sapaku.

Dia menyambut uluran tanganku dengan antusias. “Aku Cho.”

Aku tersenyum hambar. Dia balas tersenyum. Lalu hening kembali. Cho memandang keluar jendela, begitupun aku. Tapi aku tak lagi memandang pada langit malam, melainkan pada pantulan wajah Cho di kaca jendela. Dia juga memasang mimik bahagia, matanya menyipit saat tersenyum. Rambutnya panjang bergelombang, membuat wajah itu begitu manis dipandang.

Aku menoleh padanya. “Cho, apa arti pulang bagimu?”

Cho balas menoleh padaku, masih sambil tersenyum. Ah, yang benar saja! Dia seperti tidak punya ekspresi lainnya.

“Pulang? Ini perjalanan yang paling kutunggu seumur hidup, rasanya seperti terlepas dari semua beban.”

“Apa yang menunggu di sana sehingga kau begitu bahagia?”

Cho menunjuk keluar jendela. “Ada banyak yang menunggu, seperti bintang-bintang itu,” ucapnya. “Kenapa? Kau satu-satunya yang terlihat murung.”

“Aku.. Err.. Entahlah, seperti merasa bimbang untuk pulang. Tidak merasa bahagia, jiwaku seperti kosong.”

“Kalau begitu kau sebaiknya pulang.”

Mendengarnya, aku malah terkekeh. “Ya, aku memang sedang dalam perjalanan pulang. Kau pikir apa yang kulakukan di dalam bus ini?” kataku. “Tapi aku merasa kosong, seolah ada sesuatu dalam diriku yang tertinggal di kota.”

Cho bersungut-sungut. “Ya, maksudku, kau sebaiknya kembali ke kota.” Cho menangkap sorot mataku sebelum melanjutkan, “Kau tahu? Sejatinya pulang adalah kembali ke tempat di mana hati kita tertanam.”

Bus kembali memelan. Lalu berhenti, dan suara mesin pun mati. Cho berdiri, begitu pula seluruh yang lainnya. Semua berhamburan menyerobot pintu keluar. Hanya ada satu penjelasan, kami tiba di tujuan.

Mungkin ayah dan ibu sudah menungguku di luar pintu bus. Tapi aku mati langkah, merasakan kesunyian yang sebenarnya. Dalam keresahan itu, samar-samar kudengar isak tangis dalam kepalaku. Aku meringkuk, benar-benar berharap dihampiri secercah cahaya yang menuntunku menembus pekat dinding kesunyian ini. Oh, Tuhan? Ke mana aku harus pulang? Kupejam mata, sekali lagi kudengar suara memanggil dan lantunan Surah Ya-sin di telingaku.

Detik berikutnya aku membuka mata, kulihat beberapa orang tersenyum. Mereka, teman-temanku.

Alhamdulillah. Sadar juga kau akhirnya.”

Bau khas rumah sakit menyerbu masuk ke dalam indera penciumanku. Rasanya aku ingin memeluk mereka, tapi sekujur tubuhku yang terbalut perban terasa keram dan kaku. Air mataku menetes, dalam hati bergumam syukur kepada Sang Ilahi; Terima kasih telah memberiku kesempatan hidup, menuntunku pulang ke ragaku.

1 comment:

  1. Your condition can be explained by the mass of unresolved tasks that accumulate with each new day. However, this will not be an occasion to quit

    ReplyDelete

Tambahkan Komentar
EmoticonEmoticon