CERMIN | Dunia Impian Jane

Suasana malam hari

Dari pintu utama, terdengar tarikan napas berat mengiringi tersusunnya puzzle-puzzle ingatan. Tak butuh waktu lama untuk mengutuhkan kembali memori tentang gadis kecil yang senang berlarian di rumah itu. Yang lama justru mengumpulkan keberanian untuk kembali mengingatnya.

Jane, tubuh ceking Rosa selalu bergetar acap kali nama indah itu terlintas.

Empat tahun berlalu, Rosa masih dapat mendengar jelas alunan piano dari balik kamar Jane. Terdengar lembut dan penuh gairah. Jari-jari lentik Jane kecil selalu memanjakan indra pendengaran Rosa.

Sejenak, Rosa terpaku di ambang pintu kamar bernuansa putih. Matanya menerawang seisi kamar, hatinya merasakan kembali hadirnya kaki-kaki mungil yang melangkah memasuki kamar itu.

“Jane, mainkan sebuah lagu untukku,” rengek Rosa.

Gadis sebaya berambut cokelat tergerai di hadapannya bergeming. Sorot mata tajamnya terpaku pada jendela kayu yang terbuka.

“Jane, ajari aku bermain piano.” Rosa seolah tak kehabisan akal untuk memulai obrolan dengan saudari tirinya.

Jane berpaling, menatap tajam persis pada kedua bola mata sayu milik Rosa. Rosa tahu, tatapan membara itu berarti satu kalimat perintah; Enyahlah dari kamarku!!

“Jane, ayo keluar!! Anginnya sedang rusuh, kita bisa main layang-layang,” bujuk Rosa kembali di lain kesempatan.

“Jane, mengapa kau selalu bersama pianomu sepanjang waktu?”

"…"

“Jane, aku iri pada pianomu!!”

"…"

“Jane, haruskah aku bernada seperti pianomu agar kau mau main denganku??”

"…"

“Jane..”

Sebutlah Rosa terlalu bodoh untuk terus kembali menapaki kamar Jane. Gadis itu hanya butuh teman untuk bermain. Sementara Jane butuh seluruh waktu untuk merenungkan nasibnya.

Malam hari itu berbeda. Setelah bertahun-tahun, di usia mereka yang telah remaja. Pertama kalinya Jane membuka suara pada Rosa yang masih belum menyerah untuk mengajaknya bicara.

“Jane, apa Ibu memukulimu lagi?” Sekelebat kekhawatiran terpancar jelas di wajah Rosa. Tanpa sadar, tangannya mengusap lembut pada lebam-lebam biru dan merah di kulit Jane.

“Ro..ss..aa?!” panggil Jane tergagap. Untuk pertama kalinya gadis itu menyebut nama Rosa, dan itu cukup membuat Rosa melayang.

“Iya, Jane?” sambutnya.

“Kunang-kunang itu, kau tahu di mana rumahnya?”

Rosa mengedarkan pandang pada bingkai jendela yang terbuka. Rombongan kunang-kunang terlihat asyik bermain di tepian dinding rumah.

“Entahlah, aku tidak tahu.” Rosa menggeleng pelan.

“Tapi aku tahu.”

“Kalau sudah tahu, kenapa bertanya?”

“Mereka tinggal di ujung pelangi. Tempat paling indah di dunia ini, Rosa.”

“Oh yaa? Dari mana kau tahu?” Rosa mulai tertarik.

“Dulu, ibuku selalu berkisah begitu. Itu cerita kegemaranku.”

Rosa mulai kembali memperhatikan kunang-kunang di luar ruangan. Senyum di bibirnya mengembang. “Ceritakan soal ibumu. Apa dia secantik ibuku, Jane?”

Jane sekejap mengangguk mantap. “Iya, secantik ibumu. Tapi dia tak pernah memukulku seperti yang sering dilakukan ibumu.”

Darah Rosa seketika memanas, ada rasa tak enak hati mendengar penuturan Jane. Tapi dia tak dapat membantah kenyataan yang kerap ia lihat sendiri. Ibunya—Ibu tiri Jane, Rosa adalah saksi perlakuan kasar wanita itu pada Jane. Jane yang malang. Namun tak lantas membuatnya dijuluki bawang putih, sebab Rosa sendiri tak seperti bawang merah. Mereka lebih baik, karena mencoba saling memahami.

“Jane,” panggil Rosa ragu-ragu. “Apa kau marah?”

Jane menggeleng pelan. “Kau gadis yang baik, Rosa. Tentu aku tidak marah.”

“Maafkan aku karena tidak pernah bisa menhentikan ibu, Jane.”

Jane tak menjawab lagi. Pandangnya asyik melalar pada langit malam, mencari jejak bintang-bintang yang timbul tenggelam. Sementara di sampingnya, Rosa menatap lekat gadis itu.

“Kadang aku ingin jadi seperti lentera.” Kata Jane pada akhirnya. “Mereka dapat terbang lepas tanpa takut tersesat, sebab dia punya cahaya.”

“Apa lentera-lentera itu pulang ke ujung pelangi seperti halnya kunang-kunang?”

Jane menggeleng. “Entahlah. Mungkin saja semua yang bercahaya berasal dari ujung pelangi.”

“Kalau begitu tempat itu pasti indah.”

“Ya, mungkin itu dunia yang lebih baik, tersembunyi di ujung pelangi,” kata Jane. “Dunia yang penuh cayaha. Rosa, aku ingin ke sana.”

Rosa mengernyitkan dahi. “Bagaimana bisa ke sana?”

“Tentu bisa. Mungkin lampu kunang-kunang bisa menuntunku.”

Rosa ikut senang demi melihat senyum merekah miilik Jane. Senyum yang mengembang untuk pertama kalinya, dan belakangan disadari juga sebagai senyum terakhir.

Rosa mengakhiri percakapan malam itu dengan sebuah pelukan. Obrolan pertama mereka begitu membekas di ingatan Rosa. Jane yang menyukai kunang-kunang dan ingin pergi ke ujung pelangi. Semoga saja impian itu terkabul.

Esoknya, Jane benaran pergi. Tubuh gadis itu ditemukan terkulai lemas, tubuhnya tergantung pada tali besar yang diikatkan ke lehernya, lalu digantung ke sebuah tiang. Sebuah kursi terkulai di lantai. Air mata Rosa tumpah. Deras dan tak berhenti berhari-hari.

"Jane, mengapa kau meninggalkan aku?!" lirihnya.

Hari ini, Rosa kembali menangis untuk alasan yang sama. Ditariknya gagang pintu hingga tertutup. Masih tak menyangka, obrolan mereka begitu singkat.

Jane, Rosa ragu gadis itu akan sampai ke ujung pelangi. Sebab Rosa tak pernah melihat kunang-kunang terbang menuju pelangi. Lentera pun hanya membubung tinggi dan menghilang.

Mungkinkah dia tersesat?

Rosa mencoba mengerti tentang gadis yang kini bayang-bayangnya menetap di memorinya.

Jane telah meninggalkan Rosa, memilih berjalan ke ujung pelangi dengan bantuan kunang-kunang.


Pertama kali dipublikasi di plukme.com
Diterbitkan ulang, dengan modifikasi

Posting Komentar

0 Komentar