June 08, 2017

Kenangan Putih Abu-Abu Bersama Pahlawan Tanpa Tanda Jasa


Selamat pagi. Orang bilang masa SMA adalah masa paling menyenangkan, benar? Begitupun yang saya alami. Bocah bau kencur sudah mulai beranjak dewasa, sudah bisa mengerti berdandan, bahkan beberapa sudah akrab sama bedak putih tebal dan lipstik merah merona (bukan saya :p), sudah mulai serius menata masa depan; tamat nanti harus kemana, ambil jurusan apa, mau kerja di mana.
Ribuan kisah terangkai manis sewaktu saya menggunakan seragam yang sempat menjadi kebanggaan ini. Kisah gila bersama teman-teman seperjuangan, kisah yang berakhir tragis saat naksir cowok, hingga tangisan saat perpisahan. Semua terangkum dalam memori saya. Momen indah yang layak dikenang.
Disisi lain, ada rentetan pahlawan tanpa tanda jasa yang selalu setia memberikan ilmu kepada kami semua, dari hari pertama menginjakkan kaki ke sekolah dengan warna-warni seragam SMP hingga kami melewati ujian dan kelulusan. Ya, guru.
Hari ini usai makan sahur, saya membuka file lama di notebook dan menemukan beberapa selipan foto kenangan yang diambil saat hari guru beberapa waktu yang lalu. Ini bukan hari guru, tapi izinkan saya untuk berbagi sedikit kisah mengenai beberapa guru-guru saya yang tidak kenal lelah memasuki ruang kelas kami demi menyumbang sedikit ilmu untuk bekal kami di masa depan.
Bersama pak Par

Yang tinggi menjulang di tengah itu namanya Pak Paryono, akrab kami panggil pak Par. Beliau selalu terlihat serius, sedikit sekali bercanda. But for sure, ketika kalian mengenalnya lebih dari setahun, kalian akan tahu banyak sekali hal keren pada dirinya. Pak Par mengajar Kimia, setidaknya untuk tiga tahun di kelas saya. Bagi saya, akrab sekali melihatnya berjalan di koridor, tanganya menenteng tas laptop dengan raut muka semangat berjalan menuju kelas kami. Tersenyum khas menyapa kami semua ketika tiba di pintu masuk, kadang kala menegur beberapa teman yang tengah asyik bermain ponsel sehingga tidak menyadari kehadirannya.
Bertatap muka dua kali seminggu dalam tiga tahun mungkin menjadikan beliau yang paling tahu karakter kami di kelas itu. Bagaimana tidak, dari hari pertama kami memasuki ruangan dengan seragam SMP hingga tiga tahun kemudian kami memasuki babak ujian, beliau menyaksikan. Dari mulai kami masih terlihat malu-malu berbicara hingga kami jadi malu-maluin, beliau menyaksikan. Beliau mengajari kami dari mulai jenis-jenis kimia hingga kami mengenal bilangan oksidasi, dari mulai tabel yang awalnya tak bermakna bagi kami hingga kami bisa mencari molaritas, beliau mengajarkan semuanya. Ya, tiga tahun mengajar di kelas kami pada mata pelajaran yang sama, setidaknya beliau tidak pernah bosan melihat raut wajah kami yang kian tersiksa dengan materi yang semakin sulit dan rumit.
Predikat pak Par adalah guru paling rajin. Selalu hadir tepat waktu saat jadwal mengajar, dalam keadaan apapun. Jika terpaksa tidak bisa masuk mengajar, pasti ada saja tugas yang ditinggalkan di kelas. Saya ingat sewaktu duduk di kelas sepuluh saat diadakan pentas seni waktu itu, siswa-siswi di kelas lain semua pergi menonton, sementara kami berkutat dengan rumus di dalam kelas. Prinsipnya tidak ingin makan gaji buta, itu yang selalu dikatakan beliau.

Pak Sakimin, S.Sos.

Kalau yang tersenyum malu-malu ini namanya pak Sakimin. Hampir seisi sekolah akrab dengannya. Beliau terkenal sebagai guru PKN yang hobi sekali bercanda, apa pun yang dilakukan beliau agaknya memang lucu sehingga kami senang tertawa saat beliau mengajar, kadang kala kami tidak sengaja tertawa meskipun beliau tengah serius. Oke, ini bukan sikap yang baik...
Hari-hari belajar dengan beliau kami habiskan dengan diskusi kelompok. Diawali dengan membuat materi, presentasi ke depan kelas secara bergantian, tanya jawab dan adu argumentasi bersama kelompok lainnya. Saya ingat, satu-satunya yang semangat pada bagian ini adalah teman saya Riska, beberapa murid duduk diam sambil mendengarkan, beberapa asyik dengan dunia masing-masing, beberapa bahkan memilih mojok di kursi belakang. Hingga ulangan bulanan tiba, tiba-tiba semua menjadi gelap :D

Ibuk Susrita

Ibu Susrita Syam, akrabnya kami panggil buk Sus. Matematika adalah keahliannya, bergelut dengan rumus yang tidak ada habis-habisnya adalah kesenangannya, memenuhi papan tulis dengan angka-angka yang entah muncul dari mana adalah kesukaannya. Apapun yang berbau matematika, beliau ahlinya.
Meskipun bertubuh kecil, semagat mengajarnya sangat tinggi. Tidak terdengar buruk kan jika kami harus bergelut dengan matematika tiga kali dalam seminggu. Tentu saja itu yang selalu ditanamkan beliau pada kami. Lima spidol atau bahkan lebih selalu dibawanya saat mengajar, plus penggaris panjang kadang-kadang.
Beliau tidak akan berhenti sebelum papan tulis putih yang panjang itu berubah hitam akibat angka-angka yang ditulisnya. Lalu beliau meminta kami mencatat dengan cepat, atau papan tulis akan segera dibersihkan dan beliau mulai memenuhinya lagi. Seolah beliau tidak pernah bosan melakukannya berulang kali. 

 
Ibu Sus juga suka bercerita, kadang memberi nasihat, kadang kala bercerita soal kampung halamannya di Padang. Hal yang menjadi bumerang bagi kami untuk mengulur waktu kala jenuh yang tidak tertahankan menggerogoti pikiran. Beberapa teman lelaki saya memulai pembicaraan mengenai lokasi wisata di Padang, obrolan itu selalu disambut antusias oleh beliau. Apapun akan kami bahas demi sedikit waktu istirahat saat belajar meskipun obrolan merembes ke mana-mana :D dari mulai makanan khas Padang, harga oleh-oleh di sana, jarak tempuh dari Bengkulu ke Padang, hingga tempat parkiran di rumah makan Padang pun kami bahas. Setidaknya ini lebih baik daripada bergelut dengan rumus hingga bel berbunyi. Namun trik ini tidak selalu berhasil, ada kalanya beliau sadar akan maksud dan tujuan kami yang sebenarnya, sehingga beliau sebisa mungkin menahan lidah untuk becerita.


 

Yang ini adalah pak Heri, begitu kami memangilnya. Beliau adalah guru Sejarah yang menyenangkan. Baru bertemu kami saat di kelas dua belas. Ia fasih sekali bercerita soal sejarah Indonesia tanpa harus melihat buku, hampir semua cerita sejarah ia kuasai. Bahkan tidak segan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering kami ajukan di sela-sela pelajaran. 

Kadang kala kami diberi pertanyaan ringan saat memulai materi. Misalnya seperti; “Siapa pemimpin DI/TII di Jawa Barat?”
Sontak seisi kelas pun mulai membolak-balik  buku paket untuk mencari jawaban. Entah mengapa yang berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu hampir selalu saja siswa laki-laki. Sering juga, saat kami tidak berhasil menemukan jawaban, beliau memberitahu halaman dan paragraf mana yang harus dibaca, tanpa beliau harus ikutan membuka buku. Dan benar saja, kami menemukan jawabannya.
Beliau mengajar sejarah dengan antusias tinggi. Kalau tidak salah saya pernah menemukan sebuah blog yang menggunakan namanya, blog yang membahas sejarah, sepertinya milik beliau, saya lupa nama blog tersebut (kalau tidak salah loh ya).
Pak Heri suka bercanda, kadang dia yang memulai melucu sehingga kami tertawa terbahak-bahak, kadang beliau melotot ketika beberapa teman saya mencoba melawak saat ia tengah serius, hal ini justru menambah kesan lucu sehingga kami makin terwata sejadi-jadinya.


Mem Marlena, beliau adalah guru bahasa Inggris, mengajar kami sejak kelas sebelas. Namun menjadi lebih akrab di kelas dua belas, saya menghabiskan waktu tiga hari dalam seminggu bertatap muka dengannya, belum lagi ditambah les sekolah di hari rabu. Totalnya empat hari dalam seminggu.
Selain seorang guru, mem Lena juga menjadi sahabat bagi saya. Sifat beliau yang mengerti anak muda dan dekat dengan siapa saja membuat banyak murid nyaman bercerita dengannya, termasuk saya. Kadang sekadar berbagi keluh kesah, dan beliau tidak ragu memberikan solusi dan nasehat untuk kami semua. 
There was a lot thing i wanna share you about her, saking banyaknya jadi nggak tahu harus mulai dari mana. Intinya, mem Lena merupakan salah satu guru yang paling akrab dengan saya selama SMA, tidak jarang menyapa saat bertemu di luar kelas dan sekadar mengobrol ria.



Beliau adalah pak Buhari, mengajar Ekonomi dan Prakarya. Saya pribadi tidak pernah diajar olehnya karena saya lebih senang hati dan sukarela mengikuti pelajaran bahasa inggris di kelas sebelah. Tahu kenapa? Tanyakan pada mereka yang ambil lintas minat ekonomi saja:’v.
Oke, saya beritahu. Dalam hal mengajar, beliau ini sebelas dua belas lah sama sang guru Matematika, bakan mungkin lebih bersemangat dan lebih antusias lagi dalam memberikan ilmu pada mereka yang duduk dengan kepala bersender di meja.
Dengan semangat ia membimbing muridnya mengisi tabel perhitungan uang yang digambarnya di papan tulis, jumlah angkanya mencapai jutaan. Sepertinya beliau ingin menunjukkan kalau ekonomi itu bukan pelajaran membosankan, meskipun sepertinya tidak sepenuhnya berhasil, beberapa siswa bolak-balik keluar kelas dengan raut muka masam, beberapa tertidur di kursi belakang, beberapa mengikuti alur perhitungan hingga selesai. Saking semangatnya, papan absensi pun dijadikan arena menggambar tabel bagi pak Buhari, sepertinya satu papan tulis tidak cukup bagi beliau. Ketika bel berbunyi, itu bukan tanda mengakhiri pembelajaran bagi beliau, tapi suatu tanda melanjutkan pembelajaran sampai guru selanjutnya muncul di pintu masuk, barulah pak Buhari selesai dengan spidolnya dan baru merapikan buku yang berserakan. Pelajaran pun diakhiri dengan rentetan pekerjaan ramah. Yaah, semangat mengajar beliau ini patut diacungi dua jempol.





Terakhir adalah ibu Rikha Kurniaty, wali kelas sekaligus guru fisika kami. Meskipun baru bertemu di kelas duabelas, beliau akrab dengan kami, sangat perduli dengan kenyamanan kelas. Baiklah, pertama-tama saya akan bilang kalau beliau ini guru yang narsis, hobi berfoto meskipun suka terlihat malu-malu di depan kamera. Hahaaa
Matanya yang sipit tenggelam saat beliau tertawa lepas, tapi kadang suka marah juga akibat kelakuan nakal kami. Pernah suatu ketika kami bertengkar saat membahas buku tahunan siswa, tak hanya disitu, beberapa murid lelaki di kelas kedapatan berulah dan dipanggil ke kantor oleh pak Paryono. Disaat seperti itu, ibu Rikha selalu mengambil waktu mengajarnya untuk menasehati kami secara private, beliau terlihat marah, memandangi kami satu persatu dengan lekat, cukup ngeri sih, sampai-sampai tidak ada yang berani bersuara. Setelah itu, kelas menjadi hening. Tapi tentu saja tidak lama kemudian keadaan menjadi damai lagi, bahkan beliau sudah kembali tersenyum saat melanjutkan materi.
Kalau sedang menyelesaikan soal, beliau pasti selalu bilang ‘Mudah ini, nak.’ selalu saja begitu. Meskipun kepala kami rasanya mau meledak. Bayangkan saja bertempur dengan fisika yang materinya super sulit ini di siang bolong pada hari sabtu. Pikiran pastilah sudah berada di hari esoknya.
Well, cukup panjang juga ya tulisan ini. Sebenarnya sih, masih banyak deretan nama yang tidak sempat saya tulis di sini. Banyak sekali. Tapi saya tidak bisa menguraikan satu-persatu. Yang jelas, saya sangat berterimakasih kepada segenap ibu dan bapak guru yang dengan senang hati telah memberikan ilmu kepada kami selama masa-masa SMA. Sekarang kami sudah lulus; Yang artinya, sudah harus meninggalkan sekolah kesayangan itu, sudah harus menapaki jalan lain menuju cita-cita. Mengenai masa putih abu-abu yang terukir di sini, biarlah ia menjadi kenangan yang suatu ketika akan membuat kami tersenyum tatkala mengingatnya kembali.

Ps: Dibuat dengan niatan biar fotonya nggak hilang wkwk 





Tambahkan Komentar
EmoticonEmoticon