March 09, 2019

Unknown Story 2




Beberapa kali terdengar bunyi menggelegar dari langit. Aku menarik napas lega setelah menggapai gagang pintu kedai kopi. Kamu membukakan pintu, membiarkan aku masuk terlebih dahulu, lalu menutupnya kembali.

Kulihat seluruh meja penuh oleh pengunjung. Bang Tegar muncul dari salah satu meja di pojok ruangan sambil menenteng nampan kosong. Raut mukanya kusut, rambutnya yang dikuncir karet sayur menyembul di sana-sini. Kutebak, pelayannya tidak masuk bekerja hari ini. Bang Tegar hanya mempekerjakan satu pelayan untuk membantunya bekerja di kedai itu. Sehingga jika pelayannya yang agak malas dan lamban itu tidak masuk bekerja, artinya lelaki berotot itu harus rela menguras lebih banyak tenaga.

Saat kembali ke meja barista, tak sengaja ia mendapati keberadaanku yang masih berdiam di ambang pintu. Bang Tegar tersenyum, lalu bergegas menghampiriku.

“Datang bersama teman, cantik?” Tanyanya berbasa-basi.

Sejujurnya, aku hampir lupa pada kamu yang menyebabkan aku berada di kedai kopi ini, jika saja tidak diingatkan oleh bang Tegar.

“Sepertinya kau sibuk hari ini, kedaimu begitu ramai.” Kataku, tanpa perlu menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya.

Bang Tegar terkekeh. “Lelaki itu tidak bisa datang karena ibunya sedang sakit. Entahlah, sepertinya aku harus terbiasa bekerja sendirian.” Katamya.

“Kedai ini kelihatan penuh, padahal kami mau menikmati secangkir kopi.” Kudengar kamu bersuara.

Bang tegar beralih menatapmu. Layaknya pertemuan antar lelaki pada umumnya, kulihat kalian langsung bertindak akrab.

“Jangan khawatir,” Katanya sambil menepuk pundakmu dengan santai, “masih ada satu meja kosong di pojok itu. Ayo, kuantar kalian ke sana.”

Lantas aku mengikuti langkah bang Tegar—aku berjalan di belakang, sementara kamu berjalan bersisian bersama bang Tegar.

Meja yang dipilihkan bang Tegar untuk kita, yang mungkin satu-satunya meja kosong sore itu persis berada di bagian pojok belakang ruangan di kedai kecil itu. Meja itu hanya memuat dua kursi yang diletakkan saling berhadapan. Rata-rata pelanggan yang berkunjung membawa banyak rombongan, mungkin itulah sebabnya meja di pojok ruangan ini tidak terjamah. Padahal, letakknya cukup strategis, di sisi kiri meja, terdapat jendela kaca yang membingkai indah deretan bunga lily di taman belakang kafe. Orang-orang mungkin tak akan percaya jika kukatakan bahwa taman bunga itu diurus sendiri oleh bang Tegar; makhluk berotot dan bertampang sangar yang saat ini tengah menurunkan dua cangkir kopi ke meja kami.

Hujan yang terus mengguyur membuat suasana teduh melingkupi taman mini tersebut. Kulihat, beberapa lily putih tengah mekar indah. Meski diguyur hujan, namun kelopak putihnya tetap sedap dipandang mata, memberi kedamaian batin bagi siapa saja yang memandang.

“Lily putih, aku selalu berharap memilikinya satu di halaman rumahku.” kamu tiba-tiba berucap. 

Aku mengalihkan pandanganku dari taman lily, menilik wajah manis di hadapanku. “Lantas mengapa tidak menanamnya?"

"Karena tidak ada yang bisa merawatnya. Aku jarang pulang ke rumah, terlalu sibuk sama kerjaan."

"Oh, begitu."

Ada jeda beberapa saat, sebelum akhirnya kamu kembali membuka suara.

"Ngomong-ngomong, kau bisa memanggilku Luis."

"Oh, baik." 

"Dan namamu?"

"Lily," kataku.

Pertemuan hari itu berakhir dengan perkenalan, tanpa jabat tangan, namun menoreh kesan dalam. Aku mengingat detik per detik hari itu hingga kini.

4 comments:

  1. Membaca cerita postingan, tapi seolah nonton sinetron nih

    ReplyDelete
  2. Kan kesel dek, kenapa ada kedai kopi sih😭😭aku pengen lupa kenangan di tempat itu

    ReplyDelete
  3. Jadi greget baca nya
    Cm nyampe kenalan cerita nya selanjutnya...
    Hehe

    ReplyDelete
  4. Masih bersambung apa udah tamat nih? Apa cuma sampai kenalan saja Lily dan Luis?

    Seperti nya masih bersambung ya?

    ReplyDelete