January 31, 2019

Jangan Khawatir Soal Rezeki


Hari ini matahari punya kesempatan lebih baik dibanding hari-hari sebelumnya. Setelah sekian hari belakangan hujan mengguyur tak kenal waktu, membuat kulit mengkerut kedingingan siang malam, kini bisa kurasakan panas menyengat begitu terik. Panas, lapar, dan haus, adalah perpaduan sempurna untuk 'marah-marah' tanpa sebab. Meski seluruh kaca di angkutan kota itu telah kubuka, tetap saja tak mengurangi intensitas hawa panas.

Aku sibuk mengipas-ngipas muka dengan telapak tangan sambil memerhatikan jalanan yang tak begitu macet, berharap segera tiba di rumah.

"Sepi!"

Kudengar seseorang berucap dengan suara berat yang ketus. Aku menoleh, rupanya supir angkot lain yang berhenti di sebelah angkotku yang bicara.

Supir angkotku hanya terkekeh kecil. Mereka berdua nampaknya seumuran, sama-sama sudah beruban dan berbadan gendut. 

"Rupanya hari ini pun nggak ada penumpang,"  suara berat itu kembali merutuk.

Kulirik angkot di sebelah itu. Kosong. Sementara angkot yang kunaiki berisi tiga orang penumpang, termasuk aku sendiri.

"Sabar, Mang." Kata supir angkotku. Suaranya lembut namun mengisyaratkan ketegasan. "Barangkali calon penumpangnya lagi mandi, atau lagi berhias, sebentar lagi mungkin bakal keluar rumah buat nyetop angkot. Sabar aja, rezeki nggak bakal kemana."

Ah, ya! Di hari yang begitu terik ini, kupikir semua orang maunya marah-marah saja. Tapi toh buktinya masih ada yang menyikapi hari dengan kepala dingin seperti sang bapak. Kata-kata itu klise, tapi sepertinya masih manjur buat jadi penyemangat diri.

"Bisa bener kalimatmu itu.." kata supir sebelah.

"Nah, Mamang jalan aja duluan, tapi penumpangnya jangan dihabisin."

Kudengar mereka tertawa nyaring sampai lampu hijau menyala~

January 29, 2019

Sidang Tilang dan Bunga Rafflesia



Keinginan untuk melihat bunga Rafflesia mekar ini sebenarnya telah lama kupendam. Waktu sekolah, terhalang waktu. Pas kuliah, sulit untuk mengajak teman yang mau sukarela menemani aku yang ngidam ketemu bunga Rafflesia ini.

Seperti yang telah diketahui khalayak umum, Provinsi Bengkulu memang terkenal lewat ikon Rafflesia Arnoldi-nya. Bunga yang digolongkan sebagai puspa langka dalam bunga nasional ini telah menjadi ikon kebanggaan masyarakat Bengkulu sejak lama.

Bicara soal Rafflesia, dari lahir sampai besar di kota tercinta ini, aku belum pernah melihat bunga langka ini secara langsung. Hal itu sih karena bunga Rafflesia tidak hidup di sembarang tempat, hanya bisa ditemukan di hutan-hutan tropis yang masih terjaga kelembapannya. Sementara aku tinggal di area kota yang panas.

Nah, pada akhir Desember yang lalu, Alhamdulillah akhirnya aku bisa menyaksikan bentuk nyata si bunga ini dengan kedua bola mataku sendiri.

Sebenarnya sih, momen ini datang secara tidak sengaja. Bermula ketika aku dan seorang teman ingin menghadiri sidang STNK di daerah Kepahiyang.

Pertanyaannya, aku yang tinggal di kota ini kok bisa sih harus sidang tilang di Kabupaten Kepahiyang yang jaraknya sampe dua jam perjalanan itu?

Ceritanya, beberapa waktu sebelumnya aku dan beberapa orang teman sekelas pernah berencana jalan-jalan ke Kebun Bunga di daerah Curup. Kami berangkat dengan berkendara motor. Namun, alih-alih sampai ke Curup, di persimpangan Kepahiyang, dua motor kami malah ditilang oleh pak Polisi karena kedapatan melawan arus (Ini nggak sengaja loh ya).

STNK ku ditahan dong, dan seperti umumnya kejadian tilang lainnya, yang bersangkutan diminta menghadiri sidang tilang, pada waktu itu kebagian tanggal 21 Desember 2018. Aku cemaaasss, wah gimana nih kalo sampe ketahuan mamak. Bukan apa-apa, tapi rasanya tuh bego banget loh kelakuan hari itu. Akhirnya, setelah dipikir-pikir aku memilih datang kembali pada hari yang ditentukan.

sengaja di-blur

21 Desember 2018, aku berencana pergi berdua saja bersama teman akrabku. Ya jelas tidak berani pergi sendiri, karena selain harus melewati gunung yang sepi, aku sendiri belum lincah berkendara motor. Tapi syukurlah, ada dua teman lelaki yang dengan baik hati mau menemani kami, keduanya juga ikut sewaktu kejadian tilang kemarin, tapi tidak ikut kena tilang.

Singkat cerita, kami pun berangkat sekitar pukul sepuluh pagi. Perjalanan terasa panjang. Setelah memasuki area Taba Penanjung ke Liku Sembilan, kami lihat ada tulisan Rafflesia Mekar pada spanduk sederhana yang dipajang di pinggir jalan. Beberapa hari sebelumnya aku memang sempat melihat postingan di media sosial salah satu Komunitas peduli Rafflesia yang ada di Bengkulu. Jadi, komunitas-komunitas ini memang rutin memberikan informasi mekarnya bunga Rafflesia di daerah-daerah Bengkulu (Terima kasih untuk kalian). Kami pun memutuskan untuk mampir sekembalinya dari mengambil STNK.

Sampai di Kepahiyang, sudah jam 11.40. Mana hari jum'at pula. Sebenarnya, sidang tadi dijadwalkan pukul 8.00 pagi. Sudah sangat terlambat, akhirnya kami memutuskan untuk langsung mendatangi Kejaksaan Negeri. Yah berdasarkan pengalaman sebelumnya (langganan tilang), kalau tidak ikut sidang, maka ambil STNK-nya ke Kejaksaan Negeri. Tanpa banyak basa-basi, kami pun meluncur ke Kejaksaan Negeri. Syukurlah, setelah sampai di Kejaksaan Negeri, aku langsung mendapatkan kembali STNK terjintah-ku itu hanya dalam waktu lima menit. Eits, tentunya setelah membayar denda tilang dulu, dong.

Setelah itu kami mampir ke Masjid terdekat, mengingat yang laki-laki harus sholat Jum'at dan kami yang perempuan harus sholat Dzuhur. Kami kembali ke kota sekitaran pukul satu. Nah, sesuai rencana di awal, kami pun mampir ke tempat mekarnya Rafflesia tadi.

Di pinggir jalan, ada sekompok orang yang menjaga parkiran. Setelah parkir kami dipersilahkan turun ke dalam hutan. Kami melewati jalur tanah yang menurun, tapi tanah menurun itu telah dibuat menyerupai tangga untuk memudahkan pengunjung, ditambah juga pegangan di sisi kiri kananya. Jaraknya sekitar... seratus meter barangkali. 



Inilah foto pertamaku bersama bunga Rafflesia mekar. Btw, bunga ini termasuk berukuran gede, aku pernah baca kalau diameter bunga Rafflesia bahkan bisa mencapai 100 cm, tapi yang kami lihat ini sih tidak sampai seukuran itu. Melihat Rafflesia mekar ini dengan mata kepala sendiri seperti melihat bentuk lain dari Bengkulu. Ada sensasi semacam euforia menyenangkan begitu bunga itu hadir tepat di depan mata. Yah, itulah bunga langka yang saat ini tengah terancam keberadaannya.

Kesempatan ini tidak kami sia-siakan. Kami mengambil beberapa gambar sembari mengagumi kecantikannya. Sayangnya, di beberapa titik bunga itu telah muncul bercak kehitaman. Kata sang penjaga yang saat itu menemani kami, titik hitam itu muncul karena beberapa pengunjung tidak sengaja menyentuhnya. Ya, Rafflesia ini sensitif terhadap sentuhan. Nah, kami sedikit berbincang bersama sang penjaga itu. Dia berpesan supaya kita lebih peduli lagi terhadap puspa langka ini, apalagi ini adalah puspa kebanggaan Bengkulu.

Hari itu aku pulang dengan perasaan senang, senang karena STNK-ku sudah kembali aman di dalam dompet, dan senang karena bisa melihat Rafflesia mekar.

January 27, 2019

PUISI | Pada Senja yang Berlabuh

Pic: Ndit

Dan senja pun sirna.  
Sembunyi di antara langit tak berujung. 
Barangkali, lelah pada cerita ini. 
Sebab alurnya dipenuhi sesak dan resah.

Dan kau memilih pergi . 
Menatap rapuh pada angan yang berlabuh. 
Dan waktu merengkuh, 
Angkuh menatap senja yang terjatuh.
Dan kau semakin jauh. 
Lalu, mulai meragu untuk kembali.

Kau jelajah setiap cerita. 
Tak lagi-lagi menilik sudut kota; 
Tempatku dan segenap kenangan kita. 
Tak peduli bahwa aku masih mencinta. 

Adakah kamu meragu? 
Meskipun lenganku setia terentang untukmu. 
Meskipun masih hangat dekapku menantimu. 
Meragukah kamu untuk kembali? 
Padahal masih tertoreh cinta di mataku. 

Atau justru waktu yang semakin angkuh, 
Saat kamu semakin jauh. 
Entahlah.. 
Tidak kutemukan apapun pada senja.
Tidak jawaban, pun penjelasan. 
Dia memerah, membisu, kemudian hilang. 
Begitu saja. 

Kemudian apa?!
Gantian aku yang terpaku. 
Tanpa tanya. Tanpa kata. Tanpa senyum. 
Lalu apa?
Kini, pada senja yang berlabuh itu— 
Kutumpahkan sekelumit rindu. 
Biar saja,
Kupeluk seton angan nun jauh di tengah samudera 
Berharap, kelak kamu akan sudi kembali



Januari, 2019

January 26, 2019

PUISI | Seangkuh Rindu


Si angkuh itu bernama rindu 
Yang mengetuk tanpa suara  
Membawa masuk derita 

Menyesaki ruang tak bernama
Hati... 

Bodoh jika kusimpan air mata
 
Meski ada luka yang kian menganga
 
Ada rindu yang mewujud nanah
 
Memutih, membusuk, terkadang berdarah
 

Tak mengapa,
 
Biar kusimpan derita
 
Sebab kucoba belajar angkuh;
 
Layaknya rindu
 
Rindu yang angkuh 

Bak belati menusuk kalbu
 
Menghujam sampai hatiku
 

Seganas itulah rindu
 
Yang divonis, akan sulit sembuh
 
Seangkuh itulah rindu
 
Hadirnya bisa membunuh

Tak mengapa 

Aku akrab berteman rindu
 
Ia menyiksa tiap waktu
 
Menyuguhi secangkir air mata
 
Yang dinginnya membekukan luka

Januari, 2019

January 25, 2019

Temu Canggung Sahabat Lama

Source: Pixabay.com


Aku ingin bercerita tentang sebuah pertemuan. Sebenarnya bukan sebuah pertemuan istimewa, hanya pertemuan tak terduga dengan seorang sahabat kecil.

Saat itu di persimpangan jalan keluar pasar,  Seorang wanita paruhbaya yang sedikit gemuk, namum berwajah ceria, tiba-tiba menyapa ramah seraya tersenyum akrab kepadaku. Aku balas tersenyum canggung, dan tak lama muncul seorang wanita--yang awalnya kukira lebih tua beberapa tahun dariku.

Setelah berbasa-basi sedikitnya lima menit, tahulah aku bahwa dia merupakan sahabat lama. Tepatnya, dia sahabatku sejak kelas dua Sekolah Dasar.

Aku hampir tak mengenalnya, sebab kupikir hari itu dia tampak lebih langsing dan tinggi dari saat terakhir kali kami bertemu di rumahku sekitar 4 tahun silam. Terlebih lagi, sapuan makeup dan rona merah di bibirnya membuatku sedikit sulit mengenalinya.

Hari itu dia menyapa ramah. Di sampingnya, ayahnya muncul, menggendong seorang bocah lelaki kecil. Ah, aku hampir lupa bahwa sahabatku telah berkeluarga. Dan bocah lelaki itu adalah anaknya. Manis sekali, umurnya satu tahun setengah, dan dia tampak malu-malu menyambut tanganku yang terulur.

Sahabat yang satu ini, sebenarnya adalah salah satu sahabat spesial bagiku. Kami berteman sejak kecil. Aku masih ingat, bagaimana kali pertama kami saling menyebut nama di bangku barisan depan sewaktu kelas dua, dia gadis berambut kriting yang cerewet. 

Hari-hari berikutnya, kami lekas menjadi akrab karena jalan memuju rumah kami ternyata sejalur, kami asyik berbincang pasal apa saja setiap pulang sekolah, mentertawakan setiap hal yang kami anggap lucu, dan kadang berhenti di bawah pohon manggis atau jajan makanan ringan berhadiah, lalu berpisah di persimpangan.

Kami akrab hingga kelas tiga, dan tahun berikutnya, aku memutuskan pindah dan bersekolah di kota.

...

Rasanya waktu melesat sangat cepat,  ketika terbangun di suatu pagi, aku menemukan diriku telah menjadi gadis berusia sembilan belas tahun. Dan masa-masa itu telah jauh tertinggal di belakang. Tapi beberapa waktu yang lalu aku baru menyadari, bahwa masa-masa SD ternyata lebih banyak membekas dalam kepalaku. Buktinya, aku masih menghapal nama-nama teman lama di kelas 1, 2, dan 3 . Sementara teman-teman SMP telah banyak yang kulupakan.

Mengenai sahabatku itu, kami pernah bertemu kembali sewaktu ia dan seorang sahabat lama lainnya mampir ke rumahku (kalau tidak salah sewaktu aku kelas 2 SMA). Kami pernah tertawa memikirkan masa depan, dan mengutarakan banyak keinginan.

Tapi, tentang apa yang disembunyikam masa depan, tak seorangpun tahu. Pun begitu tentang jodoh. Siapa sangka, dia bertemu jodoh lebih dulu daripada kami. Pada saat bersua kembali, dia memperkenalkan aku dengan keluarga barunya, dan seorang bocah lelaki yang begitu manis. Aku sekejap hampir tak percaya bahwa ia adalah gadis yang sama, yang dulu suka berebut ciki-ciki berhadiah denganku.

Aku menjadi berpikir, telah sedewasa apa aku sekarang?! Kadang-kadang, aku masih bertingkah seperti anak kecil, dan masih belum bijak menghadapi suatu masalah. Ada banyak hal yang mencuat dalam kepalaku setelah pertemuan itu.
Obrolan kami hari itu berhenti tak lama ketika suaminya muncul. Setelah pamit, aku dan ibuku bergegas menyetop angkot untuk pulang.

Dan yah. Untuk sahabatku; Kamu telah dewasa dan menjadi seorang ibu. Jujur, aku sempat merasa kecewa karena kamu tak mengundangku ke acara pernikahanmu, namun aku turut bahagia ketika melihat senyum memenuhi wajahmu hari itu. Kudo'akan, semoga selalu bahagia bersama keluargamu.

Ehem...

Semoga saja, aku lekas menyusul bertemu dengannya; dia yang masih dirahasiakan semesta~


dududu (auto nangkring di pojokan)

January 24, 2019

Kunyit, Kencur, Jahe, dan Lengkuas - Mengapa Cocok Ditanam di Pekarangan?



Ah, dasar bocah bau kencur!!!

Hiaaak, jadi ini artikel apasih? Pembukaan kok ya kayak begitu (monmaap manteman hihii).

Bercocok tanam di pekarangan adalah keharusan di rumahku. Yup, rumahku meski halamannya nggak terlalu luas, tapi tetap asri sebab dipenuhi oleh aneka tumbuh-tumbuhan. Mulai dari buah-buahan, sampe cabe-cabean dan segala macam bunga-bungaan. Ceritanya, ibuku memang hobi banget sama kegiatan bercocok tanam ini.

Lantas ada tanaman apa aja di pekarangan rumahku? Salah empatnya adalah rimpang-rimpangan ini; kunyit, kencur, jahe, dan lengkuas.

Keempatnya sangat cocok sekali mengisi daftar tanaman di pekarangan rumah. Mengapa? Ada beberapa hal yang menjadi alasannya nih. Yuk simak;

1. Mudah Ditanam

Pertama, jenis bumbu dapur yang biasa disebut rimpang-rimpangan ini termasuk tanaman yang mudah sekali tumbuh di tanah. Tak perlu jenis tanah khusus, pun tak perlu perawatan yang muluk-muluk.

Biasanya, jika sudah bertunas maka tanaman ini akan mudah sekali untuk tumbuh subur. Kalau sudah tumbuh dengan baik, tinggal ditunggu saja sampai ber-umbi supaya bisa dipanen.

2. Tidak Menghabiskan Banyak Lahan

Nah, rimpang-rimpangan ini selain mudah untuk ditanam, juga tidak bakal menghabiskan banyak lahan. Kita bisa menanamnya di pojok pagar, di sela-sela tanaman lain, atau kalau mau praktis sih bisa ditanam di dalam polybag. Karena daunnya tidak rimbun dan tidak pula memiliki batang yang menjulang tinggi, maka kita tak perlu cemas rimpang-rimpangan ini akan membuat halaman menjadi semak.


3. Sangat diperlukan untuk kebutuhan memasak.

Kunyit, Kencur, jahe, dan Lengkuas merupakan bumbu dapur yang bisa dibilang hampir selalu hadir di dalam wajan masakan. Apalagi masakan bersantan, pasti membutuhkan tambahan kencur, kunyit, dan lengkuas sebagai bumbu supaya masakan berasa sedap.

Saat hendak memasak, tak jarang kita malah kehabisan stok salah satu di antaranya. Mau beli ke warung, rasanya malas keluar rumah. Mau nungguin mamang sayur, tapi kok nggak muncul-muncul yaa. Nah, menanam ketiganya akan sangat membantu sekali untuk memenuhi stok bumbu dapur kita pada saat dibutuhkan.

4. Bisa dijadikan sebagai ramuan herbal

Selain sebagai bumbu dapur, ketiga rimpang-rimpangan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan membuat ramuan herbal. Misalnya saja, meminum air rebusan kunyit secara rutin sangat baik untuk kesehatan pencernaan. Tentu saja, selain itu ada banyak lagi manfaat-manfaat lain dari tanaman-tanaman tersebut yang mana tak bisa disebutkan satu persatu.



Kesimpulannya, rimpang-rimpangan ini adalah tanaman yang kaya bermanfaat, dan dapat tumbuh dengan mudah di pekarangan rumah. Kamu bisa mulai menanam  agar dapat merasakan manfaatnya di kemudian hari :)

January 22, 2019

Life of Pi - Yann Martel: Kisah Luar Biasa di Tengah Samudra Pasifik



Identitas Buku:

  • Judul : Life of Pi
  • Penulis : Yann Martel
  • Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit : Juli 2017 (Cetakan ke-9)


Life of Pi - Setelah usai menonton filmnya, aku tak berhenti terkagum-kagum dan mulai berpikir bagaimana ya cerita ini ketika masih dalam bentuk novel?!

Beruntungnya, beberapa bulan kemudian, ketika tengah asyik mencuci mata dengan memandangi jejeran novel-novel kece di rak-rak Gramedia dan berkhayal bisa memborong semua-muanya, tiba-tiba retinaku bersirobok dengan sebuah judul novel yang terpajang di salah satu rak. Waaah, beruntung kutemukan satu novel Life of Pi yang terakhir di rak tersebut. 

Sebelumnya, tak ada niatan membeli, tapi setelah menyentuh novel yang masih terbungkus rapi itu, kok ya tiba-tiba pengen beli. Tuhkan, semenjak beberapa waktu ini, keinginan memboyong minimal satu buku setiap masuk Gramedia rasanya begitu tak tertahankan (sadar duit woii).

Namun usai membacanya, aku tak menyesal telah membelinya. Kisah ini, ketika disampaikan lewat novel, ternyata jauh lebih menggairahkan, dan begitu mengharukan.

2017 lalu aku sempat menulis ulasan (kalau boleh dibilang begitu) singkat tentang filmnya. Monggo, bisa dibaca di sini. Sebenarnya, sudah sangat terlambat bagiku baik untuk menonton filmnya maupun membaca novelnya; harusnya udah dari dulu-dulu dong. Tapi tak apa, aku tetap senang karena telah membacanya.

Hari ini, setelah dua kali tamat membaca novelnya, aku tak kuasa untuk kembali mencoret-coret dinding rumah ini.

Life of Pi, seperti yang sempat kutulis di artikel yang dapat dibaca pada link di atas, merupakan sebuah novel terkenal karya penulis asal Kanada, Yann Martel. Novel ini pun telah difilmkan pada tahun 2012 dengan judul yang sama, yang disutradarai oleh Ang Lee.

Life of Pi menceritakan kisah hidup seorang pemuda India bernama Pi, yang terombang-ambing di tengah Samudra Pasifik bersama seekor harimau Bengal di dalam sekocinya. Setelah membaca novelnya, aku mendapati beberapa perbedaan adegan pada novel dan film. Tentu merupakan sebuah hal yang wajar terjadi ketika sebuah novel difilmkan. Namun, secara keseluruhan sih inti ceritanya tetap sama. 

Baik versi Novel dan Film, dua-duanya sama-sama kunikmati dengan sepenuh hati (*whoaa). Tapi bagi orang seperti aku yang hobi membaca, tentu saja masuk ke kisah hebat terombang ambing di Samudra Pasifik itu begitu terasa nikmat lewat sajian kalimat per kalimat Yann Martel dalam novelnya. 

Life of Pi, merupakan kisah yang indah, mengagumkan, dan menyentuh hati. Kubayangkan banyak hal ketika menyusuri samudra bersama tokoh Pi, kurasakan ketakutan yang sama ketika membayangkan sosok Richard Parker. Ah, bagaimana jika aku yang terdampar di dalam sekoci itu, tanpa harimau saja kupikir aku pasti sudah mati. Apalagi harus berbagi tempat bersama seekor harimau.

Namun, pertama kali membaca Novel tersebut, aku sedikit merasa bosan di lembar-lembar awal yang bercerita banyak soal Sloth (yang mana aku gatau bentuk hewan itu, jadi kubayangkan saja seekor tupai). Namun semakin memasuki lembar berikutnya, aku semakin tertarik, dan bahkan kerap mengulang dan berhenti sejenak di beberapa paragraf yang kuanggap menarik.

Di dalam sinopsisnya, ada kalimat yang bilang bahwa kisah ini akan membuat orang percaya pada Tuhan. Yup, Yann Martel tak hanya menulis kisah biasa. Ia juga menyelipkan unsur tentang "Tuhan" yang telah muncul sejak awal hingga kisah ini berakhir. Tentang bagaimana anda mempercayai Tuhan di babak-babak tersulit dalam hidup. Yang menarik, adalah tentang bagaimana tokoh Pi ini melihat Tuhan dari sudut pandangnya. 

Tapi, bagimanapun, ini adalah sebuah kisah. Pada akhirnya sebagai pembaca, kita bisa memilih bagian-bagian yang dapat kita ambil pelajarannya.

Yann Martel menuliskan adegan-adegan dengan begitu rinci. Ada saat-saat yang serius, saat-saat mengharukan, di beberapa bagian lainnya pembaca seolah diajak merenung sejenak, dan ada juga bagian-bagian yang membuatku sedikit tertawa. Ada banyak pelajaran di setiap lembarnya, tak kusangka endingnya pun sangat berkesan.

Beruntung, aku telah menonton filmnya terlebih dahulu. Mengapa? Sebab di dalam novel, sebagian latarnya adalah di dalam sekoci yang terapung di lautan lepas. Aku tidak begitu paham bentuk sekoci itu, dan bagian-bagiannya juga. Banyak benda dan bentuk yang tidak kumengerti, namun imajinasiku terbantu berkat telah menonton film ini sebelum membaca novelnya.

Overall, ini masuk dalam list novel Favorite deh. Penasaran kisah ini, silahkan dibaca sendiri :)


January 21, 2019

Memutuskan Kembali Ngeblog


Benarlah kata orang-orang, Ain't no place like home.


Akhirnya setelah sekian lama melanglang buana ke antahbarantah;  dari menyusuri gua, menelisik semak perdu, menjelajah pesisir pantai, hingga terjatuh ke dasar jurang, dan hanyut terbawa derasnya arus sungai (apasih?!),  pada akhirnya jalan yang kususuri kembali membawaku pulang.

Hah! Itulah anehnya perjalanan, bukan?! Kemanapun langkah membawamu, sejauh apapun jarak kau ciptakan. Pada akhirnya, kau akan kembali ke rumah. Di situlah rindumu bermula dan berakhir. Ya, kodratnya begitu; kau selalu kembali.

Oh, aku tidak sedang membicarakan kisah kembalinya seseorang dari petualangan hebatnya di seberang samudra. Tidak, tidak! Aku membicarakan aku. Aku yang telah setahun lebih meninggalkan rumah ini. Aku yang begitu tak berperasaan menelantarkan rumah yang dulu telah kubangun dengan kebanggaan.

Angin yang bertiup lembut di suatu malam membisikkan rasa kerinduan, itu terjadi suatu ketika saat aku tanpa sengaja menemukan sebuah postingan mengenai sebuah kompetisi blog bertajuk "Kompetisi Blog Nodi dengan tema Bangga Menjadi Narablog Pada Era Digital" yang diposting oleh akun instagram @nodi_harahap.

Saat itu aku terkesiap, sejenak teringat bahwa aku pernah memiliki blog, dan sekarang pun masih ada. Tiba-tiba aku merindukan blog-ku, sehingga aku kembali ke sini.

Kubuka kembali pintunya dengan anak kunci setengah berkarat. Pintu berderik, seolah marah karena aku telah berani kembali. Di dalam, suasananya gelap, lampu-lampu telah padam, beberapa tanaman liar telah merambat masuk melalui ventilasi jendela, di sisi lain kudapati sarang laba-laba menghiasi setiap sudut rumah, kudengar bunyi kelelawar-kelelawar yang terusik akibat kehadiranku, untung saja tidak muncul sosok berbalut kain putih lusuh yang dapat melengkapi suasana mencekam ini. Ah, tidak terbayang olehku!

Aku menarik napas dalam-dalam, menyesap aroma kelegaan untuk mengusir rindu. Lemari arsipku masih berdiri kokoh. Kubuka, dan kutelusuri isinya. Desember 2017, merupakan kali terakhir aku meninggalkan jejak di rumah ini. Terhitung setahun lebih aku menelantarkan rumah ini. Keterlaluan sekali!

Dulu, aku begitu bersemangat untuk berada di sini, menghias rumah ini dengan celoteh-celoteh yang kutuang dalam bentuk tulisan. Menginspirasi dan berbagi cerita sebagai seorang Blogger, begitu kataku waktu itu.

Dulu rumahku tidak mewah (sekarang pun masih), tapi cukup luas dan nyaman untuk menampung aku dan segenap ceritaku.
Ada banyak cerita yang kubagikan di sini, namun kemudian aku merasa jenuh, dan memutuskan bertualang ke tempat lain. Waktu itu, aku masih sering kembali dan menulis di sini. Namun suatu ketika aku menemukan sebuah platform menulis (yang mana kusebut sebagai istana); yang jauh lebih mewah, jauh lebih ramai, serta jauh lebih menjanjikan.

Kuputuskan untuk menetap di sana, bercengkrama dengan sesama penghuninya. Mereka baik, dan aku bahagia. Lalu (kurasa) aku mulai melupakan rumah ini hingga tak tersentuh sedikitpun di tahun 2018. Aku tak lagi berbagi di sini, berpuluh-puluh bahkan ratusan kisah baru kutinggalkan di istana itu.

Kemudian, dalam petualangan itu, aku kembali tiba di titik jenuh. Sehingga menjelang akhir tahun 2018, aku memutuskan hiatus berbulan-bulan. Dan kini, aku ingin kembali ke rumahku sendiri. Maka, dengan perasaan tidak tahu malu, aku kembali menjejakkan tulisan di sini. Pada Januari 2019 ini, di sini aku memulai semuanya dari awal.

Yeay, selamat datang kembali!!!!!!!

Sedikit cerita, blog ini adalah rumah pertamaku dan satu-satunya pula, kubangun pada akhir 2015, sekitar bulan Oktober kalau tidak salah. Mengapa pada saat itu tergerak untuk membuat sebuah blog? Alasannya tidak muluk-muluk, sebab aku suka mencoret-coret, berkeluh kesah, dan berbagi apa saja lewat tulisan. Dulu, aku masih menggunakan domain gratisan, dengan nama nissachan26.blogspot.com.

Jadi, jika dihitung sejak Oktober 2015, maka blogku berumur 3 tahun beberapa bulan. Lumayan berumur, namun pengetahuanku tentang dunia blogging boleh dikatakan masih sangat minim. Namun, semakin memasuki dunia ini, aku semakin menyukainya. Di zaman dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang ini, di mana kebanyakan orang lebih memilih eksis di medsos, aku lebih memilih menjadi seorang Narablog.

Rasanya menjadi seorang Narablog itu mengasyikkan. Lewat ngeblog aku bisa menulis berbagai kisah, aktivitas keseharian, dan berbagai hal lainnya. Terkadang, dari sebuah kisah yang kita tulis, akan membawa kita menelusuri cerita orang lain yang serupa. Seru dan menyenangkan ketika membaca kisah-kisah lainnya. Di dunia blogging pula, aku dapat menemukan banyak kisah-kisah inspiratif untuk kucuri hikmahnya. Selain itu, menjadi seorang Narablog yang suka menulis kisah sehari-hari, membuatku bisa mengingat proses yang pernah kulewati. Sesimpel itulah alasanku.

Well, karena baru kembali, kuhadiahkan sebuah renovasi untuk menembus kesalahanku selama setahun ini. Dan jrengjengjeeeeeng..... sebuah domain baru yeay! nissachan26.blogspot.com sudah berganti menjadi anisaarpan.com. Semoga bisa menjadi bukti keseriusan dan kekonsistenan diriku untuk menghidupkan rumah ini.




Jadi, resolusi di 2019 ini nggak muluk-muluk.

Pertama, aku ingin meninggalkan rasa malasku.

Kedua, Kembali konsisten menulis setiap hari kalau bisa. Berbagi kisah apa saja, dari yang receh hingga yang semoga saja bisa menginspirasi.

Ketiga, Menulis dan terus menulis.

Keempat, aktif mengikuti berbagai kompetisi Blog untuk mencari teman dan pengalaman (yang kumulai dengan mengikuti Kompetisi Blog Nodi ini).

Kelima, mulai memperluas ilmu di dunia blogging dan mencari teman sesama Blogger sebagai wadah belajar dan saling berdiskusi. Wahai Blogger-Blogger kece, merapatlah kemari :D

Yah, demikianlah cerita dan sederet resolusiku di tahun ini. Bismillah, semoga semangat ini tetap terjaga dengan baik.