December 12, 2017

Suatu Sore di Taman Pantai Berkas

Menjelang liburan semester yang bakalan tiba dalam beberapa minggu lagi, saatnya nge- list tempat-tempat wisata menarik buat dikunjungin waktu liburan nanti. Terkhusus anak kuliahan seperti saya selama satu semester dikejar tugas, laporan, dan uas. Udah saatnya melepas unek-unek di kepala dengan jalan-jalan :D

Bumi Rafflesia nggak ada habis-habisnya selalu menghadirkan tempat wisata baru yang super kece buat jadi tongkrongan untuk mengisi waktu liburan. Setelah sebelumnya saya membahas tentang 
Namanya Taman Pantai Berkas. Taman yang terbilang baru di Kota Bengkulu ini cocok banget buat masuk ke list tempat wisata yang wajib kalian kunjungin kalo liburan ke Kota Bengkulu. Berlokasi di Jalan Pariwisata Pantai Berkas, oleh karena itu dinamakan Taman Pantai Berkas.


Apalagi kalau habis jalan-jalan ke Pantai Panjang, harus mampir juga ke wisata Taman Pantai Berkas ini karena letaknya yang masih berada di kawasan pantai, persis di pinggir pantai.

Jadi sebenarnya ini taman apa ya?

Taman Pantai Berkas merupakan salah satu ikon wisata baru di Kota Bengkulu yang letaknya di pinggir pantai, nggak jauh dari kawasan bertuliskan Pantai Panjang, kok. Jadi, kawasan taman ini sengaja dibangun sebagai tempat tongkrongan baru buat yang pengen menikmati pantai dengan santai.

Ikon utama yang menarik dari Taman Pantai Berkas sendiri yaitu adanya jembatan panjang yang dibangun meliuk di sepanjang kawasan taman. Jembatan setinggi kurang-lebih dua hingga tiga meter tersebut dibangun menghadap ke muka pantai. Dengan lebar sekitar dua meter, pengunjung dapat menapaki jembatan sambil menikmati terpaan angin dari pantai.


Pengunjung dapat menaiki jembatan dari dua jalan masuk yang disediakan,





Berjalan-jalan di sepanjang jembatan sambil menikmati angin pantai yang berasa sejuk. Selain itu, sisi jembatan yang menghadap ke pantai menyajikan pemandangan lautan luas dari bibir pantai hingga ke tengah lautan.


Spot yang satu ini menjadi salah satu spot yang kece untuk melihat senja karena dari jembatan pandangan langsung tertuju pada lautan lepas tanpa dihalangi oleh pepohonan pinus.

Biasanya pengunjung menjadi sangat ramai menjelang sore, selain berselfie ria di sepanjang garis jembatan, pengunjung akan berkumpul untuk menunggu matahari terbenam dari sudut jembatan, mengabadikan momen saat air laut sahut-sahutan menyapu bibir pantai.


Sejuk menjadi kesan pertama saya saat menapaki jembatan Taman Pantai Berkas. Di sisi taman, terlihat kumpulan remaja yang asyik beryanyi sambil bermain gitar, menikmati senja yang terlihat malu-malu di balik awan mendung di ujung pantai.

Di bawah jembatan, ditata bangku-bangku yang dilapisi kayu sebagai tempat bersantai bagi pengunjung. Di salah satu bagian taman juga dibangun arena khusus bermain skateboard, meskipun kecil tapi arena tersebut sudah cukup memuaskan bagi mereka yan hobi bermain skateboard.

Ada juga taman bermain untuk anak-anak yang dibangun di samping arena skateboard. Ayunan dan sejenisnya melengkapi fasilitas kece yang ditawarkan Taman Pantai Berkas.

Di sepanjang pinggiran taman, penjaja makanan siap melayani perut-perut yang kelaparan. Udah pas banget, makan sambil bersantai di taman ini. 




June 30, 2017

Last Day #NulisRandom2017



30 Juni 2017.
Ternyata kita sudah di penghujung kegiatan Nulis Random 2017. Saya tidak tahu harus senang atau bahkan sedih?!
Senang karena di hari ke 30 ini artinya saya telah menyelesaikan misi untuk konsisten menulis setiap hari. Sedih juga karena kegiatan yang bermanfaat ini akhirnya akan berakhir. Lantas apakah setelah ini saya, kalian, kita akan terus menulis? Bukan,Masalahnya apakah selepas berakhirnya kegiatan nulis random tahun ini kita masih terus konsisten menulis setiap hari? Saya harap ya!!
Saya ingat betul, sebuah kiriman dibagikan ke beranda facebook saya akhir Mei lalu. Saya yang tertarik sejurus mengklik kiriman tersebut. Sebuah tulisan dari kak Brilliant Yotenega di grup Nulisbuku Community. Beliau mengajak setiap yang melihat kiriman tersebut untuk mengikuti kegiatan nulis randomnya. Kegiatan macam apa? Pikir saya kemudian. Saya membaca dengan seksama. Beliau mengajak setiap orang untuk membiasakan diri menulis, menulis apa saja, bisa berupa cerpen fiksi, cerita perjalanan dan pengalaman, mendeskripsikan gambar, memberi kritikan, atau sekedar coret-coretan kegalauan yang dialami setiap hari. Temanya bebas, apa saja. Menulisnya pun bebas, boleh dimana saja, di beranda facebook, di blog, atau di Instagram juga tidak masalah. Yang penting adalah konsisten setiap hari. Kegiatan diadakan di bulan Juni, dari tanggal satu hingga berakhirnya Juni.
Saya menanggapinya sebagai sebuah tantangan. Saya memang gemar menulis, namun hanya menulis jika saya tengah kosong dan saat mood saya tengah meledak-ledak. Bermodalkan sebuah blog gado-gado yang saya bangun tiga tahun silam dan hanya berisi belasan artikel random, saya dengan semangat menyatakan perang pada nulis random.
Saya tidak bisa mengekpresikan semangat api yang membakar jiwa saya, seolah diwarisi oleh kak Naruto dari desa Konoha Gakure-nya. Saya sudah berandai-andai tulisan apa saja yang akan saya bahas, tema apa yang akan saya usung. Sebenarnya saya hanya mengikuti kegiatan yang sederhana, tidak ada hukuman untuk yang gagal, tidak ada hadiah untuk yang manang. Namun, saya hanya memikirkan untuk menyelesaikan misi saya, menulis dengan konsisten setiap hari. Peduli apa dengan semua itu? Saya hanya bersenang-senang dengan menulis. Motivasi menulis pun tidak bosan-bosannya saya tanamkan dalam batin saya, saya akan malu pada diri sendiri jikalau saya gagal.
Oke! Tiga puluh hari bukan waktu yang lama! Perang tulisan dimulai!!
Saya bahkan sampai menyetel alarm pukul enam pagi untuk mengingatkan agar saya menulis. Itu berhasil. Saya mencoba menulis yang terbaik setiap hari, memilih-milih tema dengan seksama. Saya menulis review tentang film kesukaan saya, menulis review lagu kesukaan saya, mencoba membuat artikel dengan baik dan benar, terkadang juga memberikan tips-tips yang saya tulis sendiri. Awalnya benar-benar terasa enteng. Ah, saya yakin bisa menyelesaikankan tiga puluh hari ini dengan mudah. Bahkan saking semangatnya, saya sudah memikirkan ancang-ancang untuk tulisan saya besok hari dan lusa.
“Saya mau menulis Review film ini deh besok” ucap saya suatu ketika usai menonton salah satu film terbarunya Jackie Chan.
“Apa salahnya kalo saya menulis tentang tips ini. Yang penting bermanfaat. Lusa temanya ini aja deh!”
Bak laron-laron yang menyerbu lampu, ide-ide datang dan berputar-putar di kepala saya. Tentu saya tidak bisa menulis semuanya dalam satu waktu. Saya mulai mengumpulkan apa yang terlintas di kepala saya, menulisnya langsung di laptop, kadang di kertas dan tak ketinggalan draft hape saya mulai penuh dengang potongan-potongan tulisan.
Saya mulai merasakan jiwa menulis saya. Lambat laun saya mulai menikmati tarian jemari saya di atas papan keyboard. Saya mulai menikmatinya seperti melahap nasi beserata lauk-pauk kesukaan saya. Teman saya pernah bilang, menulis itu panggilan alam, kamu tidak bisa memaksakan diri untuk selalu menulis. Kalau begitu, saya ingin menyatu dengan alam agar bisa kapan saja memanggil mood untuk menulis.
Hari-hari awal berjalan dengan lancar. Tidak terasa hari kesepuluh sudah saya lewati. Wah, sisa dua puluh hari lagi. Sepertinya waktu tidak berjalan cepat seperti bayangan saya, waktu berjalan normal. Godaan-godaan terus menghampiri saya, berusaha menghentikan langkah saya yang sudah seperempat jalan itu. Rasanya musim laron sudah berakhir, kini lampu yang menyala itu tidak lagi diputari oleh segerombolan ide-ide yang berterbangan. Singkatnya, saya mulai kehabisan ide. Seperti saya katakan, saya sudah seperempat jalan. Tapi seperempat belum sampai setengah tentu saja. Saya masih lebih dekat dengan garis start. Tidak mengapa jika saya berhenti sekarang.
Aaah!! Apa yang saya pikirkan? Bukankah saya harus menyelesaikan misi? Pikir saya. Ibaratnya lomba lari, saya sudah melewati garis start lalu berlari seperempat putaram, alangkah malunya jika saya berbalik kembali dan menyatakan menyerah? Beruntung, semangat api dari kak Naruto rupanya masih menyisakan bara yang bisa terus saya tiup agar api saya tidak mati merkipun saya kehabisan kayu bakar. Bermodalkan semangat dan ide-ide yang tersimpan di draft hape, saya meneruskan perjuangan menulis. Saya menulis apapun yang ingin saya tulis.
Bukan hanya saya yang berjuang disini, bukan? Dalam waktu senggang saya juga membaca tulisan-tulisan teman-teman seperjuangan di kolom komentar kiriman kak Brilliant Yotenega untuk menambah semangat dan mencari referensi dalam menulis.
Hari ke dua puluh sudah terlewati! Ah, saya sudah lewat setengah putaran. Saya sudah tidak melihat garis start lagi. Sisa sepuluh hari yang harus saya habiskan untuk memenangi perang. Ayoo, semangaaat!!!
Tik tok tik tok!
Hari ke dua puluh satu. Sepertinya waktu berjalan sedikit lambat. Semakin saya mendekati garis finish, godaan yang saya terima semakin besar saja. Dari pagi hingga sore hari saya disibukkan dengan urusan perkuliahan saya yang belum selesai. Harus daftar ulang lah, mengurus berkas lah, mendaftar PKK lah, ya begitulah keseharian saya saat mendekati garis finish. Sampai-samapi laptop kesayangan tergeletak begitu saja. Ditambah lagi semangat api saya sepertinya sudah benar-benar padam. Hanya tersisa abu saja. Saya tidak punya kayu bakar lagi. Saya pikir sudah cukup sampai disini saja, sepertinya saya tidak akan berhasil. Entah mengapa saya begitu malas kembali menulis.
Tapi heeey!!! Saya menjadi gelisah juga jika belum menulis pada hari itu. Sepertinya saya sudah mendapati menulis sebagai suatu kesukaan saya, suatu kewajiban yang membuat jiwa saya resah tatkala tidak mengeluarkan unek-unek saya dalam bentuk tulisan. Yaa, belum lagi mencapai garis finish, saya sudah merasakan hasilnya. Ini yang saya mau, menyatu dengan alam jika memang menulis adalah panggilan alam.
Disela-sela waktu, saya masih memperhatikan tulisan teman-teman yang lain. Ada yang menulis cerita jenaka sehingga saya tertawa terbahak-bahak, ada juga tulisan penuh makna milik Ayu Emiliandini, ada juga Dear Facebook yang ditulis konsisten dari awal hingga akhir oleh Selvia Lusman, ada juga member yang begitu semangat selalu memberi like dan mengingatkan yang lain agar tidak lupa menyetor tulisan, Fika Gobel kalau tidak salah namanya. Semua masih berjuang dengan cara yang berbeda, dengan semangat yang tidak pernah putus. Kak Brilliant Yotenega juga selalu memberikan motivasi setiap memulai hari. Betapa malunya saya jika mengakhiri kisah seru ini hanya sebatas setengah perjalanan. Ya, saya harus lanjut hingga ke garis finish.
Saya selalu menyempatkan diri untuk menulis baik disela-sela menunggu waktu berbuka puasa, sehabis pulang tarawih dan saat menunggu adzan subuh usai makan sahur. Saya masih menulis, meskipun saya kedapatan hampir terlambat saat memposting di blog saya dan membagikannya di kolom komentar nulis random. Manulis apa saja, saya meulis keresahan saya. Saya masih menulis dan selalu menulis hingga terbentuknya tulisan ini dan Insyaallah sampai kapanpun.
Dan tulisan ini melengkapi satu bulan saya yang berjuang bersama nulis random untuk menjadi konsisten menulis. Tulisan ini mengantarkan saya pada kemenangan dalam perang besar ini. Tentu saja bersama teman-teman yang lainnya. Tapi tulisan ini bukan akhir dari perjuangan, saya masih akan terus hadir dengan tulisan-tulisan saya meskipun bukan untuk di setor di blog. Karena menulis akhirnya menjadi bagian dari diri saya.
Melalui sebulan bersama nulis random tidak hanya menjadikan saya konsisten menulis. Ada lebih banyak hal yang saya dapatkan. Saya mencoba melatih skill  menulis saya yang masih berantakan, juga mengorek ide-ide baru malalui tulisan teman-teman yang laiinnya.

Kesimpulannya, saya senang menulis, semua senang menulis. Tinggal bagaimana caranya agar menjadi konsisten dalam mengekspresikan tulisan kita, seperti sebuah kebutuhan. Memang godaan akan terus datang, godaan itu datangnya dari diri sendiri. Yaap!!! Seperti yang Harris J sampaikan pada singlenya yang berjudul Save Me From Myself, bahwa musuh terbesar kita dalah diri sendiri. Rasa malas. Jika kita bisa melawannya, maka kita bisa memenangkan pertarungan.

June 28, 2017

Untuk Sahabatku: Move On dan Cinta




Untuk sahabat baikku,
Aku ingat harus menjawab pertanyaan yang kau utarakan tempo hari di taman kota.
Saat itu kau menangis terisak-isak, matamu sampai lebam karena terus menerus kau paksa bekerja mengalirkan buah kesedihan. Kulihat kau tidak berdaya kala itu.
Aku ingat kau memelukku. Aku membalasnya sambil menepuk-nepuk pundakmu, sesekali kubelai kepala yang berbalut jilbab merah marun itu. Tiada kata yang kau ucapkan dalam waktu yang lama hari itu. Sampai matahari bertahta di ujung barat, sinar jingganya menyadarkan kita dari lamunan. Kupikir pertemuan itu akan benar-benar berakhir tanpa kata hingga kau bangkit dan tersenyum padaku,

“Apakah move on itu ada?” Tanyamu.

Kemudian kau berjalan pergi.
Sebaris  kalimat yang keluar dari bibirmu membuatku lega. Aku tahu kau tengah berjuang melawan perasaanmu. Teruslah begitu, ya!
Hari itu aku ingin mencoba menjawabnya. Lagi-lagi masalah hati dan cinta yaa..

Apakah move on itu ada?
Aku tidak tahu. Aku harap itu tidak ada.

Sahabatku,
Ada teori cinta yang pernah aku baca, aku sering kali menulisnya,
Ketika kau dilahirkan, kau hadir dengan sebongkah hati.

Apa kau tahu? hatimu itu punya banyak sekali ruang, kau bisa masukkan siapa saja yang kau sayang dalam setiap ruangnya. Lalu kau bisa menguncinya. Dan suatu waktu pun kau bisa menelantarkannya, membuangnya dari ruang itu jika kau dapati kau beralih membencinya. Tapi ada satu ruangan terlarang di sana, ruangan yang selalu terbuka, kau tak punya kendali atasnya. Tepatnya ruangan tak berpintu sehingga siapapun bisa masuk dan keluar.

Ketika kau jatuh cinta itu artinya kau membiarkan dia menerobos ruangan itu. Saat itu terjadi, Hati-hati! dia bisa mengobrak-abrik isi hatimu, membuat perasaanmu tak menentu, menghiasi hatimu dengan seribu mawar merah sehingga kau jadi berbunga-bunga dibuatnya, namun bisa juga dia hancurkan hatimu.
Tidak mudah menuntunnya keluar dari sana. Meskipun berhasil kau campakkan dia keluar, bukankah jejaknya masih tertinggal?

Sahabatku,
Masalahnya bukan pada itu, percayalah kau tidak membutuhkan yang namanya move on. Rasa ingin melupakan itu hanya muncul karena kau merasa lelah mencintai, muak dengan takdir yang tak kunjung mempersatukan.

Sahabatku,
Jika ingin kecewa, silahkan saja.
Kalau merasa tidak bisa membendung air matamu lagi, menangislah.
Hati ini rumit, sahabatku.
Kau hanya merasa lelah, beristirahatlah sejenak di bawah pohon nan rindang itu, nikmatilah angin sepoi-sepoi, rasakan matahari menyengat kulitmu. 

Sahabatku,
Tempat yang sama hanya menghasilkan ingatan pada kenangan yang sama. Kenangan pahit untukmu. Carilah tempat lain untuk bersinggah, tidak masalah jika kau masih mencintainya, cintai juga yang lain. Biarkan yang lain memasuki labirin hatimu untuk menghapus jejak yang tertinggal.

Sahabatku,
Kau tidak perlu memaksakan hatimu untuk melupakannya.
Selama kau punya hati, pasti selalu ada rasa sakit.
Aku pernah membaca sebuah quotes dari seorang penulis kisah cinta termahsyur, begini tulisnya;

"If you love and get hurt, love more.
If you love more and get hurt more, love even more.
 If you love even more and get hurt even more, love some more.
Until it hurts no more! "- William Shakespeare

Entah mengapa motivasi tersebut sangat cocok untukmu.

June 25, 2017

Juni dan Do'a




Serumit apapun masalahnya,
Ingatlah Tuhan.
Tuhan tidak menelantarkanmu,
tidak pernah mengabaikanmu,
tidak mengalihkan pandangan-Nya darimu.
Kenapa Tuhan harus perduli dengan keinginanmu sementara Dia tahu kebutuhanmu?
Tuhan,
Biarkan aku tetap bernaung dibawah kuasa-Mu.
Apapun yang terjadi, kemanapun aku melangkah.
Terus dekap aku dalam buai kasih-Mu.
Karena tanpa-Mu, aku bahkan lebih hina dari sebutir debu.

June 24, 2017

Untukmu, Pangeran



Untukmu, Pangeran
Ditulis dengan cinta, tapi tak perlu kau baca dengan hati



Kudengar katak-katak bernyanyian riang.
Kudengar gemeresik dedaunan dihantam angin.
Pun kudengar suara bebek-bebek yang kehujanan.
Kudengar banyak hal, tapi sepasang retinaku menangkap sosokmu di ujung jalan kecil itu. Kau tertawa lepas dan aku memperhatikan.

Malam yang sendu kala itu, aku ingin kembali menulis untukmu. Surat cinta lagi. Ya, masih tertuju padamu. Apa kabar, Pangeran? Masih terbangunkah dirimu? Boleh kan jika mengenang sedikit cerita kita? Tak mengapa, tutup saja matamu jika tak ingin peduli. Himpitkan kedua telingamu di antara kasur dan bantal empukmu. Lamunkan pekerjaanmu yang bertumpuk itu agar tak kau dapatkan wajahku mengganggu mimpimu.

Untukmu, Pangeran.
Aku tak pernah punya alasan lebih mengapa selalu menggores cerita kita pada selembar kertas. Baiklah! Kurasa lebih pantas disebut ceritaku. Aku selalu ingat kali pertama kita bertemu di suatu malam. Bukan purnama yang mempertemukan kita, hanya semburan ombak ganas yang membawamu ke hadapanku. Mentari tak memperlihatkanmu, melainkan gemuruh ricuh dari kumpulan petir. Hujan saat itu mengisi halaman pertama dalam lembaran baru, aku dan kau.

Untukmu, Pangeran.
Mungkin untuk waktu yang lama, aku terjebak dalam rasa, terbuai oleh ilusi. Satu-satunya yang dapat aku lakukan adalah menghayalkanmu. Mengharap pada apa yang sulit terjadi. Menunggu apa yang tidak sekalipun pernah menghampiriku. Mendamba apa yang jelas-jelas bukan milikku. Harus aku katakan bahwa aku tak pernah mengerti dirimu. Tapi parahnya, aku lebih tidak mengerti diriku. Misalnya, saat acap kali pertanyaan ini meletup dalam kepalaku, mengapa aku jatuh cinta padamu?

Untukmu, Pangeran dengan senyum menawan.
Mencintaimu adalah anugerah, menunggumu adalah perjuangan, menulis tentangmu bukan sekedar mengusir jenuh, inilah caraku mengungkap rasa yang terus mendesak hati serta menuang kata demi kata yang tak sanggup kuucapkan. Beginilah catatan keresahanku. Isinya sekedar kejujuran dari dalam hati kecil, rasa yang terus aku kirim tapi tak pernah sampai pada dirimu. Ya, Pangeran.

Untukmu, Pangeran
Aku tidak bisa bertahan dari pesonamu. Aku tulis sekali lagi, aku jatuh cinta padamu. Terdengar sedehana. Tapi kau tahu? Rasanya menusuk hatiku. Entah kapan cinta itu dengan lancang mendobrak pintu, tanpa permisi menerobos masuk lalu mengobrak-abrik hatiku, menempeli setiap sisi dinding merah kehitam-hitamannya dengan gambar wajahmu,  memenuhi setiap sudut dengan pigura dirimu yang tengah berpose gagah. Lucu ya...

Kapan kau akan membalas surat ini? Menulislah sekali untukku. Tidak perlu membuat janji, berbagi cerita saja sudah cukup. Boleh aku tanya sesuatu, sebenarnya ke mana kau bawa hatiku? Berlayar ke samudera tak berujung kah? Ah, sial! Aku terjebak rupanya. 

Tapi, Pangeran. Aku tidak egois, kok. Aku tidak sedang mendesakmu untuk membalas rasa ini. Coba baca kata-kata sok puitis ini; Saat kulihat mereka mendapati yang lebih dekat dan aku mendapati kamu makin jauh. Jalan ini terasa hambar. Tapi kuyakin Tuhan punya cara dalam menabur rasa dan warna. Siapa yang tahu, kehambaran ini kelak berubah menjadi lolipop aneka rasa, menyenangkan untuk dinikmati. Ilusi ruang hitam ini kelak dihiasi pelangi dan warna senja. Tangan Tuhan tak pernah salah mendekap, begitupun takdir. Mungkin kini saatnya aku percayakan alur cerita kita pada takdir. Saat nanti dipertemukan, aku pasti berjuang lagi. Anggaplah kamu sebagai hadiah terbaik dari kesabaran.

 Untukmu, Pangeran.
Sudahlah, jangan merasa canggung begitu saat membacanya. Kau tahu aku selalu mencintaimu meskipun tak pernah aku dapati rasamu untukku. Tidak mengapa. Bukankan cinta masih tetap buta? Cinta tidak kenal memilih, tidak bisa menunggu kapan hadirnya. Cinta akan tetap buta, kau tahu itu.

Untukmu, Pangeran.
Ditulis dengan sepenuh cinta, tapi tidak perlu kau baca dengan sepenuh hati.